Rabu, 13 Juni 2012

Kumandang Adan Pitu

Dari Stasiun Prujakan, aku butuh waktu 20 menit untuk sampai di suatu tempat yang aku tuju, dengan berjalan kaki. Di tempat itu, ada lapangan terbuka yang cukup luas, dengan jalan beraspal yang mengelilinginya.
Ada deretan pepohonan rimbun yang mengitari seakan ikut memagari.

Ada bangunan kuno yang sangat bersejarah di sisi sebelah selatan dan sebelah baratnya. Aku menghadap ke barat, lalu aku masuki sebuah bangunan yang berpagar bata merah tebal itu. “Assalamu ‘alaikum” kataku berbisik saat memasuki pintu di sebelah utara yang telah terbuka.

Sembari menggendong tas ransel di punggungku, aku teruskan langkahku, lurus menuju ke arah tempat air wudlu. Aku sempatkan masuk ke kamar mandi dulu untuk sekedar mengganti pakaianku yang sudah terlihat kotor karena telah dipakai selama 6 jam perjalananku, sejak dari Stasiun Jatinegara. Cukup lama, karena aku ikut menumpang kereta api barang yang sering berhenti di sejumlah stasiun besar dan kecil.

Kini, aku telah memakai baju koko putih dan celana panjang hitam yang mungkin telah berusia tiga tahun lebih. Aku mendapatkannya sebulan lalu dari pasar loak di sekitar Stasiun Jatinegara. Walau sudah cukup lama, namun aku anggap masih cukup bersih, karena hampir jarang aku pakai.

Aku singkapkan lengan bajuku dan bawahan celanaku ke atas. Tak lupa, aku geser sedikit peci hitam merek “nasional” yang sudah belel kemerahan di kepalaku agar tidak menghalangi di bagian dahiku. Lalu kutadahkan kedua tanganku di bawah aliran air dari sebuah kran yang memancur.

“Bismillahirrohmanirrohiim...” Sambil sesekali melihat ke arah orang yang ada di sebelah kanan dan kiriku, aku mulai ikut membasuh kedua tanganku yang kaku dan tebal. Lalu, aku basahi mulutku dengan berkumur. Wajahku yang mulai keriput, aku sirami juga. Kemudian, mengarah ke kedua lenganku yang sudah tidak lagi kekar. Terus rambutku yang pendek memutih aku basahi pula, hingga di kedua telingaku yang sudah mulai berkurang pendengaran. Terakhir, aku basahi di kedua kakiku yang kasar dan mulai terasa kian rapuh.

Lalu, ikutan pula aku hadapkan wajahku ke arah barat. Aku tengadahkan kedua tanganku. Inginnya aku bacakan doa, sebagaimana orang lain membaca doa sehabis berwudlu. Namun, aku hanya mampu berdoa di dalam hati saja dalam bahasa yang biasa diucapkan oleh kedua orang tuaku dulu, yang kini telah lama meninggalkanku untuk selamanya. “Duh, Gusti. Kula nyuwun pangapunten ingkang sekatahe dosa-dosa kaula. Amiin ....”

Aku ambil tas ranselku. Lalu, aku menuju selasar bangunan yang memiliki banyak tiang itu. Aku lepaskan sandalku. Tak perlu aku titipkan sandal jepit yang sudah tipis itu kepada petugas penitipan barang yang ada di bagian samping depan. Aku lihat sudah cukup banyak orang yang ada di sekitar selasar itu. Aku pun ikut mengambil tempat di antara mereka. Aku letakkan kembali tas di depanku. Aku rapihkan kaki celana, lengan baju dan yang pasti peci hitam tuaku.

Sebelum duduk, aku sempatkan untuk sholat dulu. Entah, sholat apakah itu, aku pun tidak tahu. Aku hanya melihat orang-orang yang ada di sekitarku. Yang pasti, aku cuma tahu sholat itu cuma dua rokaat saja. Aku bacakan seluruh bacaan hanya dalam hatiku. Aku masih ingat sebagian surat al fatehah, juga sebagian surat kulhu. Sisanya, aku bacakan sebisa-bisanya saja. Sepanjang sholat, aku tambahkan permohonanku secara berulang-ulang, “Ampun, ya Allah.... ! Ampun, ya Allah....!”

Saat orang di depanku ruku, maka aku ikut ruku. Saat orang itu sujud, aku pun ikut sujud. Hingga, saat orang itu menengokkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, aku ikuti juga menengokkan wajahku ke kanan dan ke kiri. Setelah itu, aku tahu, kalau sholatku telah berakhir. Entah, sholat apakah itu, aku pun tidak tahu.

Saat banyak orang berzikir dan berdoa, aku cuma termenung dalam duduk. Sesekali, permohonanku terucap kembali saat dosa-dosaku terus datang menghantui. “Ampun, ya Allah...! Ampun, ya Allah ...!”

Tanpa sengaja ingatanku selalu muncul kembali. Saat belasan tahun yang lalu, saat aku terpaksa harus meninggalkan kampung halamanku. Aku harus mengembara jauh ke tanah orang dengan selalu menyembunyikan identitas asliku. Aku pernah lama tinggal di kawasan Tanjung Priuk, Jakarta Utara dengan hanya berbekal wajah sangar, badan berbalut otot kekar, rajah tato yang bergambar seekor elang tengah menyambar dan harimau yang sedang mencakar, serta kenekadan diri yang tak pernah berhitung sedikitpun tentang mati.

Aku tidak boleh terlalu lama berada di suatu tempat. Aku harus selalu berpindah-pindah tempat. Untuk beberapa waktu lamanya, aku sempat tinggal di sebuah kawasan di sekitar Tanjung Perak Surabaya, lalu di Tanjung Mas Semarang, sebelum berpindah ke kawasan Stasiun Kiaracondong Bandung.

Di Bandung, aku hanya bertahan satu tahun dengan menjelajahi kawasan lainnya, seperti Stasiun Hall, Pasar Ciroyom, Pasar Kosambi dan terakhir di Pasar Induk Caringin. Setelah mulai merasa tidak aman, aku langsung menjauh lagi hingga ke kawasan pelabuhan Merak, terus menyeberang ke pulau Sumatera. Aku sempat tinggal di sekitar pelabuhan Panjang, Lampung, untuk kemudian pindah ke pelabuhan Belawan Medan, yang bertahan hingga lima tahun lamanya.

Perebutan lahan, pertarungan hidup dan mati, serta perjuangan berdarah untuk tetap diakui dan ditakuti oleh kawan dan lawan, menjadi catatan harian perjalanan hidupku, selama aku terus berharap untuk tetap bisa bertahan hidup. Entah, berapa banyak orang yang telah terluka atau kehilangan nyawa. Aku sudah lupa, berapa liter darah tertumpah hanya untuk menopang sebuah kerajaan hitam.

Hingga, terakhir aku kembali ke pulau Jawa, untuk menetap lebih lama lagi di daerah Stasiun Jatinegara. Hingga di suatu ketika, saat aku tidak lagi mampu untuk melawannya. Saat aku tidak lagi dapat bersembunyi dari bertambahnya usia. Saat aku terus merasakan kerapuhan fisik dan kegelisahan yang selalu mendera hatiku. Saat aku selalu dibuntuti terus oleh bayanganku dan selalu dihantui ketakutan oleh dosa-dosa masa laluku. Saat aku ingin sekali bisa hidup tenang di penghujung waktu sisa-sisa hidupku.

Aku ingin kembali. Aku ingin datangi mereka, di Lemahwungkuk, yang hanya berjarak 300 meter dari tempat ini. Sebuah keluarga yang pernah aku sakiti, dengan cara aku rampok hartanya dan aku bunuh ayah dan ibunya, belasan tahun yang lalu. Aku ingin minta maaf kepada mereka, walau dengan segala resiko apapun yang harus aku hadapi. Setelah itu, aku mau menyerahkan diri kepada polisi. Aku mau hidup tenang, walau kemudian harus mati dengan dinding kamar penjara sebagai saksi.

Aku mau menjadi manusia kembali. Aku mau hidup, diperlakukan yang sama seperti manusia yang lainnya, walau hanya untuk beberapa saat saja. Maka, aku datangi tempat ini. Tempat yang tidak mengenal perbedaan antar manusia. Tempat, dimana orang tidak harus ditanya tentang siapa nama anda, apa pekerjaan anda, jabatan dan gelar apa yang anda sandang, busana apa yang anda kenakan, berapa uang yang anda miliki, dan kendaraan apa yang anda bawa.

Lalu, aku bangkit dan berdiri. Aku melangkahkan kaki untuk masuk ke bagian dalam bangunan itu dengan terlebih dahulu melewati celah pintu yang sempit dan pendek, sehingga aku harus membungkukkan badan dan menundukkan kepalaku. Lalu, aku duduk di dekat sudut tenggara, dekat tiang tinggi yang sudah sangat tua, yang terbuat dari serpihan kayu kecil-kecil karya Sunan Kalijaga, yang kini sudah ditopang oleh kekuatan besi yang meninggi. Aku duduk tepat di depan sebuah tempat khusus yang berpagar kayu hitam berukir. Sesekali, aku menoleh ke belakang agar sempat memandangi wajah-wajah mereka yang berada di tempat khusus itu.

Tiba-tiba, pengembaraan alam pikiranku sejenak terhenti. Saat tujuh orang berbaju gamis dan bersorban putih secara serempak mengumandangkan adzan. “Allahu Akbar.... Allahu Akbar....” Walau terdengar cukup datar, bagiku suara adzan itu begitu kuat dan sangat tajam, bak sembilu yang langsung menusuk-nusuk hingga ke hulu hatiku. Pikirku, mungkin ini yang disebut kumandang adan pitu. Kumandang adzan yang pernah merontokkan kesombongan Menjangan Wulung, sang penjahat bagi orang-orang sholat, yang aku tahu dari ceritera rakyat, di waktu dulu.

Aku merasa takut mendengarnya, jiwaku terasa bergetar karenanya. Aku mulai lunglai, tubuhku terasa mulai kaku, mataku nanar dan pandanganku mulai gelap. Kini, hatiku sudah pasrah, sepasrah-pasrahnya. Aku serahkan kepada-Mu, segala keputusan apapun buatku. Aku akan terima balasan-Nya, seraya selalu kuucapkan permohonan ampunan dan keringanan hukuman. Karena, aku akui, diri ini penuh dengan noda dan gelimang dosa.

Sayup-sayup, aku masih mendengar khutbah jum’at yang disampaikan oleh seorang khotib dari atas mimbar. Tidak semua ucapan kata-katanya dapat aku dengar dengan jelas. Aku hanya mendengar, ia menyampaikan soal taubat bagi orang-orang yang berdosa. Katanya, Allah maha menerima ampunan, maka segeralah minta ampun dengan sungguh-sungguh dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Katanya, jika kita berdosa hingga setinggi gunung dan seluas samudera, maka ampunan Allah jauh lebih tinggi dari ketinggian gunung manapun yang tertinggi di muka bumi, jauh lebih luas dari luasnya tujuh samudera. Aku langsung berucap, “Astaghfirullahal ‘adzim.... Ampun, ya Allah ...! Ampun, ya Allah....!”

Lalu, ketika orang lain mulai sholat, aku paksakan diri ikut sholat. Saat mereka ruku, aku pun ikut ruku. Saat mereka sujud, aku pun ikut sujud. Hingga, ketika mereka menengokkan wajah ke kanan dan ke kiri, wajahku tetap saja terpaku, masih tetap menghadap ke arah tempat sujudku. Jari telunjuk tangan kananku tetap saja menunjuk tegak di atas pangkuanku.

Aku masih sempat melihat mereka yang terus memandangiku saat aku masih terus terpaku dalam duduk sholatku. Aku pun masih sempat melihatnya ketika sebagian dari mereka ada yang menggerak-gerakan tangannya di depan mataku, kemudian memegangi urat nadi di pergelangan tanganku. Punggungku mereka sentuh, hingga tubuhku hampir saja terjatuh. Secara spontan, lalu mereka berucap kata untukku, “ Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un....”.

Aku masih sempat melihat, orang-orang yang di tempat khusus itu, juga ikut mendekatiku. Aku baru tahu, kalau mereka adalah Sultan Cirebon, dan keluarganya. Aku baru tahu, aku telah tiada ....***

(Pengarang : Sri Endang S)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar