Sabtu, 19 Maret 2011

Bersahabatlah Dengan Siswa

Oleh Srie

Salah seorang sahabat sempat bertanya: “bagaimana cara mengajar yang efektif dan menarik?”. Belum juga dijawab, ia terus saja bercerita tentang kesulitan yang biasa dialami saat mengajar di kelas. Katanya, betapa sulitnya mengajak siswa untuk lebih serius dan berkonsentrasi dalam belajar. 


Mereka terkesan kurang peduli atas materi pelajaran yang disampaikan oleh sang guru. Mereka lebih suka saling mengobrol di antara sesama, bersikap acuh tak acuh dan sepertinya tidak betah berlama-lama untuk mengikuti pelajaran.

“Mereka, seperti tidak termotivasi untuk belajar” simpul sahabat guru tersebut.

Sebuah pertanyaan yang cukup klise terdengar, dan suatu keluhan yang sering terungkap secara berulang. Berhari-hari, berbulan dan bertahun, selalu saja ia temui. Walau dengan terpaksa, toh, mau tidak mau harus ia hadapi kenyataan itu. 

Entah, apakah mengajar, masih sebagai bagian dari proses pendidikan, atukah sudah menjadi hanya sekedar sebuah kewajiban pekerjaan semata.  Kini, ia seolah telah terjebak pada rutinitas pekerjaan yang menjemukan, bikin kepala penat atau bahkan seringkali menjengkelkan.

“Sang guru, bak kehilangan ruh dan semangatnya sebagai pendidik, kemudian telah berubah menjadi sosok yang asing saat berhadapan dengan para muridnya sendiri di kelas...”.

Sementara itu, tuntutan profesionalisme sebagai seorang guru, sepertinya tak kunjung jua, meskipun berbagai model pembelajaran telah ia terima. Berbagai metode mengajar telah sempat dipelajari, dan sesekali pernah dicoba untuk dipraktekkan. Sebut saja, misalnya ada model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), Quantum Learning, Cooperative Learning, Experiental Learning, atau metode Jigsaw, inquiry, diskusi, bermain peran, dan seterusnya. 

Begitu akrab istilah-istilah terebut bagi sang guru, karena itulah kata-kata yang selalu ia dengar saat menghadiri acara pembinaan atau pengarahan. Itulah, kata-kata yang selalu dicoba untuk dimasukkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Ternyata, seorang guru tidak cukup hanya mengetahui berbagai model atau metode pembelajaran yang selama ini selalu disarankan. Tidak otomatis, seorang guru yang dengan begitu rajin mengerjakan tugas-tugas teknis administratif, seperti RPP misalnya, lantas mampu mengajar dengan baik, efektif dan menarik. 

Bahkan, dalam hal-hal tertentu, pengetahuan teroritis tersebut, tidak jarang justru telah membuat kebingungan. Tugas-tugas teknis administratif, justru kian menambah beban, dan kurang berdampak secara langsung pada kesiapan guru saat mengajar di kelas.   

Perbaiki Komunikasi

Apakah anda termasuk salah seorang guru yang mengalami masalah atau kesulitan yang demikian dalam mengajar ? Ataukah, anda seolah masih selalu menungu akan datangnya model pembelajaran yang dianggap “ajaib” ? Mungkin, ada baiknya, sesekali anda mencoba resep sederhana berikut ini.

Resepnya, adalah perbaiki cara berkomunikasi dengan siswa. Banyak masalah, kata orang bijak, sering kali berawal dari cara kita berkomunikasi. Bukankah, mengajar adalah salah satu bentuk berkomunikasi ?  Berkomunikasilah dengan siswa, tak ubahnya berkomunikasi dengan para sahabat.  

Keberhasilan mengajar, berawal dari penempatan diri seorang guru di hadapan para muridnya. Apakah ia menempatkan diri sebagai bagian dari sahabat mereka, ataukah tetap membiarkan diri sebagai sosok yang asing, di luar dari bagian persahabatan mereka.

Sebagai seorang sahabat, sudah tentu guru akan cenderung mengembangkan bentuk komunikasi yang akrab dan menyenangkan. Dimulai dengan kebiasaan untuk menyapa mereka, menanyakan hal-hal yang sekiranya akan membuat mereka lebih merasa diperhatikan atau dihargai oleh guru, hingga memotivasi mereka untuk terus berusaha agar sukses dalam belajar. 

Mereka akan merasa lebih nyaman saat mendengarkan, merasa lebih perhatian saat proses pembelajaran, dan merasa lebih terkesan untuk terus belajar, tanpa bosan. Bukan sebaliknya, mereka dibuat menjadi merasa tertekan saat mendengarkan,  merasa disepelekan saat mengikuti pembelajaran, dan merasa bosan untuk segera meninggalkan ruangan.

Saat memulai mengajar di kelas, ada baiknya untuk tidak langsung pada materi pelajaran yang telah direncanakan. Sempatkan beberapa menit untuk menyapa mereka, menghampiri beberapa di antara siswa, menanyakan hal-hal ringan yang dapat menyenangkannya, berilah pujian atau penghargaan secukupnya. 

Berceritalah tentang sesuatu yang aktual, yang sekiranya mereka pun tahu dan berminat untuk mendengarkan atau memberikan tanggapan. Singkatnya, berkomunikasilah, atau berbicaralah dengan mereka secara akrab dan bersahabat, agar hati mereka dapat disentuh dan berhasil untuk diraih.

“Mengajar yang berhasil, adalah mengajar yang melibatkan hati, bukan bergantung pada ucapan kata-kata yang bersifat menekan, mengancam atau membuat mereka tidak nyaman..”.

Tidak Semua Diajarkan

Setelah suasana dianggap kondusif, maka mulailah untuk menguraikan materi pelajaran. Tidak perlu semua materi diajarkan dengan panjang lebar. Cukup menjelaskan kerangka materi, dan memberikan penekanan pada beberapa hal yang dianggap penting untuk diketahui dan dipahami oleh siswa. 

Selebihnya, biarkan lebih banyak waktu diberikan kepada mereka untuk menanggapi, bertanya atau berpendapat. Bahkan, bila perlu mereka harus dilibatkan secara aktif sejak awal guru menguraikan materi pelajaran, misalnya melalui pengajuan sejumlah pertanyaan kepada mereka. 

Tentu saja, pertanyaan yang diajukan adalah jenis pertanyaan yang mengundang mereka untuk berfikir, bukan pertanyaan yang sekedar untuk memilih jawaban, seperti ya atau tidak.

Sudah pasti, agar mereka siap menanggapi secara aktif, mampu berkomunikasi secara baik sesuai yang diharapkan dalam proses belajar di kelas, maka diperlukan kesiapan siswa dalam menguasai materi pelajaran, sebelum diajarkan oleh gurunya di kelas. 

Mengajar yang efektif adalah mengajar, dimana para siswanya telah belajar terlebih dahulu di rumah. Bukan masanya lagi, ketika guru hendak menguraikan materi pelajaran, justru memori otak siswa masih kosong, belum terisi sama sekali mengenai materi pelajaran apa yang akan dipelajari di kelas.

Tidak semua isi materi pelajaran harus dibahas atau diuraikan selama berada di ruangan kelas. Apalagi, tidak harus semua materi pelajaran perlu dicatat. Justru, secara lebih rinci, isi materi pelajaran akan lebih baik dan efektif bila dibaca oleh siswa saat mereka berada di rumah. 

Hampir tidak mungkin, keberhasilan mengajar tanpa disertai oleh kemauan siswa untuk membaca, belajar dan berlatih di rumah. Maka, berilah motivasi kepada mereka agar mau melakukannya.

Reward and Punishment

Bagaimana caranya agar siswa lebih termotivasi untuk mau mempersiapkan diri dan giat belajar di rumah ? Untuk tahap awal, sebelum materi pelajaran diajarkan, kembangkan kebiasaan untuk mengadakan pre-tes, baik secara tertulis maupun lisan. 

Berikan pemahaman kepada mereka, bahwa pre-tes, pertanyaan yang diajukan oleh siswa, tanggapan atau pendapat dari mereka selama proses belajar berlangsung, merupakan bagian dari penilaian secara keseluruhan. Termasuk pula, tugas atau PR yang harus dikerjakan oleh mereka di rumah.

Terapkan prinsip reward and punishment, beri penghargaan atau pujian kepada mereka yang berhasil mengerjakan tugas atau ulangan sesuai dengan yang diharapkan. Sebaliknya, beri mereka peringatan atau sedikit hukuman, seandainya mereka tidak mau mengerjakan tugas, atau kurang berhasil dalam ulangan, atau pre-tes. 

Semuanya itu dilakukan sebagai bagian dari upaya guru dalam membangun sistem pembelajaran yang efektif dan menarik.

Apakah mereka tidak merasa terbebani atau menimbulkan rasa tidak suka ? Insya Allah tidak, dengan syarat guru telah bersahabat dengan mereka! Bukan begitu, sahabatku ?  Salam persahabatan. *** [Srie]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar