Selasa, 28 Desember 2010

Keajaiban

Saya hanyalah istri dari seorang suami yang baru saja di-PHK oleh sebuah perusahaan BUMN terkenal di kota Bandung.
Saya sendiri, seorang guru honorer di sebuah SMA swasta di dekat kawasan lapangan Gasibu. Kami tinggal di sebuah komplek perumahan di daerah Cijambe, dekat daerah Ujung Berung.


Di-PHK dari pekerjaan adalah sebuah pukulan yang telak dan cukup menyakitkan bagi siapapun. Tak terkecuali bagi suami saya, yang sudah bekerja 8 tahun di BUMN itu. Juga bagi saya, yang tahu persis bagaimana perasaan seorang suami yang tiba-tiba kehilangan pekerjaannya.

“Astaghfirullahal ‘adzim..... Ampuni dosa dan kesalahan kami, ya Allah. Hingga kami menerima cobaan seberat ini...” ucap suamiku, saat sehari setelah di-PHK.
Saya hanya bisa ikut mengamininya saja. Ada kegalauan dan ketidakpastian tentang masa depan yang saya rasakan. Ada kesibukan yang hilang, dan yang pasti ada pendapatan suami yang terhenti, namun tidak begitu saja dengan mudah akan mendapatkan ganti. Saya merasa sangat kasihan pada nasib suamiku saat itu, maka saya pun merasakan sakitnya pula. Kami anggap, hal ini sebagai musibah bagi keluarga.

Bagi saya sendiri, musibah ini seperti menggenapi ujian yang sedang saya alami. Sebuah ujian, yang mungkin bagi seorang perempuan yang telah beristri seperti saya ini cukup berat untuk ditanggung. Bulan depan, usia pernikahan kami akan genap lima tahun. Namun, kami masih belum juga diberi kesempatan oleh Allah untuk menerima amanah seorang anak yang sangat kami dambakan.

Sejak usia enam bulan pernikahan yang tidak saja berbuah kehamilan, kami telah memeriksakan diri ke seorang dokter yang berpraktek di kawasan Jalan Cihampelas. Hasilnya ada masalah di rahim saya. Ada kista sebesar 4 cm yang menempel di rahim sebelah kiri. Saya sangat bersedih dengan hasil pemeriksaan medis itu. Dokter itu berkata,

“Sebaiknya, minggu depan, penyakit kista ibu segera dioperasi !”
Saya sangat kaget mendengar saran dokter itu. Saya berharap operasi itu tidak harus terjadi. Secara spontan saya menyampaikan tanggapannya. Kata saya, “Apa tidak ada cara lain selain operasi Dok ?”

“Kista ibu sudah cukup lumayan besar. Kalau dibiarkan, nanti bisa semakin membesar, menjalar kemana-mana dan bisa menimbulkan komplikasi. Sangat berbahaya buat ibu sendiri”
“Berbahaya ? Maaf, maksudnya apa Dok ?”
“Kalau kista sudah membesar, hingga suatu ketika pecah, maka ibu akan merasakan sakit yang sangat luar biasa. Mungkin ibu akan pingsan, karena tidak akan kuat menahan sakitnya”

Mendengar penjelasan dari dokter itu, lalu saya terdiam. Seperti terkesiap, tidak tahu apa lagi yang harus saya katakan. Saya sempat membayangkan apa yang akan menimpa pada diri saya. Saya merasa sangat terpukul, makin membuatku terdiam. Begitu pula dengan suami saya yang ikut mendampingi selama pemeriksaan. Ia pun terlihat sangat sedih.

Dokter itu menyampaikan pendapat kembali, “Jika kistanya tidak dioperasi, maka ibu tidak mungkin akan bisa hamil. Bukankah ibu dan suami datang ke sini, berusaha agar memperoleh momongan ?”

“Betul Dok. Kalau sudah dioperasi, apa rahim saya masih bisa berfungsi ?”
“Rahim ibu yang dioperasi, kan cuma satu, yang di sebelah kiri. Jadi, rahim yang di sebelah kanan tentu saja masih bisa berfungsi dengan baik”
“Terima kasih, Dok. Nanti akan kami bicarakan dulu di rumah, bagaimana keputusannya” jawabku dengan pasrah.

Tak berapa lama kemudian, kami pun pulang setelah menebus resep dokter untuk pengobatan saya selama satu minggu. Kami terpaksa harus mengeluarkan Rp 695.000,- untuk menebus resep itu.
“Subhanallah” ucapku.

Kami merasakan beratnya mengeluarkan uang sebesar itu, hanya untuk tujuh hari saja. Bagi kami, jumlah uang itu lumayan besar, apalagi saat suami saya yang telah di-PHK. Namun, berkat dorongan dari suami, maka terpaksa akhirnya saya tebus pula obatnya.

Sesampainya di rumah, saya tak kuat lagi menahan tangis. Malam itu, saya tumpahkan semua kesedihan dalam tangisan. Hingga, saat dini hari tiba, kami sempatkan diri untuk melakukan sholat malam. Kami mengadu kepada Allah, yang memiliki kami semuanya. Kami memohon agar diberikan keringanan dan kemudahan untuk menjalani hidup kami.
Besoknya, kami putuskan untuk melakukan pemeriksaan ulang di RS Al Islam, sebagai pembanding. Hasilnya sama, bahwa kata dokter, saya harus operasi kista terlebih dahulu, baru saya berpeluang bisa hamil. Sebuah hasil yang bagaikan vonis buat kami, mau tidak mau saya harus menjalani operasi.

Saya merasa sangat ketakutan, belum siap untuk dioperasi. Suami saya pun mendukung apa yang akan saya putuskan. Akhirnya tepat pada waktu yang seharusnya saya harus dioperasi, saya tidak jadi pergi ke dokter itu. Saya tetap belum siap, suami saya mendukungnya, dan keadaan keuangan kami pun kurang memungkinkan untuk mendukung biaya operasi.

Atas saran salah seorang keluarga besarku, saya lebih memilih untuk berobat alternatif. Meski seminggu harus dilakukan dua kali terapi, kami anggap lebih memungkinkan untuk dijalani. Saya sangat berharap dengan terapi alternatif itu. Kata saudaraku, sudah banyak kaum ibu seperti saya yang telah berhasil disembuhkan penyakitnya, kemudian berhasil pula memperoleh keturunan.

Setiap hari, saya selalu berdoa untuk kesembuhan penyakitku ini. Saya pun berdoa untuk memperoleh momongan yang sangat kami dambakan. Bagi saya, momongan adalah harapan terbesarku saat itu agar dapat terlepas dari segala perasaan sedih yang sering menyakitkan. Tidak ada masalah dengan suamiku, yang terus bersabar dan tetap memberikan dukungan. Bahkan, pilihan adopsi yang saya tawarkan pun sempat ia tolak.
“Kita harus tetap sabar, mungkin suatu ketika kita akan memiliki anak kandung sendiri. Insya Allah” ucap suamiku membesarkan hatiku.

Hampir enam bulan sudah, saya menjalani terapi alternatif. Namun hasilnya tetap masih negatif, kecuali rasa sakit saja yang tidak lagi saya rasakan. Akhirnya, kami putuskan untuk menghentikan terapi alternatif itu. Saya semakin cemas, dengan makin bertambahnya usia yang sudah kepala tiga. Saya selalu saja jadi bahan perbincangan saat keluarga besarku mengadakan pertemuan. Begitu pula saat saya terlibat dalam kegiatan dengan ibu-ibu di komplek perumahan, atau saat sekedar saling berkunjung dan bertegur sapa.

Perempuan mana yang hatinya tidak sedih, saat dirinya dikenal dan dicap oleh tetangga-tetangganya sebagai ibu yang tidak punya anak. Saya masih ingat, dan tidak mungkin akan terlupakan saat teman lamaku hendak bekunjung ke rumahku. Di depan pintu gerbang komplek perumahan, teman saya itu bertanya tentang letak rumahku kepada seorang pemilik warung di situ, yang merupakan tetanggaku juga. Lalu, ia menjawab, “Oh.... Ibu Ima yang tidak punya anak itu ya ....?”

Tiga orang ibu-ibu tetanggaku, juga pernah datang ke rumahku. Lalu, mereka sepakat untuk meminta tolong agar anak-anaknya diajari belajar mengaji Iqro. Kata salah seorang dari mereka, “Bu Ima kan, belum punya anak. Bagaimana kalau kami minta tolong agar anak kami diajari mengaji di rumah ini ?”. Kata yang lainnya, “Waktunya, setelah bu Ima pulang dari sekolah saja, bagaimana ?”

Sebuah permintaan tolong yang biasa dan sangat bagus, namun sangat menyakitkan bagi hati saya yang memang belum punya anak. Meskipun dengan hati yang kurang mengenakkan, akhirnya saya sanggupi pula untuk memenuhi permintaan. Suami saya pun mendukung, maka mulailah kegiatanku yang baru mengajari mengaji anak-anak di setiap sore hari.

Lebih dari satu tahun sudah saya mengajari anak-anak mengaji. Jumlah anak-anak pun makin bertambah banyak, hingga mencapai 40-an anak yang memenuhi ruangan tamu dan tengah rumah saya. Meskipun masih cape pulang dari sekoah, saya memang menyukai mengajari anak-anak kecil itu.

Suami saya sudah mulai memperoleh pekerjaannya dengan mengembangkan usaha sendiri. Tanpa terlalu disadari, saya pun merasa mulai melupakan keinginan untuk segera memiliki momongan. Saat itu saya sudah pasrah, andaikan akhirnya saya ditakdirkan tidak memiliki anak sama sekali. Kami telah bertawakal, kami serahkan sepenuhnya kepada Allah, apa yang terbaik buat kami.

Hingga di suatu hari keajaiban itu benar-benar terjadi. Setelah saya menunggu telat haidh sampai tiga minggu, saya lakukan tes sendiri dengan alat uji kehamilan yang telah dibeli dari apotik. Hasilnya positif dengan dua garis merah yang muncul pada alat itu. “Alhamdulilahirobbil ‘alamin” ucap kami, yang dilanjutkan dengan bersujud syukur di atas lantai ruangan tengah. Dalam sujud syukur itu, kami sampaikan sebuah ungkapan .....

“Saat kami berharap, Engkau menahannya. Saat kami memohon dengan sangat, Engkau menundanya. Namun, saat kami pasrah, dan menyerahkan sepenuhnya kepada-Mu, Engkau memberinya...”

Untuk mendapatkan keyakinan sepenuhnya, maka keesokan harinya saya periksa ke rumah sakit Al Islam lagi. Hasilnya sama, memang saya positif hamil. Saat itu, ingin rasanya kami ulangi untuk langsung bersujud syukur. Hanya saja kondisinya tidak memungkinkan. Seorang dokter sempat memberikan komentar. Katanya,

“Keajaiban telah terjadi. Selamat Bu, ini luar biasa. Anda bisa hamil saat penyakit kistanya masih ada. Allah Maha Besar dan Maha Kuasa”
“Terima kasih Dok. Terima kasih, ya Allah” balasku, dengan penuh keceriaan.

Rupanya keajaiban itu masih tetap berlanjut. Dua hari berikutnya, saya dapat kabar bahwa saya diterima sebagai guru PNS di salah satu SMA Negeri di kota Bandung. Sebulan berikutnya, suami saya diangkat menjadi Ketua Cabang sebuah perusahaan milik teman kuliahnya. Maka, kami tambahkan ungkapan kami dalam setiap syukur dan berdoa....

“Engkau telah memberi kami, lebih dari yang kami duga ...”
“Terma kasih, ya Allah.... Engkau telah banyak membahagiakan kami. Amiin ...”
Mulailah, saat itu merupakan hari-hari kebahagiaan kami. Hingga di tanggal 25 Februari, anak pertama kami terlahir, bersamaan dengan hilangnya penyakit kistaku. Genaplah sudah kebahagiaan kami. Dua tahun berikutnya, adiknya ikut lahir juga, yang disusul dengan adik bungsunya, pada tujuh tahun kemudian.

“Subhanallah.... Walhamdulillah... Wala ilaha illallahu Allahu Akbar....” ucap kami sering kali pada setiap kesempatan.
Allah Maha Besar. Selalu ada hikmah, setiap kali kita menemui musibah. Selalu ada kemudahan, setiap kali kita menemui kesusahan. Selalu ada kebahagiaan, setiap kali kita mampu bersabar, berpasrah diri dan bertawakal. Cukup Allah yang mengurus segala apa yang kita butuhkan. Insya Allah.....

Saya yakin atas semuanya itu. Saya sampaikan semuanya itu dengan benar. Saya persaksikan semuanya itu di hadapan Allah SWT. Termasuk saat sekarang ini, saat sepuluh tahun kemudian, saya bersama suami dan anak-anak kami berada di hadapan rumah-Mu yang suci. Disela-sela kami berdoa di depan Ka’bah, sambil menengadahkan kedua tangan, kami pun memanjatkan kata-kata ....

“Kali ini, kami baru ber-umrah, ya Allah...!”
“Insya Allah, tahun depan, kami akan kembali datang ke sini, untuk berhaji, memenuhi panggilan-Mu, ya Illahi.... !”
“Kami sangat merindukan-Mu, ya Robbi.....”
“Amiin ....” pungkasku. ***

Pengarang : Sri Endang S.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar