Kamis, 30 Desember 2010

Terhormat, Tanpa Merendahkan

Oleh Sri Endang Susetiawati


Dalam suatu kesempatan Rasulullah SAW berkhutbah menyambut bulan suci Ramadhan, sahabat Ali bin Abi Thalib, r.a. bertanya : “Ya Rasulullah ! Amal apa yang paling utama di bulan ini ?”. Rasulullah menjawab : “Ya Abal Hasan ! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari hal-hal apa yang diharamkan Allah !”.
Dalam al-Qur’an, banyak tercantum hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT, di samping lebih banyak lagi hal-hal yang dihalalkan oleh-Nya. Diantaranya adalah tercantum dalam surat Al-Hujurat, 49 : 11-12.

“Hai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum (pria) menghina kaum (pria) yang lain, karena boleh jadi kaum yang dihina itu lebih baik dari pada mereka yang menghinanya; dan jangan pula kaum wanita menghina kaum wanita lainnya, sebab mungkin saja wanita yang dihina itu akan lebih baik dari pafa wanita yang menghinanya. Janganlah cela-mencela sesama kamu dan jangan pula panggil-memanggil dengan sebutan (yang buruk). Seburuk-buruk nama (sebutan) ialah fasik sesudah beriman. Barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang yang dzalim” (Q.S. 49 : 11).

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sebab sebagian dari prasangka-prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari aib orang lain, dan jangan pula sebagian kamu mengumpat yang lain. Sukakah di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati (bangkai) ? . Sudah pasti, kamu tidak akan menyukainya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah penerima taubat dan lagi penyayang” (Q.S. 49 : 12).

Menghina, mencela dan berprasangka (buruk), membuka aiv, dan mengumpat adalah kejadian sehari-hari yang dijumpai di sekitar kita. Pertanyaannya mengapa orang, atau mungkin diri kita sendiri, sering atau menyukai berbuat demikian ? dan mengapa Allah melarangnya ?

Mengapa Disukai ?
Menurut ilmu psikologi, salah satu kebutuhan hidup manusia adalah adanya penghargaan dari orang lain. Seseorang perlu dihargai, diakui atau bahkan perlu dianggap penting keberadaannya di tengah masyarakat. Berbagai upaya dilakukan oleh orang untuk memenuhi kebtuhan tersebut. Ketika kebutuhan itu terpenuhi, maka ia akan memperoleh sebagian kepuasan dalam hidupnya, bahkan kemudian ia nikmati. Tak jauh beda halnya mengenai kebutuhan akan makan dan minum. Maka, ketika ia memperoleh makanan atau minuman yang ia sukai, puaslah ia dan kenikmatan segera menyertainya.

Sosiologi, ilmu tentang masyarakat, menjelaskan tentang bagaimana seseorang memperoleh kebutuhan akan penghargaan. Menurut ilmu ini, penghargaan akan diperoleh ketika seseorang memiliki nilai lebih dibandingkan orang lain. Nilai lebih yang dimaksud seudah tentu sangat terkait dengan sistem nilai yang berlaku di masyarakatnya. Contohnya, dalam masyarakat tertentu, seseorang diaggap memiliki nilai lebih manakala ia lebih kaya, sementara yang lain biasa saja atau bahkan miskin. Nilai lebihnya akan bertambah atau berkurang, manakala ia kemudian menjadi seseorang yang dermawan ataukah kikir. Begitu pula nilai lebih mengenai jabatan, gelar, pekerjaan, kekerabatan, kepandaian, ketrampilan dan sebagainya.

Di samping itu, untuk sebagian, seseorangpun akan merasa memiliki nilai lebih, hingga merasa layak untuk memperoleh penghargaan, manakala orang lain memiliki nilai kurang yang lebih banyak. Contohnya, seseorangmerasa lebih dari pada orang lain, ketika orang lain makin terlihat kurang, atau lebih lemah.
Dalam hal ini, kelebihan seseorang berarti identik dengan adanyakekurangan atau kelemahan yang nyata dari orang lain. Semakin kurang dan lemah orang lain, maka semakin merasa memliki kelebihanlah ia, untuk kemudian semakin merasa berhak untuk memperoleh penghargaan dan pengakuan dari orang lain.

Adanya logika yang demikian, seringkali mendorong seseorang untuk melakukan jalan pintas, untuk makin menunjukkan kekurangan atau kelemahan orang lain demi nilai lebih yang akan ia peroleh. Diantaranya adalah melalui bentuk perbuatan penghinaan, celaan, umpatan, atau membuka aib atas orang lain. Perbuatan yang demikian, dapat diartikan sebagai perbuatan seseorang untuk merendahkan orang lain, dengan cara menisbahkan dengan hal-hal yang bersifat kurang, lemah, buruk atau jelek. Dengan melakukan perbuatan tersebut, maka orang lain akan dianggap makin lemah, makin kurang, makin buruk atau makin jelek. Sebaliknya, orang yang bersangkutan akan berharap bahwa ia adalah orang yang lebih ebat, lebih baik, lebih terhormat, dan seterusnya.

Seseorang yang melakukan penghinaan atas orang lain, seolah hendak menyatakan bahwa “engkau banyak kekurangan, akulah yang banyak kelebihan darimu ! Oleh karena itu, akulah yang lebih layak untuk dihargai, diakui dan dihormati olehmu, dan oleh siapapun !”.

Dengan menghina, mencela atau mengumpat, berarti ia berharap akan memperoleh nilai lebih di atas kekurangan yang dimiliki oleh orang lain. Saat “nilai lebih” itu diperoleh, maka terpuaskanlah ia. Dalam keadaan tertentu, bahkan ia akan sangat menikmatinya, bak ia menikmati lezatnya makanan, atau segarnya minuman, atau bahkan fly-nya narkoba.

Inilah, salah satu hal yang dapat menjelaskan mengapa perbuatan menghina, mencela, mengumpat atau membuka aib orang lain, dalam prakteknya banyak disukai oleh orang, dan tak jarang, justru lebih banyak lagi orang yang begitu sangat menikmatinya, betapapun hanya dalam waktu yang sesaat saja.

Mengapa Dilarang ?
Bersyukurlah, Allah selalu mengingatkan kepada kita tentang kebenaran yang sesungguhnya. Allah menyatakan bahwa belum tentu orang yang dihina itu lebih hina dari orang yang menghina. Mungkin saja, orang yang dihina, justru lebih baik dan lebih terhormat dari orang yang menghina. Bisa jadi, orang yang menghina itu, kenyataannya justru lebih jelek, lebih buruk, dan lebih tidak terhormat dari orang yang ia hina.
Menurut Allah, orang yang membuka aib orang lain akan sama buruknya dengan aib yang ia buka. Allah mengumpamakan orang yang demikian, seperti orang yang sedang memakan bangkai saudaranya sendiri. Ia disejajarkan derajatnya dengan orang pemakan bangkai manusia, lebih-lebih bangkai yang ia makan adalah bangkai saudaranya sendiri, saudara seiman dan seagama.

Sungguh, bukanlah nilai lebih atau derajat yang lebih baik yang akan diperoleh bagi orang yang suka menghina, mencela atau membuka aib orang lain, melainkan kenistaan derajat dan kerendahan harga diri yang nyata.

Menghina, mencela, mengumpat dan membuka aib aib orang lain bukanlah cara untuk memperoleh penghargaan dan penghormatan yang sesungguhnya. Kalaupun penghargaan dan penghormatan itu ia peroleh, sesungguhnya yang demikian itu hanyalah sebuah kepalsuan belaka. Tak ubahnya kenikmatan yang diperoleh seseorang ketika ia sedang mabuk akibat isapan dan suntikan narkoba. Nikmat sesaat dalam kepalsuan, atau nyata dalam kesemuan khayalannya sendiri.

Masih banyak cara lain untuk dapat dihargai dan dihormati dalam arti yang sebenar-benarnya. Salah satunya adalah dengan terbiasa menghargai dan menghormati orang lain.

Dalam pandangan kaum Sufi, betapa banyak orang merasa berat dan enggan untuk memberikan penghargaan dan penghormatan kepada orang lain. Dikarenakan, penghargaan dan penghormatan yang diberikannya itu seolah akan mengurangi penghargaan dan penghormatan atas dirinya. Sungguh, kata Sufi lagi, tak sedikitpun berkurang  atau hilang harga diri dan kehormatan seseorang manakala ia menghargai dan menghormati orang lain. Kecuali, bagi mereka yang memang sudah tidak memiliki harga diri dan kehormatan.

Al-Ghazali menyebutnya sebagai orang yang takabur, sombong, merasa diri selalu lebih di atas orang lain. Orang yang demikian, menurut salah seorang pemikir besar muslim ini, ia tergolong sebagai orang yang sedang sakit, yang butuh pertolongan untuk penyembuhannya. Wallahu a’lam bishowwab. ***By Srie





Tidak ada komentar:

Posting Komentar