Jumat, 11 Februari 2011

Pendidikan Karakter : Kisah Batu Hitam


Sekitar akhir dasa warsa abad ke- 6 Masehi, di suatu jazirah Arab. Sejumlah kelompok kabilah atau klan tengah terlibat perselisihan serius yang biasanya akan dapat memicu sebuah perkelahian masal antar mereka yang bertikai. Masing-masing kelompok klan menganggap dirinya merasa sebagai pihak yang paling berhak dalam meletakkan kembali hajar aswad, sebuah batu hitam yang dikeramatkan. 
Sebuah ironi yang nyata, justru saat mereka saling mengklaim diri sedang berbuat kebaikan dengan atas nama tuhan. Proses restorasi atau perbaikan yang mengembalikan sesuatu sesuai dengan keadaan semula dari sebuah tempat peribadatan yang dianggap sakral itu nyaris berbuah keributan.  Hingga, ada salah seorang di antara pemimpin kelompok itu yang berbicara untuk mengusulkan sesuatu.
“Bagaimana kalau kita serahkan urusan memindahkan batu hitam ini kepada seseorang yang pertama kali datang ke sini esok hari ?” ucapnya.
“Setuju...!” jawab mereka serempak.
Begitulah salah satu cara bangsa Arab dalam mengatasi masalah silang pendapat antar kabilah yang dianggap telah serius akan dapat menimbulkan pertikaian massal. Perselisihan antar kelompok pun untuk sementara berhasil di redam. Mereka, kemudian kembali ke tempat tinggalnya masing-masing.
Bagaimanakah kisah selanjutnya ? Adakah seseorang yang dianggap tepat, sebagaimana yang dimaksud dan diusulkan oleh salah seorang pemimpin kabilah itu ? Lalu, siapakah seseorang yang kemudian dipercaya oleh mereka dalam melaksanakan tugas suci untuk memindahkan batu hitam itu ?
Sejarah telah mencatat, bahwa akhirnya pilihan itu jatuh pada seorang pemuda yang pertama kali datang ke tempat ibadah itu. Kepada pemuda itulah, seluruh faksi di antara mereka sepakat untuk memberikan tugas yang saat itu dianggap suci dan mulia terkait pemindahan batu hitam. Maka, tampillah pemuda itu ke depan menuju tempat batu hitam, di tengah kerumunan seluruh anggota faksi yang terlibat dalam proses restorasi.  
Ini yang menarik. Tampaklah, sang pemuda memulai tugasnya dengan menggelar sebuah kain putih yang cukup lebar. Kemudian, ia angkat batu hitam itu dan diletakkannya di tengah hamparan kain putih. Ratusan atau bahkan mungkin ribuan pasang mata warga Arab dengan cermat terus mengamati langkah demi langkah seluruh tindakan dari sang pemuda tersebut.
“Tunjuklah perwakilan dari masing-masing kelompok kalian, lalu majulah ke depan !” pinta sang pemuda.
Meskipun belum sempat memahami benar terhadap maksud dari permintaan pemuda tersebut, namun segera saja masing-masing kelompok klan itu menunjuk perwakilannya untuk tampil ke depan. Lalu, kepada semua perwakilan faksi itu, sang pemuda meminta mereka untuk memegang masing-masing dari salah satu sudut kain putih. Lagi-lagi, mereka pun menurutinya, dengan segera pasangan tangan yang kekar itu memegang keempat sudut kain putih.
Sorotan pasang mata dari orang-orang yang mengelilinginya terus saja mengarah kepeda mereka yang memegang kain putih.  Sebuah pemandangan yang indah sedang mereka saksikan dengan penuh rasa takjub dan penghormatan terhadap sang pemuda yang menggagasnya.  Batu hitam itu secara perlahan-lahan diangkat oleh mereka, kemudian dipindahkan ke suatu tempat semula, sebelum sebuah peristiwa bencana telah berhasil menggeser dari posisinya selama ini.
Secara spontan, tepuk tangan pun segera terdengar mengiringi proses pemindahan batu yang dianggap sakral itu. Sesekali, teriakan yang mengagungkan nama tuhan juga tak ketinggalan menimpali ucapan-ucapan mereka yang secara jujur mengagumi atas insiatif dan aksi dari sang pemuda yang sangat cerdas. Maka, selesailah sudah salah satu bagian dari pekerjaan restorasi tempat ibadah yang teramat penting dan sempat menimbulkan situasi yang mencekam itu. Mereka, semuanya merasa lega dan puas. Tentu saja, semuanya berkat jasa dari seorang pemuda, bernama MUHAMMAD.
Terpilihnya Muhammad, tentu saja bukan semata karena ia menjadi orang yang pertama kali datang ke tempat batu hitam sesuai dengan kesepakatan antar kelompok bangsa Arab. Akan tetapi, terlebih lagi karena ia memiliki sesuatu yang selama ini diakui dan dinilai oleh masyarakatnya sebagai sebuah kelebihan yang melekat pada dirinya. Sesuatu itu adalah sebuah kepribadian yang selama ini diketahui dan disaksikan oleh masyarakatnya. Sesuatu itu melekat pada diri Muhammad sepanjang hidupnya, dimana masyarakatnya telah menganggap sebagai bagian dari sifat atau karakter sang pemuda tersebut.   
Jelas, pertama-tama, sang pemuda itu memiliki karakter yang sangat dipercaya, sehingga seluruh faksi yang sering bertikai pun mengakuinya dan mempercayakan tugas suci untuk memindahkan batu hitam kepadanya. Saat itu, masyarakat Arab menyebut Muhammad sebagai Al-Amin, sebuah sebutan atau gelar bagi seseorang yang sangat dipercaya. Begitu sangat dipercayanya, bahkan dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Muhammad sering memperoleh kepercayaan dari banyak pihak, terutama para saudagar, untuk sekedar menitipkan sejumlah barang berharga kepadanya, saat barang tersebut terpaksa tidak dapat dibawa dalam perjalanan menuju ke suatu tempat. Muhammad, dianggapnya sangat dipercaya dalam memegang suatu amanat, suatu bentuk tugas yang diberikan kepadanya. Karena, barang-barang berharga yang dititipkan itu dianggap akan aman, tidak akan diapa-apakan olehnya, hingga sang pemilik barang kembali untuk mengambilnya dengan nyaman.  
Masyarakat Arab menilai Muhammad sebagai sosok pribadi yang selalu berkata benar dan bertindak dengan benar pula. Muhammad dianggap sebagai sosok yang selalu jujur, baik dalam bertutur kata ataupun dalam perbuatan nyata sehari-hari. Sehingga, dalam setiap kesempatan ketika orang-orang Arab bermaksud mencari sebuah rujukan, maka mereka selalu membenarkan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Muhammad.  Dalam hal ini, Muhammad diakui sebagai Ash-shiddiq, sosok pribadi yang jujur, selalu berkata benar dan berbuat dengan benar pula, sehingga masyarakatnya cenderung mempercayai dan membenarkannya.  Pun, bahkan saat Muhammad mengabarkan bahwa ada air yang keluar dari celah bebatuan di sebuah bukit yang kering kerontang, serta akan ada onta yang akan keluar dari dalamnya. Mereka, begitu sangat mempercayai atas seluruh kata-katanya. Karena, ia dikenal sebagai sosok pribadi yang berkarakter jujur dan benar, shiddiq.
Jika seseorang dikenal sebagai sosok yang berkarakter shiddiq, jujur dan benar, maka orang lain merasa aman terhadapnya. Orang lain akan bersedia memberikan amanah kepadanya dengan senang hati, karena ia sangat dipercaya dapat memegang kepercayaan dengan baik. Shiddiq dan amanah adalah karakter dasar yang perlu dimiliki oleh seseorang agar ia dapat diterima oleh orang lain di lingkungan masyarakatnya.
Almarhum Nurcholish Madijd pernah menjelaskan bahwa kata “amanah”, “amin”, “aman” dan “iman” berasal dari satu akar kata yang sama dalam bahasa Arab, yang berarti tanggung jawab, dipercaya, tenang, dan percaya kepada Tuhan. Semuanya memiliki arti yang saling berkaitan, yakni bahwa orang yang beriman adalah orang yang dapat memegang amanat, tugas dan tanggung jawab dari orang lain dengan sebaik-baiknya. Karena, orang yang beriman memang seharusnya dapat dipercaya, al amin, yang membuat setiap kata-kata dan perbuatannya dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi orang lain di sekitarnya.
Tentu saja, ada karakter lain yang perlu melengkapi kedua karakter shiddiq dan amanah. Antara lain adalah karakter fathonah,  yang menggambarkan sebuah kecerdasan seseorang, baik secara intelektual, emosional maupun spiritual, dan karakter tabligh, yang menggambarkan kemampuan atau keterampilan seseorang dalam hal berkomunikasi dengan orang lain, baik secara pribadi maupun umum. Fathonah, tidak saja mengindikasikan suatu kecerdasan seseorang dalam logika berfikir, namun juga kecerdasan dalam bertutur kata, pengendalian diri, menemukan solusi, membangun pergaulan atau hubungan pribadi dengan orang lain, dan hubunagn dengan Tuhan. Sementara itu, tabligh mengindikasikan tidak semata berkomunikasi secara lisan, namun mencakup pula keseluruhan dalam membangun human relation, hubungan antar sesama manusia yang saling menghormati, menghargai, bersimpati dan berempati.
Itulah, empat karakter unggulan yang dimiliki oleh sang Nabi Muhammad SAW. Jika, saat ini kita sedang giat-giatnya untuk kembali hendak menerapkan pendidikan karakter di sekolah, bukankah sudah sepatutnya kita bertauladan kepada karakter dari sosok Al – Amin ?***.
(Oleh Sri Endang Susetiawati)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar