Minggu, 26 Desember 2010

Pentingnya Minat Baca Bagi Siswa

Kita harus bersyukur, bahwa pendidikan telah mendapat alokasi dana terbesar, 20 % dari total APBN, atau lebih dari Rp 200 trilyun. Dengan demikian, kemampuan negara dalam membiayai penyelenggaraan pendidikan
bagi rakyatnya semakin meningkat. Antara lain dalam bentuk pembebasan biaya SPP atau sejenisnya di tingkat SD dan SMP.

Secara minimal, biaya operasional sekolah telah diambil alih oleh negara dalam bentuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Termasuk pula adalah pengadaan buku pelajaran yang wajib bagi setiap siswa di sekolah, sehingga siswa tidak diharuskan lagi membeli buku. Pemerintah daerah juga turut menyesuaikan diri untuk mengalokasikan anggaran pendidikan yang lebih besar lagi, meskipun pada kenyataannya lebih banyak yang belum mencapai angka 20 % dari total APBD.

Hal ini merupakan kemajuan yang cukup signifikan bagi dunia pendidikan kita. Paling tidak, sekurang-kurangnya telah mencakup dua aspek penting dari pendidikan, yakni aspek kuantitas pendidikan dan aspek pemerataan pendidikan, yang merupakan aspek paling mendasar dalam dunia pendidikan. Aspek lainnya adalah, aspek kualitas pendidikan dan aspek relevansi pendidikan, yang terkait dengan dunia kerja atau dunia usaha.

Pertanyaannya adalah setelah biaya operasional sekolah ditanggung oleh pemerintah, termasuk pengadaan sarana buku pelajaran, lalu apa yang perlu dilakukan selanjutnya, oleh sekolah, pemerintah dan masyarakat ? Memang, banyak hal yang perlu dilakukan, agar mutu pendidikan lebih meningkat. Banyak hal pula yang harus dikerjakan agar pendidikan memiliki relevansi yang lebih baik, memiliki keterkaitan (link) dan kesesuaian (match) yang lebih kuat dengan dunia kerja dan dunia usaha.
Membaca, Penting

Namun, satu hal yang pasti adalah perlunya meningkatkan minat baca siswa. Percuma saja, kalau biaya sekolah sudah digratiskan, tapi mereka tetap malas belajar. Hampir tidak ada gunanya, jika buku pelajaran telah disediakan, juga perpustakaan dan sarana internet di sekolah, tapi mereka kurang berminat untuk membaca. Minat baca adalah sangat penting bagi siswa. Tingginya minat membaca adalah awal dari sukses belajar mereka.

Sutan Takdir Alisyahbana (STA), salah seorang budayawan besar yang dimiliki oleh bangsa kita, pernah mengatakan bahwa kemajuan peradaban suatu bangsa, salah satunya amat ditentukan oleh tingginya minat baca dari bangsa yang bersangkutan. Dengan membaca, maka seseorang akan tahu dan paham akan banyak hal, tanpa ia harus mengalami sendiri mengenai apa yang sedang dibacanya. Karena, membaca pada hakekatnya adalah belajar dari pengalaman orang lain.

Dengan banyak membaca, maka seseorang akan bertambah wawasan dan akan banyak gagasan yang bisa ia kembangkan. Membaca adalah kemampuan terpenting dari seorang manusia, sekaligus yang membedakannya dari jenis makhluk lainnya. Betapa sangat pentingnya peran membaca bagi kehidupan seorang manusia, sehingga PBB melalui UNESCO-nya terus memprogramkan pembebasan buta huruf atau buta aksara di sejumlah negara di dunia, termasuk di Indonesia. Karena, kemampuan membaca akan sangat berpengaruh pada tingkat kesejahteraan suatu masyarakat atau bangsa.

Bagi pelajar, keharusan membaca adalah mutlak, tidak dapat ditawar-tawar lagi, dan wajib hukumnya. Ini terkait dengan tugas utamanya sebagai pelajar yang memang harus belajar, bukan yang lainnya. Setelah biaya sekolah digratiskan dan buku pelajaran sekolah telah disediakan, sehingga tidak harus beli lagi, maka hampir tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk tidak mau beljavascript:void(0)ajar dengan baik dan sungguh-sungguh. Mau membaca, setidaknya membaca buku pelajaran merupakan salah satu indikator penting, apakah seorang pelajar sungguh-sungguh mau belajar dengan baik ataukah tidak.

KBM Bermutu
Sudah saatnya, ada peningkatan mutu dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah, khususnya dalam kegiatan tatap muka antara guru dan murid di ruang kelas. Guru tidak lagi menerangkan banyak hal sehingga menghabiskan banyak waktu yang memang sudah sedikit itu. Untuk sekolah tingkat menengah, SMP dan SMA, guru perlu lebih banyak memfungsikan dirinya sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

Guru hanya mengantarkan materi yang akan dipelajari. Separuh waktu belajar harus memberi kesempatan kepada siswa untuk secara aktif bertanya atau mengomentari atas materi yang sedang dipelajari agar terbangun suasana diskusi. Jika ada waktu yang masih sedikit tersisa, dapat dipergunakan oleh guru untuk lebih memberikan pengarahan dan memotivasi.

Ini menuntut siswa agar belajar di rumah terlebih dahulu, sebelum ia mengikuti pelajaran dengan gurunya di kelas. Sudah tidak masanya lagi, siswa masuk ke ruang kelas, kemudian duduk di kursi, dengan memori otak yang masih kosong dari pelajaran yang akan diikuti. Apalagi, sudah bukan zamannya lagi, saat di ruang kelas, siswa harus banyak mencatat materi pelajaran yang sedang dipelajarinya.

Siswa harus membaca materi pelajaran terlebih dahulu, sekurangnya pada satu hari sebelumnya. Bukan hanya sekedar membaca, tapi juga diharuskan agar siswa mau mengerjakan soal-soal latihan yang ada pada bagian akhir di setiap materi pelajaran. Dengan demikian, siswa akan dapat mencatat hal-hal apa saja yang belum dimengerti dan belum bisa dalam menjawab soal latihan, sehingga perlu ditanyakan kepada gurunya pada saat pertemuannya di kelas.

Ini akan mempercepat proses belajar mengajar yang lebih bermutu. Bagi siswa, ia akan lebih mudah dalam belajar. Karena, tidak akan lagi merasa terpaksa harus dikejar-kejar oleh tugas dalam LKS, yang justru biasanya dikerjakan setelah tatap muka pelajaran selesai. Atau bahkan, yang lebih parah lagi, LKS hanya dijadikan sebagai tugas pengganti dari ketidakhadiran seorang guru.

Siswa harus membaca dan mengerjakan latihan soal terlebih dahulu sebelum pertemuan pelajaran dengan guru di ruang kelas. Sehingga, saat pelajaran hendak dimulai, ia telah memiliki memori materi pelajaran dan sudah ada sejumlah daftar pertanyaaan yang akan diajukan. Dari pertanyaan-pertanyaan itulah, guru akan mengetahui secara lebih baik, sejauhmana muridnya telah membaca dan telah menguasai materi pelajaran. Guru juga akan mengetahui, sejauhmana dan dalam hal apa saja siswanya mengalami kesulitan dalam menguasai materi pelajaran.

Sementara itu, bagi guru sendiri, ia akan sangat terbantu, dengan tidak terlalu banyak menjelaskan materi pelajaran yang sebenarnya dapat dibaca dan dipelajari sendiri oleh siswa di rumah. Guru akan lebih fokus pada hal-hal yang dianggap sangat penting dan lebih terarah dalam usaha mengatasi kesulitan siswa dalam menguasai materi pelajaran yang sedang dipelajarinya. Dampaknya, akan lebih banyak waktu luang untuk terciptanya dialog secara terbuka, sekaligus merangsang siswa untuk dapat belajar secara lebih aktif dan komunikatif. Akhirnya, guru pun akan merasa dituntut untuk selalu membaca dan belajar lebih giat dan lebih banyak lagi.
Kegiatan belajar mengajar, - dengan demikian -, akan berlangsung lebih hidup dan lebih bersemangat. Suasana belajar akan terhindar dari keadaan yang monoton dan terasa membosankan. Justru, siswa diharapkan akan lebih terpacu lagi dalam membaca dan belajar. Secara keseluruhan, kegiatan belajar mengajar diharapkan akan lebih bermutu, lebih mudah, lebih dinamis, lebih efektif dan lebih efisien.

Faktor Minat Baca
Banyak faktor yang menyebabkan siswa kurang minat baca. Selain karena faktor proses belajar mengajar di kelas yang monoton dan membosankan, masih ada faktor lain yang turut berpengaruh. Antara lain faktor siswa sendiri, yang mungkin terlalu banyak waktu untuk bermain, atau ada masalah psikologis, terkait dengan kurangnya motivasi, ada masalah pribadi yang belum terselesaikan dan ketidakjelasan harapan akan masa depan. Faktor lainnya adalah kondisi lingkungan yang dianggapnya kurang kondusif, baik di rumah ataupun di sekolah.

Untuk meningkatkan minat baca siswa, perlu secara terus-menerus diberikan motivasi kepada mereka, kurangi dan batasi waktu bermain mereka, perlu diajak dialog tentang masalah yang sedang dihadapi, dan perlu diberi arahan tentang harapan yang akan diraih. Perlu dukungan dari keluarga di rumah dan dari lingkungan sekolah agar situasi yang kondusif dapat tercipta, sehingga meningkatkan minta baca dan belajar. Khusus di sekolah, perlu dibangun sistem belajar yang kondusif, optimalisasi fungsi perpustakaan beserta sarana internet, dan sejumlah kegiatan yang merangsang siswa agar lebih berminat dalam membaca dan lebih berkompetisi dalam belajar. Sekolah perlu memberikan penghargaan secara periodik bagi para siswa yang dianggap telah berprestasi dalam hal tersebut.

Pun bagi pemerintah dan masyarakat, harus mendukung terciptanya minat baca yang tinggi di kalangan pelajar. Bukankah wahyu pertama yang turun kepada nabi Muhammad SAW adalah Iqro, perintah tentang membaca ? ***
(Oleh Sri Endang S.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar