Minggu, 20 Februari 2011

Guru kok Suka Bikin Stres



Oleh Srie
Memangnya, ada guru yang suka bikin murid stres? Jum’at malam, pada awal tahun lalu (18/2/2011) sebuah acara Talk Show Kick Andy ditayangkan di MetroTV.  Narasumber yang ditampilkan adalah 5 orang guru yang dianggap kreatif dalam membuat suatu alat peraga, model atau cara belajar yang baru. 

Ada seorang guru Fisika yang berhasil membuat beberapa alat peraga untuk keperluan pengajarannya. Antara lain, dalam bentuk LCD projektor unik, helm berfungsi sebagai charger HP, hingga ruang planetarium sederhana. Guru Fisika satunya lagi berhasil mengembangkan pengenalan atas alat-alat Fisika kepada siswanya melalui pendekatan sastra.
Guru keempat adalah pasangan suami istri yang mengembangkan metode menghapal cepat melalui pendekatan visual dan audio. Lalu, ada guru yang mengembangkan metode hitung cepat dengan menggunakan jari. Terakhir, guru yang mengembangkan belajar Bahasa Inggris cepat dengan metode lambang suara.
Tibalah giliran Prof. Dr. Arif Rachman, tokoh praktisi pendidikan yang dimintai komentar oleh bung Andy F. Nayoan.
“Menurut Pak Arif, kira-kira apa yang membuat seorang guru itu kreatif ?”.
Ia menjawab, “seorang guru itu akan kreatif, kalau ia merasa terpanggil jiwanya sebagai guru”.
“Apakah ada guru yang tidak terpanggil jiwanya sebagai guru ?” tanya Andy.
“Ada”
“Guru yang bagaimana ?”
“Guru yang merasa terpaksa jadi guru. Bukan karena panggilan jiwanya”
Guru Terundang
Selanjutnya, Pak Arif memberikan apresiasi atas kreatifitas para guru yang telah mampu mengembangkan sejumlah alat peraga atau metode belajar. Dengan kreativitas itu,  guru dapat membantu anak dalam belajar secara lebih mudah, lebih cepat dan lebih menyenangkan.
Bagi tokoh pendidikan ini, berbagai model atau metode pembelajaran telah banyak dikembangkan oleh berbagai pihak. Antara lain, ada Contextual Teaching Learning (CTL), Cooperative Learning, dan ada Quantum Learning. Tujuannya, tak lain adalah sebagai upaya untuk membuat proses belajar mengajar menjadi lebih mudah dan menyenangkan bagi anak didik, juga bagi gurunya sendiri.
 “Guru yang baik adalah guru yang merasa terundang oleh muridnya. Kehadiran guru di kelas sangat diharapkan dan dinantikan oleh murid-muridnya Sebaliknya, sang murid merasa senang untuk hadir dalam pertemuan belajar dengan gurunya di kelas” lanjutnya.
“Memangnya, apa ada guru yang kehadirannya tidak diharapkan oleh murid ?” tanya Andy lagi disertai senyum.
“Oh... ada. Itu pasti ada. Malah itu tidak sedikit kok jumlahnya. Kehadiran guru di kelas, justru tidak diharapkan oleh siswanya” jawab Pak Arif.
“Mungkinkah, justru murid senang bila guru itu tidak masuk ke kelas?” sela Andy.
“Oh iya, bahkan ada murid yang bilang, katanya kami sudah berdoa agar guru itu tidak hadir. Eh, tetap juga hadir... ucap sang murid sambil cemberut” demikian seloroh besan Fauzi Bowo (Foke) ini.
“Kenapa ?”
“Karena kehadiran guru itu membuat murid jadi stres, alias tidak membuat nyaman selama mereka belajar di kelas.”
Hadirin terlihat tertawa. Mungkin, dalam hatinya ada yang sempat berkata, “guru, kok suka bikin stres, ya?” Seraya mereka mengenang kembali saat masa lalunya di sekolah yang membuatnya tersenyum atas perilaku guru yang kurang menyenangkan itu.
Berempati
Menurut Pak Arif, guru seharusnya mengajar dengan hatinya, agar murid menerima dengan hatinya pula dengan terbuka. Guru harus mampu berempati, mampu merasakan apa yang dirasakan oleh muridnya. Guru harus mampu merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh muridnya, dan mampu merasakan kesedihan kala muridnya juga sedang bersedih.
Guru harus peka saat muridnya sedang menghadapi masalah, termasuk saat murid mengalami kesulitan dalam belajar. Guru pun harus mampu memotivasi, membangkitkan semangat murid-muridnya dalam belajar.
Hmm.. Jadi ada ya, guru yang suka bikin murid stres. Semoga, kita menjadi bagian dari guru-guru yang terundang, yang suka membuat murid senang dalam belajar. Bagaimana dengan pendapat Anda? Salam persahabatan. *** [By Srie]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar