Minggu, 20 Maret 2011

Diskusi Poligami

-->
 Oleh Srie
Tak seperti biasanya, Senin sore itu, di sekitar Kantor LSM Gus Mus, udara terasa lebih panas dari hari-hari sebelumnya. Tampak di ruangan Gus Mus, sambil duduk diatas kursinya, ia sedang berbincang dengan Ustadz Ajat, dengan ditemani oleh kipas angin yang terus berputar dan dua gelas es sirup yang ada di atas meja. Sesekali, terlihat Gus Mus dan Ustadz Ajat meminum es sirupnya, sehingga pembicaraan mereka sejenak terhenti, untuk beberapa kali.

 “Kemarin, ada yang minta saya untuk jadi narasumber diskusi di masjid kampus sebelah” ujar Gus Mus melanjutkan pembicaraan.
“Bagus lah Gus, sangat tepat itu” komentar Ustadz Ajat.
“Tepat apanya, justru saya tolak” balas Gus Mus
“Kenapa ditolak ?” tanya Ustadz Ajat
“Lha wong, saya mahasiswa Sejarah kok disuruh berbicara soal poligami” jawab Gus Mus, sambil menggelengkan kepalanya.
“Iya, tapi kan tentang sejarah kebudayaan Islam, Gus” balas Ustadz Ajat lagi.
“Oh, mungkin  itu kali ya, karena ada Islamnya. Jadi saya diminta tolong bicara tentang masalah poligami, salah satu masalah Islam yang hingga saat ini masih kontroversial” ungkap Gus Mus kembali.
“Mungkin saja Gus, tapi pilihan itu tepat, bukan ?”
“Ngawur ah, yang bicara soal Islam itu ya harus ahlinya. Dan itu sampeyan, Ahmad Darajat” jelas Gus Mus sambi menunjukkan tangan ke arah Ustadz Ajat.
“Maksudnya  apa, Gus ?” tanya Ustadz Ajat
 “Tugas jadi pembicara itu, saya tolak dan dialihkan ke sampeyan, ustadz gitu lho”
“Ada-ada aja, Gus Mus ini”
“Iyalah, wong sampeyan kan  bidangnya . Sehari-hari  sudah jadi guru ngaji lagi. Jadi pas lah, bagaimana ?”
“Saya mahasiswa sastra Arab, Gus”
“Iya, sudah tepat itu, sampeyan”
“Tidak juga Gus. Tapi, kalau soal begini, saya mah ikuti apa kata Gus Mus saja lah. Bagaimana baiknya” kata Ustadz Ajat.
“Assalamu ‘alaikum”
Tiba-tiba terdengar suara ucapan salam dari depan pintu rumah, yang membuat percakapan mereka terhenti untuk sementara.
 “Wa alaikum salam” jawab Gus Mus dan Ustadz Ajat.
Tak berapa lama, orang yang mengucapkan salam tadi sudah masuk ke ruangan Gus Mus, kemudian langsung ikut duduk bersama mereka.
“Eh, kamu Caca. Tumben pake salam likum segala” bilang Gus Mus
“Memangnya, kenapa ?” tanya Caca
“Ya selama ini kan kamu paling malas ucapkan salam begituan. Paling juga hai, apa kabar brur, apa kabar Choy ”
“Bukan begitu, Gus. Kan disini ada sobat kita. Aku hormati pa ustadz ini, benar kan pa ustadz Ajat ? Apa kabar ?”
“Alhamdulillah baik, terimakasih”
“Sebentar, saya ambilkan gelas dulu buat minum tamu” ungkap Gus Mus, sambil beranjak dari tempat duduknya menuju ke ruangan belakang. Beberapa saat kemudian, Gus Mus telah kembali di ruangan, sambil membawa segelas es sirup berwarna kuning itu untuk Caca.
“Silakan, ini diminum. Lumayan buat mendinginkan tenggorokan” ujar Gus Mus
“Terima kasih Gus. Jadi merepotkan tuan rumah nih” balas Caca, sambil langsung meminum es sirup yang disuguhkan oleh Gus Mus.
“Memang iya, merepotkan sedikit. Lha, memang mau saya usir apa kamu ?” kelakar Gus Mus.
“Sorry Bos ! Kali ini jangan tega-teganya usir Aku, ya ?” jawab Caca sambil bercanda pula.
“Ngomong-ngomong ada obrolan apa, sebelum aku ke sini ?” tanya Caca
“Soal biasa, ada yang minta aku jadi narasumber diskusi. Tapi aku tolak dan dialihkan ke pa ustadz ini” jawab Gus Mus.
“Apa masalahnya hingga sampai ditolak dan dialihkan begitu ?” tanya Caca lagi.
“Semua itu kan harus ada vak nya, harus sesuai ahlinya, biar gak ngawur gitu. Orang minta bicara soal poligami, kok ke aku, ya salah ” papar Gus Mus
“Terus ?” tanya Caca
“Ya terus aku alihkan ke pa ustadz ini, yang ahlinya gitu lho. Begitupun, kalo nanti ada yang minta aku bicara politik, sama aku tolak juga. Karena ahlinya kan kamu, Caca, sebagai calon politisi muda berbakat kita”
“Mantap, si Gus ini kalo sudah memuji orang” koemantar Caca.
“Lha iya kan, itu biasa saja kok. Sejarah bangsa-bangsa yang maju, itu karena dipegang oleh orang-orang yang cocok dan ahli di bidangnya, tentu saja harus jujur dan amanah. Sanes kitu,  Kang ustadz Ajat, eh punten,  Ajengan Ajat ?” tanya Gus Mus sambil menoleh ke arah Ustadz Ajat.
“Enggeh, pangestu, sumuhun dawuh, Kanjeng Gus Mus” jawab Ustadz Ajat sambil menundukkan kepalanya ke hadpan Gus Mus
“Wah makin menarik nih” tanggap Caca
“Biasa, politisi selalu ingin menarik kesana atau kesini. Apanya yang menarik, begitu saja kok, biasa-biasa saja” balas Gus Mus.
“Maksudnya, aku kepingin lebih tahu banyak soal poligami dalam pandangan Islam itu sendiri, bagaimana ?” pinta Caca.
“Itu sih gampang brur. Ikuti saja diskusi besok di kampus sebelah, pa ustadz ini yang jadi narasumbernya” aran Gus Mus, saambil menunjuk tangan ke arah Ustadz Ajat
“Maksudnya, besok aku disuruh pake rok dan busana muslimah, begitu ? Biar tidak terlalu mencolok bila dibandingkan saat aku pake baju cowo kayak gini ya ?” ujar Caca sambil memegangi bajunya sendiri
“Jangan langsung sewot begitu Choy, memang kenapa ?” balas Gus Mus lagi.
“Diskusi dengan topik macam begitu, hampir 90 % pesertanya kaum yang mau dipoligami itu, Gus” jelas Caca
“Begini susahnya jadi politisi” kata Gus Mus lagi
“Maksudnya apa itu Gus ?” tanya Caca
“Maunya, ikut bagaimana suara terbanyak. Seolah selalu ingin berada di pihak kebanyakan orang” jawab Gus Mus
“Bukan begitu Gus, maksudku gak ada salahnya kan aku dengarkan dulu apa dan bagaimana pendapat pa ustadz ini soal poligami” kilah Caca
“Agar besok kamu tidak perlu pake rok dan baju muslimah, begitu ? Ha..ha..ha.. Caca.. Caca...” sergah Gus Mus, dilanjutkan dengan tertawa.
“Ya, kira-kira begitu lah, gak keberatan kan pa ustadz ?” tanya Caca
“Ya jelas, ga ada yang keberatan” jawab Ustadz Ajat
“Baguslah, lanjutkan saja” ucap Caca lagi
“Saya ke sini ini, ya mau dengarkan pendapat Gus Mus soal poligami, juga bagaimana pendapat politisi muda kita, sebagai masukan penting bagi saya untuk  jadi narasumber besok” ujar Ustadz Ajat
“Yah, itu sih judulnya Ayam dan Telor, mana yang harus duluan ?” sanggah Caca
“Bukan begitu bung, masalah poligami itu kan tidak hanya menyangkut soal tekstual ayat-ayat al qur ‘an ataupun naskah-naskah hadits saja” jawab Ustadz Ajat
“ Tapi juga ada aspek lain yang terkait, seperti bagaimana tinjauan atas latar belakang kesejarahannya, masalah sosiologis, ekonomis atau bahkan mungkin pula ada aspek politis di dalamnya” jawab Ustadz lagi.
 “Kalau dari segi tekstual ?” tanya Caca
“Ya jelas dan tegas, ayat al Qur’an membolehkan seorang pria menikahi wanita lebih dari satu, maksimal empat dalam waktu bersamaan. Itu pendapat mayoritas  para ulama” jawab Ustadz Ajat.
“Begitu juga hadits, mengabarkan kepada kita bahwa ada saatnya Rasulullah menikahi wanita lebih dari satu. Ini yang kemudian digampangkan oleh kebanyakan orang sebagai sunah Rosul” jelas Ustadz lagi
“Sunah Rosul yang amat populer dan disukai oleh kaum laki-laki. Karena dianggap enak dan menguntungkan. He..he..he..” sela Gus Mus sambil tertawa.
“Menurut Gus Mus sendiri bagaimana ?” tanya Caca
“Yang disampaikan oleh pa ustadz itu, saya kira kerangka berfikirnya sudah tepat” jawab Gus Mus
“Yang perlu diingat  oleh kita itu, adalah bahwa ada ayat-ayat al Qur ‘an yang terkait langsung pada aspek latar belakang sosial historis, dimana dan kapan ayat itu diturunkan” tambah Gus Mus
 “Aduh, aku sudah mulai mumet nih Gus, kasih contoh dong biar lebih jelas begitu ?” pinta Caca.
“Ya, ayat atau hadits soal poligami itu contohnya” jawab Gus Mus, memulai menjelaskan atas permintaan Caca
“Itu adalah yang terkait langsung dengan latar sosial histroris saat itu. Tidak boleh kita lepaskan dari konteks zamannya”
“Kita ambil inti pesannya apa, kemudian kita aktualisasikan bagaimana dengan keadaan zaman sekarang, gitu lho ?”
“Tapi, bukan berarti ada sebagian ayat al Qur’an itu kemudian bisa dikatakan ketinggalan zaman, kan Gus ?” sela Ustadz Ajat
“Betul, yang ketinggalan zaman itu adalah mungkin sebagian dari tafsirnya” jelas Gus Mus lagi
“Tafsir itu terkait dengan orang yang menafsirkan, ada ruang dan waktu sejarah dimana saat itu penafsir hidup, yang amat mungkin ada yang berbeda dengan apa yang kita alami saat ini”
“Waktunya berbeda, kita terpisah 15 abad, tempatnya juga bisa berbeda, kita berbeda sejauh Indonesia dan Arab Saudi”
“Tapi inti pesannya dari ajaran al Qur’an itu, tetap sama, berlaku universal dan bersifat abadi, begitu kan ?” tanggap Ustadz Ajat.
“Betul, bukan saja berlaku bagi Indonesia atau Arab Saudi, tapi buat dunia dan alam semesta” jawab Gus Mus lagi.
“Kita kembali, ke soal poligami. Jadi, apa inti pesan dari ayat-ayat atau hadits yang terkait soal poligami itu ?” tanya Caca
“Inti pesannya, ya agar umat Islam lebih memuliakan kaum perempuan, begitu.” Jawab Gus Mus.
“Poligami dan memuliakan perempuan. Apa itu juga yang kemudian dijadikan sebagai dasar bagi kita apakah poligami itu layak dilakukan atau tidak ?” tanya Caca lagi
“Tepat sekali. Poligami itu prinsipnya boleh, tapi harus berfungsi untuk memuliakan kaum perempuan.” papar Gus Mus
“Makanya, dalam ayat lain, Allah mensyaratkan bahwa pria itu boleh berpoligami, tapi harus dapat berlaku adil terhadap mereka, kaum perempuan yang diperistri itu” papar Gus Mus lagi
“Dan kata Allah sendiri, berlaku adil itu amat sulit diwujudkan, betapapun sang suami itu menghendakinya demikian”
“Kalau begitu, berpoligami tapi tidak bisa berlaku adil atau justru tidak memuliakan perempuan, berarti tidak sesuai dengan inti pesan dari al Qur’an itu ya ?” tanya Caca kembali
“Betul, itulah makanya poligami tidak selalu dibolehkan, tapi juga ada yang kemudian bisa jadi diharamkan, atau sekurangnya tidak dianjurkan” jawab Gus Mus
“Sebelum Islam lahir, kaum perempuan di tanah Arab, itu kan tidak dianggap sebagai manusia biasa, sejajar seperti kaum pria” jelas Gus Mus lagi.
“Sejarah mencatat, bagaimana bayi-bayi perempuan banyak yang dibunuh, atau bahkan dikubur hidup-hidup karena dianggap tidak mempunyai nilai berarti bagi keluarga”
“Islam menghentikan kebiasaan itu, dan mengubah cara pandang orang tentang perempuan, untuk bersikap sama dan harus dimuliakan”
“Demikian pula soal poligami”
“Saat itu, kepemilikan istri tak ubahnya kepemilikan harta benda lainnya, seperti emas, kebun dan hewan peliharaan atau tunggangan. Sehingga seorang pria bebas memiliki berapapun istri yang ia maui.”
“Itu yang kemudian dikoreksi oleh Islam” tegas Gus Mus
“Termasuk kebiasaan orang Arab yang mau memperistri seorang anak perempuan yatim, hanya karena ingin memiliki  harta warisan orang tuanya. Itu tidak boleh, maka cari perempuan lain saja untuk dinikahi lagi”
“Itupun, harus dibatasi” tegasnya lagi.
“Secara bertahap, kepemilikan istri itu dibatasi, maksimal 4 orang perempuan saja secara bersamaan”
“Kemudian diberikan persyaratan yang berat, harus berlaku adil. Allah sendiri   yang mengatakan bahwa berlaku adil itu, pada prakteknya sangat sulit   untuk diwujudkan,  meskipun sang suami menghendakinya”
“Kalau tidak bisa adil, kata Allah lebih baik punya istri satu saja” papar Gus Mus lagi
“Jadi, pesannya adalah secara bertahap pada akhirnya Islam lebih menghendaki seorang pria bermonogami, beristri satu saja” simpul Gus Mus.
“Meskipun, pintu untuk berpoligami itu tidak ditutup sama sekali, sebagai jalan keluar dari kondisi yang khusus atau darurat”  simpul Gus Mus lagi.
“Tapi, poligami itu sering dibilang sunah rosul, bagaimana itu Gus ?” tanya Caca lagi.
“Itu yang salah kaprah”
“Apanya yang salah kaprah Gus ?”
“Sunah rosul itu dianggap mencontoh apa yang diperbuat oleh Rosul. Tapi poligaminya saja yang dicontoh, beristri lebih dari satu”
“ Lha, wong Nabi Muhammad itu istri pertamanya seorang janda, Khadijah yang berusia 15 tahun diatas beliau. Dan seumur hidup Khadijah, lebih dari 25 tahun beliau berumah tangga, tetap saja Nabi beristri satu kok”
“Jadi, kalau mau ikut sunah Rosul macam gitu, ya gampangannya sekalian saja gitu”
“Miliki istri pertamanya seorang janda, berusia 15 tahun lebih tua. Tunggu, istri pertamanya meninggal terlebih dahulu, baru boleh poligami”
“Ha..ha..ha..ha..” suara tertawa mereka bertiga
“Kalau begitu, tidak ada tempat bagi para suami yang beristri pertama seorang gadis, untuk bilang atas nama Sunah Rosul semacam itu, ya ?” tanya Caca makin penasaran.
“Iya, agar punya peluang sunah Rosul model gitu, nikahi janda yang lebih tua dari usia dirinya sendiri”
“Dan tunggu, sampai istri pertama itu meninggal dunia”
“Betul juga ya… ?” tanggap Caca.
“Di sini kan, umumnya, istri pertamanya masih gadis, jauh lebih muda, masih hidup lagi, baru juga 10 tahun menikah, eh sudah mau poligami” papar Gus Mus
“Sunah apanya ? Itu ambil enaknya saja, choy” kritik Gus Mus.
“Baru setelah lama Khadijah wafat, Abu Bakar, salah seorang sahabat beliau, menawarkan anaknya sendiri, Aisyah untuk dijadikan istri, sebagai pengganti Khadijah yang selalu diingat terus oleh Nabi” papar Gus Mus lagi.
“Itu pun, butuh waktu yang lama untuk menjadi suami istri yang sesungguhnya, karena saat dinikahkan Aisyah masih berusia 9 tahun, anak-anak, jadi masih gadis”
“Dan ini satu-satunya istri Nabi yang masih berstatus gadis. Makanya, bapak Aisyah disebut Abu Bakar, yang berarti Bapak dari seorang gadis”
“Kemudian, ini yang terpenting. Bahwa Nabi dan para sahabat menikahi perempuan-perempuan lain itu memang betul-betul karena ingin memuliakan mereka. Banyak dari mereka yang merupakan para janda yang sudah berumur, yang suami-suaminya meninggal, syahid saat berperang”
“Itu yang dinikahi oleh Nabi dan para sahabatnya, agar kaum perempuan tetap memiliki status sosial yang terhormat dan berkurang bebannya, dibandingkan bila tanpa kehadiran suami saat itu. Sekaligus pula menghibur atas wafatnya suami mereka sebelumnya.”
“Bahkan, ada seorang janda tua yang oleh karena para sahabatpun tidak bersedia menikahinya, karena sesuatu hal, toh oleh Nabi akhirnya dinikahinya juga”
 “Kalau poligami sekarang, bagaimana Gus ?” tanya Caca
“Ya itu, maunya ikut sunah, tapi cuma sunah jumlahnya saja yang lebih dari satu istri”
“Lantaran istri pertama sudah membosankan, lantas cari istri yang kedua dan seterusnya. Yang dicari, dipilih-pilih lagi sesuai dengan selera”
“Lha, wong kalau istri barunya itu cantik, masih muda, atau gadis lagi, ya siapapun, termasuk aku juga mau toh menikahinya. Apanya yang dikhawatirkan tentang perempuan yang dijadikan istri kedua, ketiga atau keempat seperti itu ?”
“Kalau benar mau memuliakan perempuan, ya cari di sekitar tempat tinggal mereka, atau di kampung-kampung halaman mereka. Siapa para janda tua, atau janda yang terbebani oleh anak-anaknya yang masih kecil, sehingga perlu dibantu dan dimuliakan status sosialnya”
“Coba, nikahilah mereka itu, poligami mereka. Mau enggak, mereka, para suami itu ? Itu baru sunah rosul”
“Tapi, sekarang banyak juga kan suami berpoligami yang memang niatnya benar-benar untuk memuliakan perempuan yang dinikahinya ?” tanya Ustadz Ajat
“Ya jelas, itu pasti ada… Tidak semuanya sembarangan begitu. Nanti banyak yang tersinggung lagi” jawab Gus Mus.
“Sangat tepat” ucap Caca
“Iyalah, memang harusnya begitu” balas Gus Mus
“Bukan, Gus. Maksudku orang yang meminta Gus Mus jadi narasumber soal poligami itu, tepat sekali. Karena secara rinci, Gus Mus sangat menguasai materinya” balas Caca lagi.
“Kalau itu betul. Tapi, kan bagi peserta diskusi, tidak cukup narasumber hanya menguasai materi” dalih Gus Mus.
“Harus juga hapal ayat dan haditsnya, fasih mengucapkan bahasa arabnya, dan tentu saja harus sesuai dengan disiplin ilmu yang digeluti. Agar nanti, tidak ada yang interupsi” dalih Gus Mus lagi.
“Ha..ha..ha..ha.. masih saja bisa ngeles” tanggap Caca sambil tertawa.
“Boleh saja ngeles, tapi kan kepancing juga komentari soal poligami, cukup banyak dan lengkap lagi” tambah UstadzAjat
“Komentarnya, penuh semangat dan sangat ekspresif” tambah ustadzAjat lagi.
“Ha…ha..ha..ha.. betul betul betul” kata Caca sambil tertawa lagi
“Itu karena aku sangat menghayati…, bagaimana caranya memuliakan kaum perempuan, gitu lho” elak Gus Mus.
“Luar biasa…, maka wahai kaum perempuan, kejarlah dia Gus Mus, rame-rame, sekarang juga” ujar Caca sambil berdiri dari kursinya dan melebarkan kedua tangannya.
“Jangan menyindir aku begitu…, entar bisa kualat lho sampeyan” balas Gus Mus
“He..he..he.. ampun kanjeng gusti prabu…, sekarang aku pamit ya..?” kelakar Caca, sambil menjabat tangan Gus Mus.
“Assalamu’alaikum....” ucap Caca
“Wa ‘alaikum salam”
“Aku duluan ya, Ustadz” ucap Caca lagi.
“Sama, saya juga mau permisi Gus, … Masukannya sudah lebih dari cukup, buat besok. Terima kasih” ujar Ustadz Ajat.
 Kemudian, Caca dan Ustadz Ajat permisi meninggalkan Gus Mus, dengan mengendarai sepeda motor masing-masing.
“Assalamu ‘alaikum....”
“Wa ‘alaikum salam.....”

(Seri Novel MeraihTiket Surga (MTS) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar