Sabtu, 19 Maret 2011

Berfikir 1.000 Kali




Keesokan harinya, sehabis keluar dari perkuliahan pagi, Zaza sempat bertemu dengan Caca di tempat parkir. Caca datang ke tempat itu, hendak  memenuhi undangan rekannya sesama Ketua BEM, di Sekretariat BEM FMIPA. Setelah saling tegur sapa, kemudian mereka terlibat obrolan ringan mengisi waktu yang masih tersisa.


“Ada temanku yang mau dimadu. Bagaimana menurutmu ?” tanya Zaza melanjutkan obrolannya sambil setengah duduk di atas motor milik Caca.

“Teman atau teman….., ? He..he.. “ tanya  Caca sambil bercanda dengan posisi berdiri.

“Teman di Jamaah Al Kaafah, namanya Anisa. Dia cerita padaku dan meminta pandanganku”  jelas Zaza.
“Ah, kalau itu temanmu, enggak ada masalah. Katakan saja, terima dan lanjutkan” jawab Caca.
“Kok begitu ?” ucap Zaza heran.
“Iyalah, itu urusan mereka. Apalagi dalam komunitas mereka itu kuat sekali keyakinannya” balas Caca
“Keyakinan apa ?” tanya Zaza
“Ah, masa enggak tahu…. Kamu sendiri kan sudah ada di dalam komunitas itu” jawab Caca
“Iya sih…, tapi orang luar sepertimu, justru seringkali lebih tahu” balas Zaza
“Soal gituan sih sudah rahasia umum Zaza. Semua sudah pada tahu”
“Rahasia umum apaan ?” tanya Zaza lagi
“Yang kamu tanyakan itu. Soal madu or dimadu. Alias soal poligami” jawab Caca sambil tersenyum
“Apa yang kamu tahu soal poligami itu, bagi mereka ?” tanya Zaza kembali
“Bagi mereka, poligami itu kan ibadah. Bahkan bisa dikatakan sebagai ibadah yang super spesial, kelas VVIP, kira-kira begitu” jelas Caca
“Menurutnya, perempuan yang mau dipoligami itu, dianggap memiliki kualitas pengabdian yang tertinggi di hadapan Tuhan”
“Imbalannya adalah tiket ke surga. Betul, kan ?” jelas Caca lagi
 “Iya, mungkin kira-kira begitulah yang aku dapati juga di JAK” balas Zaza
“Lalu, bagaimana dengan pendapatmu ?” tanya Zaza lagi, sambil menggeserkan posisi duduknya di atas jok motor milik Caca.
“Menurutku, poligami itu ibarat kulit ari” ujar Caca, sambil menunjuk ke arah kulit lengannya sendiri
“Apa kaitannya dengan kulit ari ?” tanya Zaza
“Kulit ari itu sangat tipis, setipis perbedaan antara niat ibadah dan hasrat seksual seorang suami dalam  berpoligami” jawab Caca
“Kalau di politik, setipis antara amanah dan nafsu berkuasa seseorang untuk maju dalam pilkada” tambah Caca lagi
“Mantap. Boleh juga, pendapat Ketua BEM kita ini” komentar Zaza
“Itu bukan pendapatku. Aslinya pendapat orang lain juga. Aku tahu dari dengerin dan baca pendapat mereka” balas Caca
“Iya deh. Sekarang bagaimana pendapatmu, jika temenku Anisa sekarang datang  minta pandanganmu soal mau dimadu itu ?”
“Kan sudah aku sampaikan ?” jawab Caca
“Yang mana, belum ah ?” kilah Zaza
“Eh, kok cepetan lupa sih. Jika itu temenmu, aku katakan terima saja dan lanjutkan !”
“Kalau bukan temenku ?” tanya Zaza
“Maksudnya siapa ?” tanya balik Caca
“Ya anggaplah aku, misalnya” jelas Zaza
“Maksudnya kamu yang mau dimadu, begitu ?”
“Ya, enggaklah. Itu kan cuma pengandaian saja. Apa ada perbedaan pandanganmu tentang masalah yang sama itu ?”
“Ha…ha..ha..ha.. Andai kamu mau dimadu ?” tanya Caca heran, diselingi dengan tertawa
“Ini pendapatku !” kata Caca
“Pikirkan dulu 1.000 kali, diulangi seribu kali lagi” tegas Caca lagi
“Kenapa ?” tanya Zaza
“Karena kamu temenku” jawab Caca singkat
“Iya … tapi kenapa, kalau aku temenmu ?”
“Karena..., aku suka kamu” ucap Caca, sambil kemudian menutup bibirnya dengan tangan kanannya
“Hmm… Pake muter-muter segala,… Bilang saja begitu dari tadi” ucap Zaza, sambil memukulkan tas yang dipegangnya ke arah tubuh Caca.
“Sorry…, sesuatu tidak selalu harus disampaikan secara langsung pada sasaran, to the point, gitu” kilah Caca.
“Lihat perkembangan dulu… He..he..he..” tambah Caca lagi
“Dasar politisi… Di politik memang begitu ya…?” tanya Zaza
“Siapa bilang…?” Caca balik tanya
“Burung hantu tuh yang bilang….” Ujar Zaza
“Ha..ha..ha..ha.. Sekalian saja burung garuda…” canda Caca
“Pake ketawa lagi…” ucap Zaza berlagak ketus.
“Baik tuan putri,… Sebelum kamu mau dimadu, pikirin dulu alternatif yang lain dong”
“Apa alternatif itu ?” tanya Zaza
“Masih ada 1.000 pria yang mau mengantri untukmu” ujar Caca
“Ehemm… mulai lagi deh” komentar Zaza
“Dan, yang terpenting,… Aku adalah peserta antrian dengan nomor urut satu” ucap Caca, sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri
“Ember…, Lalu, nomor urut dua dan tiganya siapa ?”
“Nomor urut dua, ya pasti gue dong Caca, dan yang  ketiga jelas  Hamzah Ghazali”
“Ha..ha..ha.. Itu sih maunya….” balas Zaza sambil tertawa
“Kalo memang maunya aku begitu,… boleh kan ?”
“Boleh-boleh saja… Itu hakmu, gak ada yang larang tuh” ujar Zaza
“Oke. Trims…” ucap Caca
“Gak ada jaminan,… Antrian nomor urut satu, itu yang akan lebih berpeluang dapetin” ujar Zaza
“Yang penting… kan nomor urut satu dulu. Soal peluang… itu soal kecerdasan, kenekadan dan keberuntungan. Bener nggak ?” balas Caca
“Terserah deh…”
“Ada satu lagi yang harus dipertimbangkan bagi perempuan yang mau dimadu”
“Oh,…  ada lagi ya…?”
“Tanyakan terlebih dahulu pada diri sendiri”
“Apa pertanyaannya ?”
“Bagaimana perasaanmu, seandainya Anda, perempuan yang telah jadi istri yang sah, ternyata kemudian dimadu oleh suamimu ? Ia menikahi lagi perempuan lain semacammu saat ini”
“Betul juga, ya…?” komentara Zaza
“Sangat betul. Itu bantahan telak bahwa terjadinya poligami, yang disorot cuma dari segi laki-laki”
“Maksudmu ?” tanya Zaza
“Perempuan juga ikut andil dong…” kata Caca
“Andai para kaum perempuan solider terhadap perasaan kaumnya sendiri, tentu tidak akan juga bisa terjadi poligami, betapapun sang pria menginginkannya, begitu maksudmu ?” ujar Zaza
“Pinter, tepat sekali. Itu yang aku suka darimu” ucap Caca memuji
“Ehemmm… muji lagi… ember lagi…” tanggap Zaza
“Terus…. ?” kata Zaza lagi
“Enggaklah, cukup itu pendapatku. Selanjutnya, terserah anda. Bagaimana ?”
“Sangat diplomatis, cukup cari aman. Ciri pendapat para politisi…” simpul Zaza
“Menyanjung, tapi cukup menusuk” balas Caca
“Habisnya, jika terkait temen sendiri, kamu selalu berdiplomasi deh”
“Tapi, kamu suka kan… ?” ucap Caca
“Yeeeh.. belum apa-apa sudah GEER lagi”
“Bukan begitu Zaza, kalau soal poligami itu bukan keahlianku. Entar salah lagi”
“Iyalah, … ngerti, belum nikah lagi”
 “Begitu dong. Lagian, itu kan cuma baru pengandaian. Andai kamu yang mau dimadu, begitu kan ?”
“Kalau aku yang benar-benar mau dimadu, memang bagaimana ?” tanya Zaza
“Akan kupakai 1.000 jurus saktiku,… Bagaimana caranya, sampai rencana itu batal” ujar Caca, seolah sambil merayu.
“Weleh… , apa hakmu atasku, sampai segitunya banget … ?” tanya Zaza
“Hak asasi manusia, untuk dicintai dan mencintai…” ungkap Caca
“Yah…, sok romantis…  dan herois ….” komentar Zaza
“Tergantung… ,  dengan siapa aku berhadapan ?”  balas Caca
“Lebay  ah, … Apa sikapmu itu masih berlaku seandainya nanti telah menikah, mempunyai seorang istri ?” tanya Zaza
“Yes, dijamin seribu persen. Itu masih berlaku, yang pasti dengan satu syarat” tegas Caca
“Syaratnya apa ?” tanya Zaza
“Syaratnya, … Istriku itu adalah kamu” jawab Caca sambil menunjuk ke arah Zaza
“Wah…. Tambah ngelantur saja nih anak”
 “Memang iya, …. Sekali-kali boleh dong ngelantur di hadapanmu, gak ada ruginya lagi”
 “Iya deh,… Terserah… Aku pamit dulu ya, mau kuliah Statistik” ucap Zaza sambil turun dari atas jok motor.
“Makasih komen dan ngelanturnya. Tapi jangan keterusan tuh, nanti dibawa kemana-mana” imbuh Zaza lagi
“Siap bos, … Sama-sama, trims banget…” balas Caca
“Kalau penasaran, tanyakan soal poligami itu ke Gus Mus atau ustadz Ajat, pasti dia ahlinya tuh”
“Makasih, … assalamu ‘alaikum” ucap Zaza sambil kakinya mulai melangkah ke arah Gedung kuliah.
“Wa ‘alaikum salam …”
“Hei Zaza ! Catat  ya… ! Ada 1.000 pria yang antri, aku  yang nomor urut satu !” teriak Caca sambil melambaikan tangannya.
“Uhuy… prikitiw…” balas Zaza sambil tertawa....


(Seri Novel Meraih Tiket Surga (MTS) Oleh sri Endang S)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar