Senin, 03 Januari 2011

Mengajar Itu, Seni Berkomunikasi (2)


Oleh Srie

Mengajar adalah salah satu bentuk komunikasi. Dengan demikian, masalah kesulitan mengajar, pada hakikatnya adalah berkaitan dengan masalah kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan para muridnya. Untuk dapat mengajar sejarah dengan baik, maka diperlukan kemampuan berkomunikasi yang baik pula. 


Jika pengajaran sejarah diharapkan dapat berlangsung secara efektif dan menarik, maka jelas diperlukan lebih dari sekedar guru mampu berkomunikasi dalam pengertian yang standar atau minimal. Tapi, lebih jauh lagi diperlukan apa yang selanjutnya disebut dengan seni berkomunikasi.

Dalam suatu proses komunikasi yang bersifat standar atau minimal, keberhasilan lebih dilihat dari sejauh mana materi atau pesan yang ingin disampaikan oleh komunikator telah diterima dengan baik oleh para audien. Sementara itu, dalam seni berkomunikasi, di samping masalahmateri atau pesan yang ingin disampaikan, juga mencakup efek atau pengaruh yang berkenaan dengan rasa atau perasaan, yakni menghibur dan menyenangkan bagi audien dan sang komunikator itu sendiri. Efek rasa yang bersifat menghibur dan menyenangkan itu adalah seni, dalam hal ini seni berkomunikasi.

Kesulitan dalam mengajar secara efektif dan menarik, amat mungkin disebabkan oleh kekurangmampuan guru dalam seni berkomunikasi dengan para siswanya. Pengajaran sejarah yang standar dan minimal, lebih mengandalkan pada tersampaikannya pesan atau materi pelajaran berdasarkan kurikulum yang telah dibakukan. Untuk satu atau dua kali proses pengajaran semacam ini, mungkin masih dapat diterima dengan cukup baik.

Akan tetapi, apabila model pengajaran ini dilakukan secara terus-menerus dan berulang, maka kejenuhan pun akan segera muncul. Jika rasa jenuh telah muncul, maka sejumlah respon negatif dari murid akan dengan sendirinya mengikuti. Mulai dari sikap pasif, dan apatisme siswa di kelas selama proses pengajaran berlangsung, hingga sikap-sikap tak acuh dan “pembangkangan terselubung” yang mungkin mulai mengusik kesabaran guru selama dalam mengajar.

Masalah ini terus berlanjut, ketika sikap-sikap negatif dari siswa tersebut ditanggapi oleh guru dengan sikap yang negatif pula. Guru bukannya fokus pada upaya bagaimana memperbaiki kemampuan berkomunikasi dalam mengajar, tetapi justru yang terjadi malah mengembangkan upaya-upaya pembelaan diri dalam arti yang sempit. 

Mulai dari upaya untuk menunjukkan wibawa dan disiplin secara artifisial, sikap kurang bersahabat, suka memarahi, mengancam, hingga menghukum berlebihan secara fisik, yang sebenarnya tidak ada relevansinya sama sekali sebagai sebuah solusi. Bukannya menyelesaikan masalah, tapi justru sebaliknya, makin menambah masalah selama proses belajar mengajar berlangsung di kelas. ***[Srie]

(Bersambung ...)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar