Sabtu, 10 November 2012

Bertemu Tuhan di Silang Monas


Oleh Sri Endang Susetiawati
Aku masih terduduk lelah di atas rerumputan malam silang Monas. Dari sebelah timur, aku pandangi terus puncak tugu berlapis emas itu. Mataku hampir tiada berkedip. Kilauan cahaya keemasan terus memantul ke segenap sudut pandangan. Kian menambah indah langit Jakarta yang telah berhias taburan bintang yang  terang berkerlipan.

Monas.... Aku sungguh terpesona oleh gemerlapmu. Aku sangat terpikat oleh keindahanmu. Sungguh, sinarmu begitu sangat kuat meneratas, lalu menghujam tepat di tengah kedua bola mataku. Aku merasa tersihir tanpa daya, untuk selalu mengagumimu, lebih dari seorang kekasih yang penuh damba.
Aku merasa sangat silau oleh cahayamu. Yang terus memancarkan sejuta angan dan impian. Mataku hampir tak kuat lagi untuk terus menatapmu. Aku merasa ingin langsung saja untuk segera mendekatimu. Aku akan mendekapmu dengan erat, tanpa sedetikpun akan kubiarkan engkau terlepas dariku. Kemudian, engkau akan kubawa jauh-jauh dan kumiliki untuk selamanya.
Hampir saja, niatku akan segera terlaksana. Tepat, saat aku melihat, ada sosok bayangan yang berkelebat. Aku urungkan niatku sejenak. Aku terus melihatnya. Dari pucuk tugu Monas itu, tiba-tiba ia meloncat. Lalu, ia melayang-layang sambil berputar-putar, bergerak kian kemari, menari-nari bagai suguhan sebuah akrobat yang sedang beratraksi. Seolah, ia ingin menunjukkan kepadaku, dan berteriak,Hei, lihatlah aku ! Sangat hebat, bukan ?” 
Kuanggukkan kepalaku satu kali. Aku bergumam, “Jujur, aku mengakui kehebatanmu”. Ia pun membalas dengan menganggukkan kepalanya, satu kali pula. Sedetik kemudian, terlihat jelas olehku, sosok itu tengah meluncur deras ke arahku.  Ia sedang bergerak turun dengan berlagak bak seorang jagoan superhero kesukaanku, Batman. Ia terus bergerak lurus, sambil tetap berdiri ia meniti segaris tangga cahaya.
“Wusss...” bunyi suara mengiringi kehadirannya.  Kini, sosok bayangan itu telah berada di hadapanku. Sungguh benar, ia sudah ada tepat di depanku. Hanya berupa bayangan hitam. Aku merasakannya, ia sosok yang sangat dingin, hampir tak berperasaan. Ia biarkan saja mataku memindai dengan sangat teliti, dari ujung rambut di kepala hingga ke ujung kaki. Anggap saja begitu, karena sesungguhnya rambut dan kakinya sama sekali tidak dapat aku lihat, kecuali hanya berupa bayangan hitam yang sangat pekat.
Dinginnya udara malam telah membekapku. Seiring rasa takut yang amat sangat langsung menyergapku. Nyawaku seperti hendak terlepas, tercerabut dari ragaku. Tubuhku menggigil dan terguncang, berdesir tertiup oleh angin di kegelapan malam. Aku ingin sekali untuk segera berlari sekencang-kencangnya.  Tapi, aku tidak bisa. Kedua kakiku kaku serasa terikat tali temali yang melilit seluruh tubuhku dengan sangat kuat. Aku hanya ingin meronta. Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Namun, pita suaraku seakan telah menghilang begitu saja.
“Diam, dan tenanglah kamu !” kata sosok bayangan itu.
Aku terpaku. Aku menuruti saja kata-katanya. Aku sudah pasrah. Beruntung, aku merasa suaraku telah kembali.
“Siapakah engkau ?” tanyaku sambil gemetar.
“Aku adalah tuhan” jawabnya
“Hah !” kataku terkaget
“Ya !” balasnya
Dalam ketakutanku yang sangat luar biasa, aku masih belum percaya. Haruskah, gemerlap Monas menjadi tempat yang nyaman bagi Tuhan ?  Hatiku tiada henti untuk  terus bertanya. Inikah saatnya Tuhan hendak menghampiri hamba-Nya yang lemah ? Apakah Tuhan hendak menyapa saat aku terpuruk, diri terlunta-lunta, dan aku sedang dirundung sedih meratapi nasib yang hina ? Mungkinkah, ini waktunya Tuhan mengabulkan doaku dan memenuhi segala harapan dan permohonanku ? Aku terus bertanya dan terus berharap.
“Adakah orang yang peduli dan mau menolongmu ?” katanya dengan suara datar.
Aku terkaget mendengarnya, hingga tersadar kembali. Aku menggelengkan kepala. “Tidak ada !” jawabku
“Ceritakanlah apa masalahmu. Aku peduli dan mau menolongmu. Katakanlah !”
Berdetak keras jantungku, terasa berdegup kian kencang. Terkesiap panas darahku, terasa kian mengalir deras. Bray.... Hatiku jadi bertambah kian lapang. Kepalaku jadi terasa kian ringan. Wajahku menyala, tampak kian cerah. Mataku mulai berbinar, dan pandanganku jadi lebih leluasa. Semilir angin malam yang berhembus di sela-sela rimbunnya pepohonan terasa sangat nyaman saat menerpa di sekujur tubuhku
 Sungguh, selama aku di sini, belum pernah aku temui, ada orang yang mau berbagi. Betapapun, hanya sekedar mau menerima saat aku ingin berbagi cerita. Mereka sudah terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Sudah terlalu berat dengan beban masalahnya masing-masing. Mereka terus mengejar mimpi-mimpinya, terus berlomba dan bersaing keras, tak kenal waktu, siang dan malam. Mereka terus berburu sesuatu yang dianggapnya sebagai kemuliaan hidup. Itulah wajah-wajah penghuni kota !
“Katakanlah. Aku telah siap mendengarkannya !” katanya lagi, mengingatkan agar aku segera berhenti dari berdiam diri.
Aku mulai memberanikan diri. “Betapa sangat mahalnya, untuk selembar kertas ijazah !”  kataku
“Maksudmu ?”
“Ya. Aku tebus ijazah SMA dengan susah payah. Sebidang tanah milik ayahku pun telah hilang, demi membiayaiku untuk terus bersekolah”
“Kau berharap apa dengan ijazahmu, anak muda ?”
“Di kota ini, aku hanya berharap agar ada orang yang mau menghargai ijazahku, sebagai lambang atas seluruh usaha kerasku dan segenap pengorbananku”
 Aku ingin membuktikan kebenaran dari nasehat guru-guruku, kebenaran dari kata-kata pidato para pejabat di negeriku, yang selalu diucapkan secara berulang-ulang tentang pentingnya pendidikan bagi masa depan. Aku ingin merasakan kebenaran kata-kata itu, agar ijazahku dapat menjadi solusi bagi masalah hidupku.  Agar aku dapat setuju dan ikut membenarkan bahwa sekolah itu sungguh bermanfaat dan benar-benar sangat berarti bagi anak didiknya. Aku berharap terus dan menunggu pembuktian akan kebenaran semuanya itu.
“Aku ingin buktikan, bahwa pendidikan itu penting bagi masa depan !”
Ternyata, benar ! Sosok bayangan yang mengaku tuhan itu masih mau mendengar kata-kataku.
“Lanjutkan !” ucapnya.
“Terima kasih” kataku, seakan merasa beruntung sekali saat malam itu.
Lalu, aku tatapi tugu Monas kembali. Aku katakan dengan tanpa keraguan bahwa kota Jakarta tak ubahnya tugu Monas. Di saat kegelapan malam, Monas  sanggup memancarkan cahaya memikat bagi siapapun yang melihat ataupun sekedar mendengar ceritanya saja. Termasuk aku. Dalam hati yang penuh gelap, kata guru agamaku, orang akan cenderung melihat gemerlap materi sebagai sesuatu yang mempesona.
Namun, dalam terang di siang hari, Monas hanyalah sebuah bongkahan benda mati. Monas hanyalah wujud ketelanjangan dari campuran bebatuan, pasir, semen dan besi, serta emas dan tembaga di bagian puncaknya. Monas adalah  wajah nyata dari sebuah kota  yang sebenarnya. Sebuah kota yang sangat angkuh, sangat keras dan sangat tak peduli. Monas tidak akan pernah mau mendengar,  tidak akan mau berempati, apalagi mau berbelas kasihan kepada mereka, para wong ndeso.
“Tidak akan pernah !” teriakku
Karena, Monas pun tidak dapat merawat dirinya sendiri, tidak mampu menolong Jakarta dari banjir, tidak bisa mencegah Jalan RE Martadinata dan dermaga pelabuhan rakyat dari amblas terkena abrasi air laut. Tidak mampu mengatasi jalanan dari kemacetan,  tidak sanggup membersihkan abdi negeri, birokrasi, politisi dan pejabat tinggi dari korupsi.  Tidak mampu memberi penghidupan layak bagi mereka yang hidup memprihatinkan di tengah kumuhnya bantaran kali Cilwung dan mereka yang hidup mengenaskan di sepanjang lintasan rel kereta api.  Bahkan, Monas pun tidak dapat berbuat apa-apa saat pada tahun 2050 nanti, air laut diperkirakan akan menenggelamkan di sekitar kawasannya sendiri.
“Cukup !” katanya tiba-tiba memotong ucapanku.
“Lalu, sekarang apa permintaanmu. Katakanlah !”
“Baiklah” kataku
“Tolonglah, sekarang aku minta sebungkus nasi” pintaku dengan setengah memelas.
“Ada lagi ?”
“Aku minta pekerjaan”
Kali ini, ia menggelengkan kepala. Hanya terdiam, dan terdiam saja. Selanjutnya, secara perlahan, bayangan itu mulai terangkat ke atas kembali. 
“Maaf, aku tidak bisa menolongmu !” ucapnya tegas.
“Hah ?!!!”
Aku tersentak kaget. Hampir aku tak percaya. Ternyata sosok bayangan itu akhirnya tidak dapat menolongku. Aku sangat kecewa. Aku sangat sedih, aku bingung, aku marah, aku tak kuasa. Aku lihat ia telah melayang kembali ke atas puncak tugu Monas. Tak berapa lama kemudian ia pun menghilang. Tanpa bekas. Bersamaan pula dengan hilangnya seluruh harapanku.
Dengan sekejap saja keadaanku mulai berubah. Berbalik kembali, dan makin bertambah parah. Denyut nadiku bertambah lemah. Nafasku kian terasa sesak dan tersengal-sengal. Kepalaku terasa makin berat. Mataku terasa nanar. Pandanganku mulai berkunang-kunang penuh bintang. Hatiku menjadi pilu tak tertahankan.
“Kenapa engkau tidak mau menolongku.... ?”
“Kenapa.... ?”
“Aku mohon, tolonglah aku....!”
“Tolong....!”
“Tolong....!”
Aku terus berteriak-teriak minta tolong. Hingga suaraku habis, tak bersisa. Lagi-lagi, tidak ada jawaban sama sekali. Sosok itu sudah tidak mau menyahut kata-kataku. Aku merasa gelap, gelap, sangat gelap. Setelah itu, aku tidak tahu apa-apa lagi dan tidak merasakan apapun juga. Sejenak, aku dapat melupakan kemalanganku, membuang jauh semua kegetiran dan mencampakkan segala kepahitan hidupku.
Hingga aku tersadar di suatu tempat yang berbeda, tentu setelah beberapa waktu lamanya. Bahwa saat itu aku sempat meronta ketika diangkut paksa oleh dua sosok manusia berseragam. Kemudian, aku diberinya minum dan makan. Aku baru teringat, “Ini makanku yang pertama kali, setelah aku menahan lapar selama tiga hari”.
Aku lihati terus mereka. Aku baca dengan sangat teliti, satu per satu, huruf demi huruf. Ada tulisan yang menempel di bajunya. Aku berhasil membacanya : SATPOL PP.
Sesaat aku terhenyak. Aku teringat pada sosok bayangan hitam. Aku merasa yakin, “Dia, bukanlah Tuhan !” ***

Salam Persahabatan
Srie

Sumber foto : Google.

2 komentar: