Minggu, 26 Desember 2010

Duh..., Sulitnya Mengajar Sejarah


Oleh Srie

Hampir dapat dipastikan, keluhan mengenai sulitnya mengajar sejarah di sekolah selalu saja muncul dalam setiap kali pertemuan antar guru-guru sejarah, baik yang dilakukan secara formal maupun informal.
Dalam berbagai kesempatan tersebut, mengemuka adanya fakta bahwa mengajar sejarah seolah sulit berkembang secara menarik untuk menjadikan siswa dapat berbetah ria mengikutinya.

Secara jujur, sering tercetus pula guru pun dihinggapi rasa jenuh dan kebosanan sendiri yang seakan tak berujung pangkal dalam sebuah siklus rutinitas mengajar sejarah di kelas. Antara tuntutan kurikulum yang serba ideal sering tak berkesesuaian, atau bahkan terpaut jarak yang cukup lebar dengan apa yang terjadi dalam praktek belajar mengajar secara nyata di lapangan.

Masa Lalu
Susahnya mengajarkan sejarah di hadapan kelas secara menarik dan efektif biasanya sering dikaitkan dengan dimensi dan karakteristik materi pelajaran ini yang identik dengan masa lalu. Sejarah adala pelajaran tentang peristiwa, kisah atau catatan yang telah lewat dan cenderung telah dilupakan oleh kebanyakan orang. Belajar secara efektif dan menarik tentang kejadian dalam kurun waktu tahunan, puluhan, ratusan hingga jutaan tahun yang lampau bukanlah suatu pekerjaan yang semudah membalikkan telapak tangan.

Bagi siswa, pelajaran sejarah lebih dirasakan sebagai pelajaran yang jauh dari apa yang diinginkan atau dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, bagi guru sendiri, pada akhirnya mengajar sejarah cenderung lebih dirasakan sebagai beban dan pelaksanaan kewajiban semata.

Minimnya Alat Bantu
Masih kurang memadainya upaya-upaya khsuus dari berbagai pihak dalam mengembangkan strategi dan metoda belajar mengajar sejarah yang efektif dan menarik adalah masalah lain yang menyebabkan pelajaran ini disinyalir kurang disukai oleh sebagian besar siswa. Termasuk di dalamnya adalah minimnya pengembangan sarana dan alat bantu sejarah yang sedianya dapat diharapkan untuk membantu dalam mengatasi masalah tersebut.

Dalam berbagai acara yang diselenggarakan oleh pemerintah, baik melalui Departemen (kini Kementerian) Pendidikan Nasional atau Dinas Pendidikan dalam bentuk penataran atau sosialisasi kebijakan dalam peningkatan mutu dan kompetensi guru mata pelajaran, membenarkan akan minimnya – untuk menghindari penyebutan tidak ada sama sekali – pengembangan sarana dan alat bantu belajar mengajar sejarah.

Bandingkan, misalnya dengan pelajaran Matematika dan IPA, atau pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi. Secara konkrit sarana dan alat bantu belajar pelajaran ini selalu mengalami peningkatan secara berarti dari waktu ke waktu. Jangankan untuk sarana dan alat bantu belajar mengajar yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi mutakhir, multimedia, atau audio visual, yang konon untuk untuk pelajaran sejarah belum tersedia di tingkat nasional, bahkan yang bersifat manual sederhana pun sepertinya masih ada ketertinggalan secara nyata dan cukup mencolok.

Perubahan Kurikulum
Perubahan kurikulum yang semula dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan, namun dalam prakteknya tak jarang masih lebih dirasakan sebagai penambahan beban bagi guru. Perubahan kurikulum pelajaran Sejarah misalnya, tidak hanya meliputi perubahan materi yang kerap disesuaikan dengan kehendak, tafsir dan relitas sosial, politis dan historis yang sedang berkembang. Namun, juga menyangkut teknis susunan bab per bab, semester per semester, penyususnan RPP, Satpel, hingga prosedur penilaian yang mungkin masih dirasakan cukup menambah merepotkan bagi guru.

Makin bertambah banyaknya materi sejarah dari waktu ke waktu – sebagai salah satu karakteristik pelajaran sejarah – tentu makin menambah beban pula bagi guru dan siswa. Justru alokasi waktu yang tersedia berbanding terbalik, yakni makin sedikit. Penggabungan pelajaran Sejarah dengan pelajaran lainnya seperti Geografi dan Ekonomi dalam pelajaran Pengetahuan Sosial, sesuai dengan Kurikulum terbaru, makin menambah rumit lagi. Suatu keadaan yang cukup anomali, justru di saat pengetahuan semakin berkembang dan kian terperinci secara detil, khususnya terkait perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, justru materi pelajaran sosial digabungkan menjadi satu. Suatu keadaan yang makin menambah beban sistemik bagi guru dalam mengajarkan pelajaran sejarah, yang kini hanya merupakan bagian kecil dari pelajaran Pengetahuan Sosial, yang tampaknya belum tersusun secara memadai, sistematis dan teruji. (Bersambung...KLIK DISINI).*** [Srie]




Tidak ada komentar:

Posting Komentar