Selasa, 28 Desember 2010

Peranan Operator Telekomunikasi Dalam Memajukan Pendidikan dan Perekonomian Masyarakat di Daerah

Oleh Sri Endang Susetiawati 


Operator telekomunikasi adalah sebuah perusahaan yang menyediakan layanan telekomunikasi, khususnya telekomunikasi seluler, antara lain seperti PT. XL Axiata, Tbk. yang memiliki merek produk layanan XL. Keberadaan operator telekomunikasi merupakan bagian penting dari perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, yang telah memberikan dampak signifikan bagi perubahan masyarakat. Rogers (1986) menyebutnya sebagai perubahan penting yang telah membawa masyarakat pada  suatu babak yang baru, yaitu zaman informasi, dimana informasi telah menjadi salah satu elemen terpenting dalam masyarakat.  
“Apabila terpaksa harus memilih” kata Jusuf Kalla (JK), pengusaha nasional dan kini mantan Wakil Presiden RI pada suatu kesempatan pertemuan, “saya akan memilih listrik yang mati dari pada telepon yang mati”.[1] Suatu pilihan yang superlatif dari kalangan pelaku bisnis yang menunjukkan bahwa pesawat telepon, - saat itu - , telah menjadi sarana mutlak untuk menerima informasi dan memberi informasi, sehingga keputusan dapat diambil dan diinformasikan dalam waktu singkat.
Pernyataan JK yang pernah diucapkan pada awal tahun 90-an, atau kira-kira sepuluh tahun sebelum dirinya menjabat sebagai Wakil-nya Presiden RI Soesilo Bambang Yoedhoyono (SBY) Jilid I itu, menunjukkan betapa sangat pentingnya sebuah informasi dalam dunia bisnis, baik dalam bisnis lokal, nasional, maupun internasional. Karena, keterlambatan menerima informasi atau menyampaikan informasi dalam sekejap saja akan dapat menghilangkan peluang keuntungan, atau bahkan justru akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.    
Pentingnya informasi, tentu saja, kini bukan lagi merupakan monopoli bagi kalangan pengusaha besar, namun penting juga bagi para peneliti, akademisi, para pengambil keputusan politik, hingga bagi para pengusaha kecil, mahasiswa, pelajar, karyawan dan kalangan ibu-ibu rumah tangga. Informasi, kini, telah menjadi begitu sangat penting, dan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan mereka sehari-hari, baik di daerah perkotaan maupun di daerah-daerah pelosok pedesaan, atau pinggiran dan pedalaman. Informasi telah menjadi begitu penting, saat masalah jarak dan waktu, kini telah hampir bukan menjadi penghalang lagi, saat masalahnya telah teratasi oleh kian berkembangnya penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
Dengan makin berkembangnya teknologi dan bentuk sarana komunikasi yang kian beragam dan kini lebih bersifat massif, maka manfaat praktisnya pun tidak semata hanya terkait dengan masalah yang bersifat ekonomi, namun telah merambah hingga pada manfaat politik bagi kalangan politisi dalam meraih dan memelihara dukungan simpati dari konstituennya, serta manfaat sosial, seperti yang digunakan oleh para Ketua RT, ibu-ibu pengajian atau pegiat Posyandu, pelaku arisan, komunitas pelajar dan remaja, dan lain-lain.
“... Semua, kita telah akrab dengan ungkapan bahwa informasi adalah kekuasaan” ucap Pinnegean, et al. (1987). “Tapi,” lanjutnya “belum pernah hal itu menjadi lebih nyata ketimbang yang ada pada masyarakat masa kini sebagai hasil perkembangan teknologi informasi ...”[2].

1. Masyarakat Informasi
Kehadiran operator telekomunikasi, seperti PT. XL Axiata, Tbk, misalnya, sebagai salah satu perusahaan yang menyediakan layanan telekomunikasi seluler di Indonesia, merupakan salah satu indikasi kuat bahwa masyarakat Indonesia telah memasuki babak baru, yakni zaman informasi. dimana masyarakat di dalamnya layak disebut sebagai masyarakat informasi. Suatu zaman dan suatu masyarakat, yang kini, dimana kita telah berada di dalamnya, dan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan, dengan segala bentuk karakteristik, manfaat dan implikasi yang dapat ditimbulkannya. 
Dalam gambaran Bell (1979)[3], dengan diketemukan dan berkembangnya teknologi telekomunikasi, maka informasi merupakan faktor pusat dalam masyarakat pasca industrial. Dalam sistem ekonomi tahap pasca industrial, terjadi peralihan dari memproduksi barang-barang menuju masyarakat informasi, yakni masyarakat yang berdasarkan informasi (information bassed society), dengan bangkitnya kaum profesional dan teknisi sebagai kelas sosial yang demikian unggul (pre-eminent) menggantikan kaum wiraswastawan niaga. Pengetahuan menjadi titik sumbu inovasi (the pivot of innovation) dan pembuat kebijakan, serta teknologi merupakan kunci pengendalian masa depan.
Dalam pada itu, secara lebih spesifik lagi, Rogers (1986) memberikan rumusan masyarakat informasi sebagai :
“...suatu masyarakat dimana mayoritas angkatan kerja terdiri dari para pekerja informasi, dan dimana informasi merupakan elemen yang paling penting. Jadi, masyarakat informasi mencerminkan suatu perubahan yang tajam dari masyarakat industrial dimana mayoritas tenaga kerja bekerja dalam pekerjaan manufacturing, seperti perakitan mobil dan produksi baja, dan yang merupakan elemen kunci adalah enerji.
.... Kontras dengan itu, para pekerja individu pada masyarakat informasi adalah mereka yang aktivitas utamanya memproduksi, mengolah dan mendistribusikan informasi, dan memproduksi teknologi informasi”[4] 

2. Tantangan dan Peluang
Dalam perspektif ini, secara umum, peranan operator telekomunikasi adalah menyediakan pelayanan jaringan telekomunikasi modern di Indonesia, yang hampir di seluruh dunia diistilahkan sebagai National Information Infrastructure (NII), atau Infrastruktur Informasi Nasional (INFONAS) yang bersatu dalam suatu Global Information Infrasructure (GII).  Keberadaan layanan jaringan telekomunikasi amat penting dan menentukan bagi suatu bangsa dalam menghadapi tantangan riil saat ini yang bersifat global. Yakni, suatu tantangan global untuk saling berkompetisi dan sekaligus berkooperasi (bekerjasama) antar bangsa-bangsa di seluruh dunia. Salah satunya adalah sebagai akibat dari adanya perjanjian perdagangan bebas, baik antar bangsa di suatu kawasan, seperti AFTA atau CAFTA, maupun antar bangsa di seluruh dunia, dalam perjanjian GATT yang masih terus berproses.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini, yang begitu sangat pesat, memang telah memberikan peluang atau kesempatan yang sangat luas dan bervariasi bagi siapapun untuk memperoleh akses informasi dan beragam bentuk komunikasi. Teknologi komunikasi yang berkembang saat ini dalam beragam bentuk multimedia audio visual, dan sistem transmisi data kabel dan nirkabel, seperti GPRS, 3G dan 4 G, secara fixed ataupun mobile, telah memungkinkan beragam pilihan bagi setiap orang ataupun lembaga berdasarkan kepentingan, selera dan kemampuannya masing-masing.
Perkembangan teknologi komunikasi pun telah mampu menggabungkan berbagai macam sistem teknologi komunikasi yang telah ada selama ini, mulai dari teknologi percetakan (koran, majalah), media elektronik (radio, TV), broadcasting, komputer (internet, media online), satelit, serat optik, dan lain-lain. Secara praktis, teknologi informasi dan komunikasi pun telah mampu mengintegrasikan berbagai layanan publik, antara lain layanan telepon seluler, perbankan, bisnis, jurnalistik, entertainment, wisata, religi, pendidikan,   pemerintahan dan lain-lain.
Sebagai contoh, adalah operator XL, yang merupakan salah satu operator seluler terbesar di Indonesia. Pada saat ini, XL merupakan penyedia layanan telekomunikasi seluler dengan cakupan jaringan yang luas di seluruh wilayah Indonesia bagi pelanggan ritel dan menyediakan solusi bisnis bagi pelanggan korporat. Layanan XL mencakup antara lain layanan  suara, data dan layanan nilai tambah lainnya (value added services).
Untuk mendukung layanan tersebut, XL beroperasi dengan teknologi GSM 900/DCS 1800 serta teknologi jaringan bergerak seluler sistem IMT-2000/3G. XL juga telah memperoleh Ijin Penyelenggaraan Jaringan Tetap Tertutup, Ijin Penyelenggaraan Jasa Akses Internet (Internet Services Provider/ISP), Ijin Penyelenggaraan Jasa Internet Teleponi untuk Keperluan Publik (Voice over  Internet Protocol/VoIP), dan Ijin Penyelenggaraan Jasa Interkoneksi Internet (“NAP”).[5]

3. Mengapa Harus Ikut Berperan ?
Operator telekomunikasi adalah sebuah perusahaan yang menyediakan layanan telekomunikasi seluler, dengan tujuan utama saat pendirian adalah untuk mendapatkan keuntungan. Namun demikian, adanya orientasi keuntungan (profit oriented), tidak harus kemudian meninggalkan sikap kepeduliannya terhadap masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan dan ekonomi.  Adanya tuntutan agar operator telekomunikasi ikut berperan serta dalam memajukan pendidikan dan perekonomian masyarakat di daerah, khususnya di daerah pinggiran kota dan pedalaman, sekurang-kurangnya didasarkan atas lima alasan pokok, yakni :
Pertama adalah adanya fakta bahwa untuk mengembangkan pendidikan dan pemberdayaan ekonomi, sebagian masyarakat, terutama di daerah pinggiran kota dan pedalaman, cukup banyak mengalami ketertinggalan, sehingga masih memerlukan bantuan dari berbagai pihak, terutama dari kalangan perusahaan swasta  
Kedua, adanya tanggung jawab moral, bahwa sebagai perusahaan yang beroperasi dan memperoleh keuntungan dari masyarakat, dianggap perlu memberikan semacam balas budi atau ungkapan terima kasih kepada masyarakat pula, yang merupakan pelanggan setianya atau berkonstribusi dalam mendukung operasi perusahaan, seperti penempatan BTS-BTS di lahan sekitar penduduk setempat.
Ketiga, adanya perintah Undang-Undang yang mewajibkan sebuah perusahaan yang beroperasi di Indonesia agar menyisihkan sebagian keuntungan usahanya untuk keperluan pengembangan atau pemberdayaan masyarakat, dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR), yang pada akhirnya, nanti akan dikonversi sebagai bagian dari pengurang pajak penghasilan bagi perusahaannya.
Keempat, adanya manfaat yang positif atau keuntungan bagi perusahaan sendiri, saat turut serta membantu dalam memajukan pendidikan dan perekonomian masyarakat, di antaranya adalah memberikan citra positif bagi perusahaan di mata masyarakat, sehingga akan melekat dalam brand image sebagai perusahaan yang baik dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Dan kelima,  adanya keuntungan lainnya, yaitu sekaligus sebagai bagian dari kegiatan marketing secara langsung, dimana perusahaan memiliki kesempatan untuk memanfaatkannya sebagai bagian dari bentuk promosi dan dalam rangka memelihara kesetiaan pelanggan terhadap produk layanan perusahaan.

4. Memajukan Pendidikan  
Pendidikan merupakan bagian dari sistem dalam suatu masyarakat. Perubahan yang terjadi pada masyarakat sebagai akibat dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat, tentu akan memiliki pengaruh pula pada dunia pendidikan. Dengan demikian, perubahan ke arah kemajuan dalam dunia pendidikan masyarakat merupakan sebuah keniscayaan.
Berikut ini adalah beberapa hal yang terkait dengan dampak perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam bidang pendidikan masyarakat di daerah, dan bagaimana tanggapan yang seharusnya dilakukan, terhadap :
1.    Pendidikan Non Formal / In Formal (Pendidikan Luar Sekolah)
Kemudahan akses informasi telah memberikan kesempatan yang sangat luas kepada masyarakat untuk dapat meningkatkan pengetahuan yang dianggap cocok dan berguna bagi dirinya. Dengan demikian, proses belajar dapat dilakukan oleh seseorang pada setiap saat, kapanpun dan dimanapun selama akses informasi, seperti internet, tetap tersedia, tanpa dibatasi oleh latar belakang profesi, sosial ekonomi, dan bahkan usia sekalipun.
Kondisi ini amat memungkinkan bagi terselenggaranya suatu konsep belajar sepanjang hayat (long-life education) dalam masyarakat,belajar (learning sosiety) yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam sistem pendidikan nasional. Masyarakat informasi adalah masyarakat belajar, di mana selalu terjadi peningkatan dan pembaruan pengetahuan secara terus-menerus melalui kegiatan membaca, baik melalui buku konvensional, maupun melalui informasi dari internet.
Perlunya belajar sepanjang hayat, bagi seseorang dimaksudkan agar ia memiliki kemampuan dalam mengatasi masalah dalam hidupnya, selanjutnya dapat meningkatkan mutu kehidupannya. Pada tingkat global, learning society diperlukan untuk meningkatkan keunggulan dan daya saing bangsa Indonesia atas bangsa-bangsa lain di dunia.

2.    Pendidikan Formal (Pendidikan Sekolah)
Tersedianya akses informasi yang lebih luas bagi pelajar telah mengubah paradigma kegiatan belajar mengajar yang selama ini terjadi di sekolah. Proses belajar mengajar yang selama ini menempatkan sosok guru sebagai sumber belajar yang dominan bagi siswa, perlu digeser menjadi guru sebagai sosok fasilitator belajar bagi siswa. Guru bukan lagi sebagai satu-satunya sumber informasi dan sumber pengetahuan dalam belajar di sekolah. Namun, guru diharapkan agar lebih berperan sebagai sosok yang memotivasi dan  mengarahkan, bagaimana siswa dapat belajar sebaik-baiknya, dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar lainnya yang tersedia, antara lain melalui perpustakaan dan internet.
Perubahan paradigma ini, tentu saja akan menuntut perubahan pula atas strategi dan metoda belajar yang digunakan oleh guru dalam mengajar. Perubahan ini, juga akan menuntut guru untuk secara terus-menerus dapat melakukan peningkatan pengetahuan, wawasan dan ketrampilannya secara mandiri, terutama terkait dengan materi yang terus berkembang secara dinamis di masyarakat. Jadi, kewajiban belajar tidak saja dikenakan khususnya hanya pada siswa, namun guru pun sama-sama harus juga rajin belajar, baik dalam hal pengetahuan dan wawasan mengenai materi pelajaran, maupun tentang ketrampilannya dalam hal bagaimana materi pelajaran itu sebaiknya disampaikan atau diajarkan kepada siswa.
Mantan Dirjen Dikdasmen Depdikbud, Indrajati Sidi, Ph.D, menjelaskan bahwa perubahan visi belajar di sekolah sesuai dengan visi pendidikan UNESCO abad ke-21, yang lebih mendasarkan pada paradigma learning, tidak lagi pada teaching.[6] Keempat visi pendidikan itu adalah  (1) learning to think (belajar berfikir, berorientasi pada pengetahuan logis dan rasional), (2) learning to do (belajar berbuat / hidup,  berorientasi pada how to solve the problem,  (3) learning to be, (belajar menjadi diri sendiri, berorientasi pada pembentukan karakter), dan (4) learning to live together (belajar hidup bersama, mengarahkan pada kerja sama dan sikap toleran). 
Perlu digaris bawahi, bahwa keunggulan seseorang dalam hal kecerdasan tidak semata dalam pengertian kecerdasan linguistik, yang mencakup aspek-aspek kemampuan dalam berbicara, membaca dan menulis dan kecerdasan logis matematis, yang mencakup aspek-aspek kemampuan dalam logika, matematika dan sains. Kedua kecerdasan ini biasa dikenal sebagai kecerdasan akademik.[7]
Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Inteligence (1996) mengatakan bahwa kontribusi IQ (Intellectual Quotient) dalam menentukan kesuksesan hidup seseorang maksimal sekitar 20 persen, sedangkan sisanya ditentukan oleh faktor-faktor lain, yang termasuk dalam wilayah kecerdasan emosional (EQ).
Gordon Dryden dan Jeannette Vos dalam bukunya The Learning Revolution (1994), menyebut sejumlah kecerdasan lain yang dimiliki oleh manusia, di luar kecerdasan akademik. Diantaranya, adalah (1) kecerdasan musikal, seperti pada komposer, konduktor dan musisi terkenal; (2) kecerdasan spasial dan visual, seperti pada arsitek, pematung, pelukis, navigator dan pilot; (3) kecerdasan kinestetik, seperti pada atlet, penari, pesenam dan ahli bedah; (4) kecerdasan interpersonal, seperti pada penjual, motivator dan negositor;. dan (5) kecerdasan intrapersonal, yang bersifat introspektif, sehingga melahirkan intuisi yang luar biasa. Diluar itu, ada juga kecerdasan spiritual, yang satu tingkat di atas kecerdasan emosional.[8]

5. Memajukan Perekonomian
Tersedianya akses informasi yang luas berpotensi akan memberikan peluang bagi makin berkembangnya usaha, menambah terbukanya lapangan usaha baru, dan akhirnya terciptanya kesempatan lapangan  kerja bagi masyarakat. Tentu saja, hal tersebut harus ditunjang oleh sejumlah prasyarat yang harus ada dalam masyarakat itu sendiri agar memungkinkan perekonomian di suatu daerah dapat berkembang dan maju, antara lain ketrampilan memproduksi barang atau jasa, permodalan, dan akses pasar. Untuk pemberdayaan perekonomian masyarakat di suatu daerah, memang diperlukan langkah-langkah yang simultan dan terintegrasi agar tercapai hasil yang efektif, mencakup kelompok sasaran masyarakat yang lebih luas, memiliki manfaat dalam jangka waktu yang panjang dan berkelanjutan.
Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu dipertimbangkan terkait perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, serta bagaimana seharusnya ditanggapi agar tercipta kemajuan ekonomi di suatu daerah, khususnya di daerah pinggiran kota dan pedalaman :

1.    Manfaat Positif Bagi Masyarakat
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi harus diupayakan agar dapat memberikan manfaat yang positif bagi peningkatan kesejahteraan anggota masyarakat, khususnya di daerah pinggiran kota dan pedalaman. Hal ini dapat terjadi apabila, sekurangnya masyarakat harus diberikan kesempatan yang sama dalam mengakses informasi, baik secara manual maupun melalui jaringan internet. Selanjutnya, masyarakat perlu dibantu untuk memperoleh bimbingan mengenai bagaimana memanfaatkan akses informasi tersebut secara aplikatif, dan secara langsung atau tidak langsung dapat meningkatkan penghasilan bagi mereka.
2.    Berbasis Potensi dan Keunggulan Setempat
Kemajuan ekonomi dapat dicapai melalui kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat, yang berbasis pada potensi dan keunggulan yang dimiliki oleh anggota masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Dengan demikian, pengetahuan yang mendalam tentang karakteristik dan potensi masyarakat secara ekonomis, mutlak perlu dimiliki terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan pemberdayaan apapun, melalui observasi atau penelitian sederhana. Hal tersebut untuk memastikan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dari program kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat, yang nantinya akan berdampak pula pada tingkat kepercayaan masyarakat sendiri dalam program tersebut, dan kepercayaan dari donator dalam membantu anggota masyarakat lainnya.  
3.    Pelatihan dan Pembinaan
Peningkatan pengetahuan, wawasan dan ketrampilan eknomis, tetap mutlak diperlukan bagi anggota masyarakat yang hendak diberdayakan secara ekonomi, melalui kegiatan pelatihan, bimbingan dan pembinaan yang dilakukan dalam jangka waktu yang cukup dan berkesinambungan secara intensif. Hal ini terkait untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam memproduksi barang atau jasa yang nanti akan dijadikan sebagai bagian dari pekerjaannya sehari-hari, serta meningkatkan kemampuan dalam melihat peluang usaha yang dapat dikembangkan oleh dirinya.
4.    Pola “Bapak Angkat”
Pemeberdayaan ekonomi, juga bukan hanya ditujukan bagi kaum penganggur atau wiraswasta pemula, tapi juga mencakup mereka yang telah memiliki usahanya sendiri, baik yang masih pada taraf  survival, maupun yang sudah siap untuk berkembang lebih maju lagi. Untuk kalangan ini, yang paling dibutuhkan biasanya adalah akses penambahan permodalan, akses perluasan pasar, dan pembenahan manajemen usaha sederhana ke arah usaha yang bankable. Pola “bapak angkat” bagi usaha kecil yang berpotensi untuk berkembang ini mungkin cukup cocok untuk dikembangkan, disertai dengan dukungan lembaga yang khusus membantu pengembangan usaha kecil.
5.    Kebiasaan Mengelola Uang
Di luar masalah pengembangan usaha kecil tersebut, bagi kalangan mereka pun perlu diajarkan mengenai kebiasaan mengelola keuangan keluarga yang baik, agar dapat menabung dari sebagaian hasil usahanya. Kebiasaan ini perlu dibina agar terhindar dari pengulangan siklus hidup, - maaf – yang miskin, sebagai akibat dari pola sikap hidup yang kurang mampu mengendalikan pengeluaran uang secara tepat, cenderung boros dan konsumtif, atau bahkan “besar pasak dari pada tiang”. Penumbuhan kebiasaan yang kecil ini mungkin dianggap terlalu sederhana atau oleh mereka dianggap kurang begitu penting, namun justru sebenarnya hal tersebut akan sangat efektif agar mereka dapat hidup sederhana, tapi tetap sejahtera.

6. Peranan Operator Telekomunikasi
Untuk memenuhi tugas dan tanggung jawabnya, serta kewajiban moral yang disandangnya, sebagai perusahaan yang memiliki kepedulian atas masyarakat sekitarnya, maka berikut ini adalah beberapa hal yang menyangkut peranan yang dapat dilakukan oleh operator telekomunikasi, khususnya XL, dalam memajukan pendidikan dan perekonomian masyarakat di daerah, khuusunya di pinggiran kota dan pedalaman, antara lain :
1.    Pemberian bantuan insentif pendidikan atau bea siswa bagi siswa yang berprestasi, dan dari keluarga yang kurang mampu.
2.    Pemberian bantuan sarana pendidikan, seperti komputer,  khususnya dalam hal pengembangan perpustakaan sekolah dan akses internet, di sekolah.
3.    Penyelenggaraan pelatihan bagi guru dan siswa, terutama yang terkait  pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam meningkatkan kualitas belajar.
4.    Pemberian penghargaan kepada guru yang berprestasi dan berdedikasi dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar di sekolah, dengan mengembangkan sistem pemilihannya yang melibatkan sejumlah pihak, antara lain siswa, guru, masyarakat, akademisi dan pengamat atau dari kalangan jurnalis.
5.    Pemberian penghargaan bagi tokoh atau siapapun yang dianggap berjasa atau berprestasi dalam mengembangkan pendidikan masyarakat (pendidikan luar sekolah/ non formal dan informal).
6.    Pemberian bantuan pengembangan sistem informasi belajar sekolah, yang menghubungkan komponen pendidikan : siswa, guru, orang tua, sekolah dan perpustakaan  dalam hal informasi kegiatan proses belajar mengajar dan informasi hasil evaluasi belajar, yang terhubung dengan sistem data, koneksi internet dan mobile phone, sehingga terjadi proses komunikasi yang intensif antar mereka, khsusnya untuk tahap awal dapat melalui pemanfaatan akses XL, misalnya, secara eksklusif,
7.    Pemberian bantuan pengembangan perupustakaan masyarakat, seperti Taman Pintar, Taman Bacaan Masyarakat dan perpustakaan keliling, khsusnya diperuntukkan bagi kalangan anak-anak dan pelajar tingkat PAUD, TK dan SD.
8.    Penyelenggaraan pelatihan dan pembinaan usaha bagi anggota masyarakat, khususnya di sekitar tempat BTS XL di daerah pinggiran kota dan pedalaman, yang nantinya akan dapat membantu mereka  dalam memperoleh penghasilan atau meningkatkan pendapatan, untuk peningkatan kesejahteraan hidup keluarganya.
9.    Pemberian bantuan permodalan bagi pelaku usaha kecil, yang potensial dapat berkembang dan maju, disesuaikan dengan potensi usaha yang ada di daerah pinggiran kota dan pedalaman.
10. Pemberian bantuan konsultasi pengembangan manajemen usaha yang sederhana, serta bantuan pemasaran dan akses informasi pasar bagi pelaku uasa di daerah pinggiran kota dan pedalaman, sekaligus dapat dikembangkan adanya jaringan dan sindikasi pengusaha kecil yang merupakan binaan XL, misalnya .
11. Pemberian bantuan pengembangan kegiatan sosial, terutama yang memiliki kaitan bagi peningkatan mutu pendidikan dan berkembangnya perekonomian masyarakat di daerah pinggira kota dan pedalaman, antara lain kegiatan olahraga.
12. Pemberian bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi sarana dan prasarana sosial bagi masyarakat yang terkena musibah, atau bencana alam, khususnya di daerah pedalaman, yang minim jangkauan dari banyak pihak terkait.

Demikian, beberapa hal yang dapat diuraikan mengenai peranan operator telekomunikasi dalam memajukan pendidikan dan perekonomian masyarakat di daerah, khususnya di pinggiran kota dan pedalaman.





[1] Ramadhan KH (dkk), 1994, Dari Monopoli Menuju Kompetisi, 50 Tahun Telekomunikasi Indonesia, Sejarah dan Kiat Manajemen Telkom, Jakarta : Grasindo, hal. 230. 
[2] Lihat Zulkarimein Nasution, 1989, Teknologi Komunikasi Dalam Perspektif Latar Belakang dan Perkembangannya, Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, hal. 82.
[3] Ibid.
[4] Op. cit. hal 90.
[5] Lihat sekilas XL, www.xl.co.id.
[6] Indra Djati Sidi, 2001, Menuju Masyarakat Belajar, Jakarta : Paramadina, hal. 25-26.
[7] Ibid.
[8] Ibid. hal. 5-6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar