Rabu, 30 Maret 2011

Belajar dari Juragan Burjo, Lulusan Kelas 5 SD

Sebut saja, Pak Ahmad namanya, pria paruh baya. Di salah satu kampung di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dia dikenal sebagai salah seorang juragan (bos) bubur kacang ijo (burjo) dan mie instan rebus di kota Jogjakarta. Secara fisik penampilannya biasa-biasa saja, suka pakai kaos oblong yang sudah lusuh, bercelana pendek dan berwajah layaknya seorang petani pada umumnya. Orangnya cukup pendiam, dan  terkesan agak pemalu saat suatu ketika pernah bertemu.
Mungkin, hanya bentuk fisik rumahnya yang dapat menunjukkan bahwa dia adalah seorang juragan. Rumah permanen berwarna putih yang kokoh berlantai dua, dengan genteng tebal berwarna coklat mengkilap, pagar teralis yang artistik, serta garasi mobil yang terlihat sering ditunggui oleh Kijang Innova berwarna merah metalic, begitu tampak mencolok di antara bangunan rumah milik para tetangga lainnya.
Dari tetangga di sekitarnya saya tahu, bahwa Pak Ahmad sebenarnya hanyalah berpendidikan SD hingga kelas 5 saja, alias tidak tamat SD, kalah dari istrinya yang sempat mengantongi ijazah SD. Beruntung, berkat ajakan istrinya, suatu waktu saya pernah berkunjung ke rumahnya. Disela-sela obrolan ke sana sini, si ibu yang belum genap berusia 45 tahun itu, sempat juga bercerita mengenai masa lalunya, hingga sekarang dianggap sukses oleh sebagian orang.
“Hingga sepuluh tahun yang lalu, kami tinggal di sini, masih berupa rumah bilik atau gubug tua sisa peninggalan orang tua” ucapnya mengenang.
Cerita pun terus meluncur dari mulut si ibu yang memiliki tiga anak, dua putri dan satu putra ini. Katanya, saat awal menikah, ia hanya mengandalkan hidup dari hasil kerja suaminya sebagai pekerja di warung bubur kacang ijo milik tetangganya. Saya coba korek sedikit dari bu Ahmad.
“Terus, bagaimana ceritanya Pak Ahmad dan ibu hingga bisa sukses seperti begini ?”.
 “Awalnya, bermula dari kebetulan. Kebetulan ada kios bubur kacang di daerah dekat UGM mau dijual oleh pemiliknya. Kebetulan pula Pak Ahmad memiliki sedikit tabungan, ditambah dari uang hasil gadai kalung saya pemberian dari ibu saya, almarhum” jelasnya polos.
“Bersyukur, masih bisa menabung” sela saya.
“Yah, alhamdulilah. Bisa menabung walau hanya sedikit tiap bulannya. Terpaksa, makan sehari-hari kami sering hanya dengan ikan asin saja. Namanya juga orang lagi susah” balas bu Ahmad.
Dari obrolan yang berlangsung sekitar 1 jam lebih itu, saya tahu bagaimana Pak Ahmad dan istrinya mengembangkan kekayaannya. Dimulai dari memiliki 1 kios bubur kacang ijo, kemudian bertambah menjadi 2, 3, hingga sekarang punya 6 kios yang sama di sekitar kampus-kampus di kota Jogjakarta. Tentu saja, sejak saat itu  Pak Ahmad tidak lagi secara langsung menunggui kios, tapi telah diserahkan kepada karyawan yang direkrut dari kampugnya sendiri. Tugas dia hanya mengontrol, dan menerima pemasukan uang hasil jualan dari karyawannya.  Dia telah berubah, dari karyawan biasa, kini telah menjadi juragan yang membawahi 15 orang anak buah.
Statusnya sebagai juragan, membuatnya lebih banyak memiliki waktu tinggal di kampung. Karena, urusan penerimaan setoran uang telah dialihkan kepada anaknya yang telah berkuliah di sana. Entah karena saat itu belum mengenal bank, atau karena takut uang  yang disimpan di lemari akan hilang, ia terdorong untuk menanamkan uangnya dalam bentuk  sawah, kebun dan balong (kolam ikan). Meskipun, dari segi gaya hidupnya, hampir tidak ada yang berubah, termasuk bagaimana ia berpakaian atau makan.
Saat itu, saya sempat bertanya, “ memang kira-kira berapa pemasukan dari 6 kios bubur kacang ijo perbulan ?”. Katanya, “1 kios itu per hari dapat uang sekitar dua ratus ribuan. Kira-kira, sekitar itulah. Kadang lebih, kadang kurang”. Lalu, si ibu yang berperan memegang uang suaminya itu menjelaskan lagi berdasarkan pengalamannya saat mengamati.  Katanya, untuk 1 kios yang buka 24 jam sehari, rata-rata ada sekitar 100 orang pembeli yang kebanyakan mahasiswa, seperti beli bubur kacang, mi instan rebus, atau kopi panas.
Penasaran juga. Saat saya sudah berada di rumah sendiri, saya coba hitung-hitung menggunakan kalkulator di Hape. Anggap saja, tiap orang cuma beli bubur kacang yang Rp 2.000 per porsi, maka dikalikan angka 100 orang, sudah dapat uang hasil penjualan minimal Rp 200.000,-. Lalu, untuk sebulan di kali 30 hari : Rp 200.000,- X 30 = Rp.6.000.000,-, dikali lagi dengan 6 kios : Rp 6.000.000,- X 6 = Rp 36.000.000,- per bulan. Dari angka tersebut, dipotong 50 % uang modal, 20 % buat karyawan dan lain-lain, sisanya 30 % X Rp 36.000.000,- = 10.800.000,- penghasilan bersih per bulan.
“Wow, ... angka yang cukup menggiurkan untuk sebuah penghasilan seseorang yang cuma berpendidikan kelas 5 SD dan tinggal di sebuah kampung” ucapku dalam hati.
Jelas, gajiku sebagai guru PNS, yang lulusan sarjana S-1, kalah jauh dari Pak Ahmad. Apalagi, kalau ditambah penghasilan Pak Ahmad yang lainnya. Meski tidak tahu persis mengenai berapa angkanya, kita dapat memperkirakannya. Misalkan, setiap 3-4 bulan sekali, ia panen padi dari petak sawahnya seluas 2 ha. Setiap 6 bulan atau setahun sekali, ia membedah balongnya yang berukuran seperempat hektar yang berisi ikan mas dan mujair. Ditambah lagi, ada tiga rumah kontrakan, serta kebiasaannya beli dan jual tanah atau rumah di sekitar kampungnya.   
Apa yang dapat diambil dari cerita Pak Ahmad ? Sekurangnya, adalah pertama, kemampuan seseorang, atau biasa lebih dikenal dengan istilah kecerdasan finasial seseorang, terkadang tidak terkait dengan status pendidikan yang pernah ia tempuh. Tidak ada jaminan, seseorang yang lebih tinggi pendidikannya, akan lebih mampu menghasilkan lebih banyak kekayaan dibandingkan dengan mereka yang hanya lulusan SD, atau bahkan tidak tamat SD sama sekali. Mungkinkah, di sekolah memang tidak diajarkan bagaimana caranya seorang anak mengembangkan kekayaan ? Atau diajarkan, bagaimana seorang anak dapat bertahan hidup dalam kondisi yang minim, kemudian mampu berubah dan mengembangkannya ke arah kehidupan yang lebih baik ?
‘Sekolah hanya mengajarkan tentang ilmu dan teori yang tidak terkait langsung dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh seorang anak untuk dapat bertahan dan berkembang dalam hidup” kata seorang pengusaha, temanku saat mahasiswa dulu di suatu waktu.
Ironisnya, di suatu daerah, kenyataan ini justru menjadi salah satu penyebab siswa dan orang tuanya tidak terlalu mengganggap penting untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Katanya, kenapa harus membuang banyak uang untuk bersekolah tinggi-tinggi, kalau akhirnya tetap sulit mencari kerja, dan penghasilannya belum tentu lebih tinggi dari mereka yang sekolah lulusan SD, atau SMP.
“Sekolah, hanya mengajarkan satu hal, yakni bagaimana seseorang dapat bertahan hidup : dengan BEKERJA !” kata temanku lagi mengomentari.
“Maka” lanjutnya lagi, “tak heran, bila orang tua kita dulu yang banyak buta huruf sekalipun, justru lebih mampu bertahan hidup, dan berkembang hidup lebih layak, dibandingkan dengan anak-anaknya yang cukup bersekolah, kemudian bekerja, jadi pegawai pemerintah, karyawan swasta atau menjadi buruh pabrik”.  
Kedua, saya teringat saat membaca buku Robert T. Kiyosaki yang pernah cukup terkenal dulu, berjudul “Rich Dad, Poor Dad”. Meskipun, dianggap masih cukup kontroversi, namun ada juga hal yang dapat dipetik. Yakni, salah satunya tentang beda orang yang akan menjadi kaya, dan akan menjadi miskin. Secara bebas saya simpulkan, bahwa beda orang kaya dan miskin, katanya, bahwa orang kaya akan lebih fokus pada bagaimana mengembangkan aset (sebuah kekayaan yang dapat menghasilkan pendapatan baru), sedangkan orang miskin lebih suka menambah kewajiban, yang selalu menghasilkan tambahan pengeluaran baru, termasuk didalamnya adalah kredit atau berhutang untuk keperluan konsumtif.
Mungkinkah, Pak Ahmad atau banyak lagi orang yang lainnya, yang hanya bersekolah SD tidak tamat, telah mempraktekkan teori bagaimana sebaiknya bertahan hidup, mengubah nasib, dengan mengembangkan kekayaannya secara perlahan melalui cara hidup hemat, menabung dan melakukan penambahan aset, yang menghasilkan banyak pendapatan baru, dalam hitungan harian, bulanan, semesteran atau tahunan ?  Saya yakin, Pak Ahmad tidak akan pernah tahu tentang “teori” Robert T. Kiyosaki itu, apalagi pernah membaca bukunya. Tapi, saya yakin bahwa Pak Ahmad memiliki kecerdasan finansial yang hebat dalam mengembangkan kekayaan untuk menopang kehidupannya yang lebih makmur.
Kita banyak belajar darinya. Bagaimana, menurut pendapat anda ?. Semoga bermanfaat. Terima kasih.***
__________________________
Oleh Sri Endang Susetiawati
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar