Selasa, 28 Desember 2010

Kesaksian Istri Sang Nabi


Saat itu, bulan Ramadhan tahun 610 M. Muhammad berada di dalam gua, di puncak bukit Hira, kira-kira sejauh dua farsakh, atau kurang dari 6 km sebelah utara dari rumahnya. Untuk kesekian kalinya ia melakukan tahannuf dan tahannuth, beribadah, menjauhi dosa dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Ia mengasingkan diri dari keramaian duniawi, merenung dan berfikir tentang kebenaran yang hakiki.


Berhari-hari ia melakukan hal tersebut, hingga pada suatu malam ke-17 Ramadhan, ketika ia sedang tertidur, datanglah malaikat dengan membawa sehelai lembaran seraya berkata : "Iqro !, Bacalah !". Muhammad terkejut, lalu menjawab : "Maa aqro !", Saya tak dapat membaca !". Ia seolah merasa tercekik, kemudian terlepas lagi, lalu malaikat mengulangi lagi: "Iqro !, Bacalah !". Masih dalam ketakutan, Muhammad berusaha untuk menjawab : "Maadza aqro ? Apa yang akan saya baca ?". Malaikat itu menjawab :

"Bacalah ! Dengan nama Tuhanmu, Yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah !. Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan manusia apa yang belum diketahuinya....". (Q.S. 96 : 1-5)

Kemudian, Muhammad menirukannya, berkali-kali ia membacakannya, hingga terpatri dalam kalbunya. Setelah itu, malaikat pun pergi dan menghilang dari pandangannya. Tinggallah Muhammad yang terbangun dalam ketakutan, tertegun dan bertanya-tanya : Apakah yang baru saja terjadi ? Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, tanpa ada yang hendak ia lihat. Kemudian diam sebentar, gemetar ketakutan, khawatir akan apa yang dialaminya.

Segerelah ia berlari dari gua, seraya membawa sejumlah pertanyaan di hatinya.
"Siapakah kiranya dia yang menyuruhku membaca ?"
Yang ia rasakan adalah sebuah mimpi hakiki yang memancar dari sela-sela renungannya, memenuhi dadanya, membuat jalan dihadapannya menjadi terang benderang, menunjukkan kepadanya dimana kebenaran itu sesungguhnya berada. Tirai gelap yang selama ini menyelimuti masyarakatnya, kini mulai terbuka.

Sampaiah Muhammad di rumah. Istrinya, Khadijah menyambut sang suami dengan penuh kasih sayang, tapi juga dengan penuh keheranan. Tak biasanya, sang suami pulang dengan raut muka yang menampakkan ketakutan dan kebingungan.

"Selimuti aku !" pintanya dengan gemetar. Khadijah memberinya selimut. Tubuh suaminya masih menggigil, sedangkan jantungnya berdetak lebih cepat. Lalu, dipandanginya sang istri dengan nada harap agar memberinya dukungan dan kekuatan.

"Khadijah, kenapa aku ini ?" ucapnya. Muhammad menceritakan apa yang terjadi selama di gua Hira. Kemudian, ia sampaikan kekhawatirannya kepada sang istri, " Apakah aku ini terkena nujum, ya Khadijah ?".

Oleh Khadijah, dipandinginya Muhammad dengan penuh hormat, tak sedikitpun terkesan ia ragu, atau bahkan menaruh curtiga kepadanya.

"Oh, putra pamanku, bergembiralah dan tabahkan hatimu. Demi Dia yang memegang hidup Khadijah. Aku berharap kiranya engkau akan menjadi Nabi atas umat ini. Sama sekali Allah takkan mencemoohkan engkau. Sebab engkaulah yang mempererat tali kekeluargaan. Jujur dalam kata-kata. Engkaulah, orang yang mau memikul beban orang lain, menghormati tamu dan menolong mereka yang dalam kesulitan atas jalan kebenaran" jawab Khadijah, seraya berusaha meyakinkan dan menghibur.

Kini, Muhammad telah merasa tenang kembali. Dipandanginya lagi, istrinya dengan mata yang penuh rasa terima kasih. Badannya, kini terasa hangat kembali. Keletihan pun mulai menyergap, hingga tertidurlah ia dengan hati yang tenang dan damai dalam buaian kekasih yang selalu setia mendampinginya.

Jauh didalam lubuk hatinya, Khadijah merasa bangga bahwa suaminya yang tercinta telah dipilih oleh Allah sebagai Nabi atas umatnya. Namun, ia pun gelisah dan khawatir apabila kejadian buruk yang pernah diceritakan oleh saudaranya, Waraqah bin Naufal, akan menjadi kenyataan.

Dilihatnya Muhammad masih tertidur pulas. Namun, tiba-tiba ia terlihat menggigil, nafasnya terasa sesak, dan keringatpun mulai membasahi wajahnya. Muhammad terbangun, dan saat itulah malaikat telah datang kembali, kemudian berkata :

"Hai orang yang berselimut !" Bangunlah dan sampaikanlah peringatan. Agungkan Tuhanmu. Pakaianmu pun bersihkanlah. Dan hindarkan perbuatan dosa. Janganlah engkau memberi karena ingin menerima yang lebih banyak. Dan demi Tuhanmu, tabahkanlah hatimu." (Q.S. 74 : 1 - 7).

Khadijah masih saja memandangi suaminya,

"Tidurlah sayangku, dan beristirahatlah kembali !"
"Sungguh Khadijah, waktu tidur dan istirahat sudah tidak ada lagi" jawabnya.
"Jibril membawa perintah agar aku memberi peringatan kepada umat manusia, mengajak mereka, supaya beribadah hanya kepada Allah" lanjutnya.
"Tapi, siapa yang akan kuajak dan siapa yang akan mau mendengarkanku, Khadijah ?"

Khadijah segera berusaha untuk menenteramkan hati Muhammad yang mulai tampak ragu dan kebingungan lagi. Diceritakannya, bahwa menurut penuturan saudaranya, Waraqah, seorang pendeta Nasrani, ia telah dipilih Allah sebagai Nabi.

"Akulah, yang pertama-tama beriman atas kenabian dan kerasulanmu !" ucap Khadijah dengan sangat yakin.

"Duhai kasihku, beritahukanlah aku apabila malaikat itu datang kembali !" lanjutnya.

Dan, ketika malaikat itu kembali, Muhammad pun memberitahukannya kepada Khadijah. Lalu, oleh Khadijah, Muhammad didudukannya di paha kirinya, lalu di paha kanannya, dan dipangkuannya. Malaikat itu masih terlihat oleh Muhammad. Selanjutnya, Khadijah melepaskan tutup mukanya, ... dan tiba-tiba Muhammad tidak melihat malaikat itu lagi.

Khadijah tidak ragu sedikitpun, " Sungguh dia adalah malaikat, dan bukanlah syetan !"

Khadijah pun bersaksi atas suaminya, "Muhammad itu, adalah Rasulullah SAW !". ***


(Diadaptasi oleh Sri Endang dari Buku roman sejarah Muhammad, karya Abdurrachman Arroisyi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar