Minggu, 02 Januari 2011

Mengajar Itu, Seni Berkomunikasi (1)

Oleh Srie

Kesulitan untuk dapat mengajar secara efektif dan menarik, sepertinya telah menjadi bagian dari guru Sejarah, kini dilebur menjadi guru IPS. Dalam perbincangan di berbagai kesempatan, para guru selalu melontarkan pertanyaan yang hampir senada. Yakni, bagaimana caranya agar kesulitan yang dihadapi selama mengajar sejarah dapat diatasi dengan baik ?

Adakah strategi atau metode khusus yang bisa diterapkan dalam mengajar sejarah di kelas sehingga para siswa bisa mengikuti pelajaran dengan bersemangat dan tidak membosankan ? Sarana dan alat bantu belajar semacam apakah kiranya yang dapat membantu guru saat mengajar sejarah sehingga siswa diharapkan lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran ?

Dalam beberapa pertemuan terakhir MGMP guru Sejarah, kini digabung menjadi MGMP IPS, kesulitan dalam mengajar sejarah masih kuat mengemuka. Harapan untuk memperoleh jawaban yang cukup memuaskan mengenai hal tersebut secara implisit atau bahkan eksplisit selalu mewarnai pertemuan-pertemuan semacam ini. Akan tetapi, setiap kali harapan itu terbersit, tak lama kemudian biasanya akan diiringi dengan kekecewaan yang berulang. 

Jawaban substansial atas kesulitan mengajar sejarah seringkali tak tertemukan secara memuaskan. Bagaimana mengajarkan sebuah peristiwa, kisah atau catatan masa lalu dengan menarik dan efektif ditengah keterbatasan saran dan alat bantu belajar yang sangat minim, sepertinya dirasakan kurang memperoleh porsi perhatian yang cukup memadai. Sebaliknya, upaya tersebut cuma terdengar sayup-sayup dan tampak timbul tenggelam di tengah padatnya sosialisasi atau pemaparan materi penataran yang cenderung lebih bersifat teknis.

Sepertinya, untuk mengatasi guru dalam mengajar sejarah di kelas sangat diperlukan suatu materi khusus yang lebih bersifat substansial. Suatu materi yang dirangkum dalam sebuah penataran atau pelatihan khusus pengembangan kompetensi guru yang substansinya melampaui hal-hal yang semata lebih mencerminkan ketrampilan teknis dan prosedural. Substansi materi tersebut sekurang-kurangnya masalah pengembangan sikap positif guru terhadap sejarah, dan pengembangan kemampuan seni berkomunkasi guru dalam mengajar sejarah. Sementara itu, pasca pelatihan, guru perlu didukung dengan pengembangan kemampuan profesinya melalui fungsionalisasi MGMP sebagai lembaga atau forum pengembangan profesi guru sejarah, kini guru IPS.

Sikap Positif
Kesulitan mengajar sejarah, biasanya bermula dari sikap guru terhadap sejarah dan materi sejarah itu sendiri. Bagaimana sikap guru dalam memandang, memahami dan meyakini sejarah dan materi sejarah sebagai sesuatu yang memiliki nilai penting dan manfaat atau nilai guna bagi kebaikan hidup manusia, khususnya bagi dirinya sendiri dan bagi para muridnya. Jelas, hal ini menyangkut sisi axiologis dari ilmu sejarah, yakni untuk kepentingan apa sejarah itu perlu dipelajari dan dipahami ?

Bagaimana mungkin seorang guru akan dapat mengajarkan materi sejarah secara menarik dan meyakinkan, bila ia sendiri kurang memiliki sikap positif dan meyakinkan terhadap sejarah dan materi sejarah itu sendiri. Bagaimana mungkin seorang guru mengharapkan respon yang positif dari pada siswanya selama ia mengajar sejarah, sementara gurunya sendiri justru bersikap negatif terhadap sejarah dan materi sejarah yang diajarkannya.

Sikap positif dan keyakinan akan nilai-nilai axiologis dari sejarah yang ada dalam diri guru, secara sadar atau tidak sadar akan terpancarkan selama ia mengajar. Pancaran sikap positif ini akan memberikan efek psikologis yang memunculkan ekspresi dan gairah mengajar, serta sekaligus menciptakan spirit atau “ruh” mengajar yang akan sangat menentukan dalam memberikan pengaruh terhadap tingkat keberhasilan proses belajar mengajar. Kesulitan mengajar, – mungkin hampir dapat dipastikan – berawal dari ketiadaan ekspresi, gairah dan ruh mengajar yang dimiliki oleh guru sejarah itu sendiri.

Untuk mengembangkan sikap positif tersebut, diperlukan pengkondisian sikap mental dan spiritual guru. Diperlukan suatu proses relaksasi dan refreshing secara intelektual, lalu membongkar sikap-sikap negatif yang terlanjur ada dalam alam pikir bawah sadar, untuk kemudian menggantinya dengan sikap-sikap positif yang diperlukan. Diperlukan pencerahan bagi guru dalam hal pemahaman nilai spiritual dari pengajaran sejarah, pemahaman nilai filosofi sejarah, dan pemahaman nilai atau manfaat praktis dari belajar sejarah.

Untuk keperluan pencerahan, selain melalui sebuah pelatihan khusus, guru bisa melakukannya secara mandiri antara lain dengan menambah wawasan melalui pengayaan bacaan-bacaan yang representatif, misalnya mengenai filsafat sejarah, sejarah para nabi, biografi nabi Muhammad SAW, dan beberapa sejarah tokoh besar dunia dan nasional, sejarah revolusi-revolusi di dunia, perang kemerdekaan, beberapa penggalan terpenting sejarah nasional, sejarah bangsa-bangsa yang pernah maju, dan kini dianggap telah maju, dan lain-lain. Kesulitan mengajar, salah satunya adalah dikarenakan oleh guru cenderung telah terpaku dan merasa puas dengan membaca materi sejarah dari buku – yang mungkin satu-satunya – yang persis sama dibaca oleh para siswanya. *** [Srie]

(Bersambung ..... KLIK DI SINI)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar