Jumat, 31 Desember 2010

Agar Beruntung di Waktu Ashar



Ingatlah, ketika Allah pernah bersumpah, tentang waktu Ashar. Waktu, ketika orang-orang mulai banyak yang hendak pulang setelah seharian bergelut dengan urusan pekerjaan atau perniagaannya.

Waktu yang dijadikan batas perhitungan harian seseorang, apakah ia telah beruntung ataukah justru telah merugi, atas apa yang telah dikerjakan atau diusahakannya, pada saat hari itu juga.

Kata Allah, semua orang akan mengalami kerugian, di setiap saat perhitungan harian itu dilakukan.
Kecuali, bagi mereka yang beriman dan berbuat amal kebaikan. Mereka pun saling mengingatkan tentang kebenaran dan tentang kesabaran.

Untuk dapat beruntung, seseorang perlu beriman, perlu memiliki suatu dasar kepercayaan dan keyakinan yang kuat. Dasar keimanan dan keyakinan bagi umat Islam adalah Tauhid, pengakuan atas keesaan Allah dengan segala konsekuensi dan konsistensinya. Dan pengakuan atas kerasulan Muhammad SAW, sebagai pembawa ajaran Allah di muka bumi, dengan segala contoh dan tauladannya.

Untuk dapat beruntung, seseorang belumlah cukup dengan beriman saja. Keimanan perlu diwujudkan dalam perbuatan nyata. Karena, tanpa perbuatan nyata, sebuah keimanan nyaris terasa hampa dan hampir tiada guna. Seseorang yang beriman haruslah beramal shalih, harus berbuat kebaikan, bagi dirinya sendiri, bagi keluarga, kerabat, sahabat dan bagi sesama umat manusia.

Amal shalih, atau perbuatan yang baik itu adalah perbuatan yang dapat memberi manfaat bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Maka, perbanyaklah berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi diri dan bagi umat, agar kau dapat beruntung. 

Namun, untuk dapat beruntung di setiap hari secara terus-menerus, seseorang belumlah cukup hanya dengan mengandalkan keimanan dan amal shalih. Karena keimanan dan amal shalih, mengenal adanya pasang surut harian. Ada kalanya, berada pada posisi puncak saat ia sedang pasang, tapi ada kalanya pula berada pada titik terendah, saat sedang mengalami surut keimanan dan amal kebaikan.

Untuk dapat selalu beruntung, seseorang perlu adanya sistem pengingatan bagi dirinya. Saat ia berada di titik terendah yang sedang surut, perlu pengingatan kembali untuk selalu memegang nilai-nilai kebenaran. Dan, saat ia berada pada posisi puncak, saat sedang pasang, perlu selalu diingatkan terus agar ia mampu untuk mempertahankannya, dengan kesabaran.

Untuk dapat selalu beruntung, seseorang perlu diingatkan selalu untuk memegang teguh nilai-nilai kebenaran. Tapi, kebenaran belumlah cukup untuk mempertahankan keberuntungan. Seseorang haruslah selalu diingatkan dengan kesabaran.

Karena, seseorang yang berada pada jalan iman, sedang melakukan perbuatan yang baik dengan benar, akan selalu dibutuhkan adanya kesabaran untuk dapat mempertahankannya, agar ia selalu beruntung di setiap harinya.

Untuk dapat selalu beruntung, maka seseorang perlu sabar. Karena kesabaran itulah yang akan menjamin keberuntungannya di setiap hari di saat waktu Ashar tiba. Selanjutnya, .... bertawakallah kepada Allah, bersikap pasrah dengan ikhlas, menyerahkan sepenuhnya segala urusan dirimu kepada Allah. 

Cukuplah Allah yang menjadi wakil bagimu dalam mengurus segala urusanmu. Niscaya, kesabaranmu akan tiada batas .....

Kesabaran yang tiada batas, akan beroleh keberuntungan yang tiada batas pula .....

Milikilah semuanya itu ..... agar kita menjadi orang yang selalu beruntung, di saat kapanpun, dimanapun dan sampai kapanpun jua ......tiada batas pula .....

(Cuplikan dari bagian materi Novel Fakku Roqobah, karya Abdurrachman al Hakim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar