Senin, 21 Maret 2011

Hati Yang Terbakar


 Selepas menunaikan sholat Maghrib, Lili sudah berada di Kantor Jama’ah Al Kaafah (JAK). Ia menunggu seseorang yang telah janjian akan menemuinya di ruang yang biasa dijadikan sebagai pusat aktivitasnya diJama’ah tersebut. Selang beberapa menit kemudian, Laksono menyusul memasuki ruangan itu. Tak berapa lama, mereka pun sudah terlibat dalam sebuah pembicaraan yang cukup serius.
 “Silakan, sekarang katakan yang perlu disampaikan ke Ana..” ucap Lili.

“Terima kasih, Ukhti. Akhirnya Ana diberi kesempatan. Sejak beberapa waktu lalu, Ana telah minta bicarakan soal ini” ujar Laksono
“Iya,.. katakan apakah itu ?” balas Lili
“Afwan sebelumnya. Kenapa Ukhti harus berbohong ke Ana..?” tanya Laksono
“Astagfirullah…. Maksudnya, bohong apa.. ?” ucap Lili
“Soal Zaza…” jawab Laksono
“Iya, tapi soal dia dalam hal apa…?” tanya Lili
“Ukhti sempat memberitahu Ana, minggu lalu, bahwa Zaza telah memberi keputusan menerima lamaran Amir”
“Terus… apanya yang ana bohongi…?” tanya Lili lagi
“Zaza dikabarkan telah memutuskan menerima lamaran, padahal saat itu belum” jawab Laksono lagi
“Saat itu, ana menangkapnya dari kata-kata Zaza sendiri” ujar Lili
“Kata-kata apa ?” tanya Laksono
“Ya, bahwa Zaza prinsipnya sudah menerima lamaran itu, tinggal masalah teknis saja. Makanya, dia minta waktu untuk keputusan finalnya”
“Astaghfirullah… kenapa Ukhti sampaikan hal yang masih belum final itu ke ana, sebagai sesuatu yang sudah dianggap final”
“Apakah itu sangat melukai perasanmu …?” tanya Lili
“Afwan,… Ana khilaf ” jawab Laksono
“Apakah semua itu, karena ada sesuatu yang membuat Ukhti  harus bersikap seperti itu ?” tanya Laksono
“Wallahi, Demi Allah… tidak…” sumpah Lili
“Jangan ucapkan lagi,  sumpah dengan mengaitkan nama Allah kali ini” desak Laksono
“Apa antum telah sejauh itu menuduhku telah dengan sengaja berbuat bohong soal Zaza?” sanggah Lili
“Ukhti telah berbuat sesuatu yang sudah melampaui batas kewajarannya..” balas Laksono
“Tidak..!” jawab Lili
“Itu, yang ana tangkap dari apa yang dilakukan oleh Ukhti, beberapa waktu terakhir ini”
“Itu juga yang ana tangkap, tentang sikap antum beberapa waktu terakhir ini” tuduh balik Lili
“Maksudnya apa, Ukhti ?”
“Antum, sudah banyak berubah” tegas Lili
“Apanya yang berubah ?”
“Tidak biasanya, antum tega menuduh ana telah melakukan kebohongan” jelas Lili, dengan nada yang makin tinggi
“Sampai beraninya, melarang ana tidak boleh mengatakan Wallahi, Demi Allah” jelas Lili lagi
“Sebelumnya, tidak pernah antum berkata seperti itu ke ana” tegas Lili
“Afwan, Ukhti…” ucap Laksono
“Tidak apa-apa, Ana yang salah” jawab Lili
“Ana salah mempersepsikan antum selama ini” imbuh Lili
“Bahwa, selama ini antum adalah masa depan dari pasangan hidup ana” imbuh Lili lagi
“Ukhti, telah dilanda rasa cemburu yang berlebihan” sanggah Laksono
“Tidak. Menurut ana, itu masih wajar sebagai perempuan” balas Lili
“Iya, tapi kenapa harus berbohong soal Zaza itu?” tanya Laksono
“Kenapa harus Zaza, yang seolah terus diperhatikan dan dibela ?” tanya balik Lili
“Kenapa antum baru berani katakan semacam itu sejak kehadiran Zaza di jama’ah ini ?” tanya Lili, sambil menunjukkan tangan ke arah Laksono
“Kenapa Ikhwan Lakso..?” tanya Lili lagi dengan nada suara yang lebih keras, yang kali ini tidak dapat lagi menyembunyikan air matanya mengalir.
“Astagfhfirullah… kendalikan dulu emosinya” pinta Laksono
“Tidak… Justru Antum yang tampak jelas emosi saat ana kabari bahwa Zaza telah menerima lamaran Amir” jelas Lili
“Kenapa bisa begitu ….?  Ana mohon jawaban !” pinta Lili, yang makin nampak jelas tidak lagi bisa menyembunyikan isak tangisannya.
“Atas hak apa… Antum tidak rela Zaza mau dinikahi oleh Amir ?” tanya Lili kembali
“Atas hak apa, Ikhwan Lakso…?”
“Apakah, itu karena nama Zaza memang telah benar-benar begitu dalam bersemayam di hati antum, sebagaimana yang pernah ana sampaikan dulu…?”
“Cukup Ukhti…, jangan lanjutkan kata-kata semacam itu lagi” potong Laksono
“Kali ini… berikan ana kebebasan untuk ungkapkan apa yang ada dihati ana, yang selama ini ana pendam” balas Lili, dengan suara yang bergetar.
“Benarkah, antum sudah menyimpan nama itu dalam-dalam ?” tanya Lili
“Ana butuh jawaban, Ikhwan Lakso… sekarang..!”
“Kenapa Ukhti begitu emosional seperti ini.. ?” potong Laksono lagi
“Karena, Zaza memang benar-benar telah memutuskan soal itu” jawab Lili
“Apa itu bukan kabar yang Ukhti disalahmengertikan lagi..?” tanya Laksono
“Maksud antum, ana telah berbohong lagi begitu ?” tanya Lili
“Bukan… Ukhti, bukan itu maksud ana..”
“Sesungguhnya, antum yang amat mungkin telah berbohong ke ana” ujar Lili
“Astaghfirullah,… dalam hal apa ana telah berbohong ?” ungkap Laksono
“Dalam hal… hati antum terhadap Zaza…” tegas Lili
“Apa kaitannya lagi dengan Zaza..?” tanya Laksono
“Zaza memang benar telah memustuskan soal lamaran itu” jawab Lili
“Memutuskan apa lagi..?” tanya Laksono lagi
“Kini, dia telah menolak lamaran itu” jelas Lili
“Subhanallah,… kapan Zaza katakan itu, Ukhti ?”
“Hari ini, barusan sekitar 2 jam yang lalu di Café Riau” jawab Lili
“Sungguhkah itu ?”
 “Sungguh, itu benar. Dan ana ke sini di antar langsung oleh dia dari sana”
“Subhanallah… Tapi, kenapa keputusannya bisa berubah..?”
“Antum, yang tahu persis kenapa  Zaza bisa berubah”
“Lho, maksud Ukhti…. ?”
“Antum sendirilah yang menjadi faktor penyebab utama, kenapa Zaza bisa berubah keputusan” jawab Lili dengan nada suara yang meninggi kembali.
“Sekarang, ana yang mohon ke antum untuk tidak perlu lagi berbohong, untuk menutupi hubungan antum dengan Zaza” pinta Lili
“Ukhti, itu jelas fitnah… sudah berlebihan !” sanggah Laksono
“Afwan, … itu sudah terdengar adzan Isya” ujar Lili
“Tapi, itu fitnah….” Sanggah Laksono lagi
“Sudahlah, ana tidak punya hak apapun atas diri antum” tegas Lili
“Karena, …  ana bukanlah apa-apanya bagi antum” imbuhnya  lagi
“Kecuali, ana adalah seorang akhwat yang pernah mau dikhitbah oleh seorang ikhwan.  Tidak lebih dari itu …” tegas Lili lagi
“Ukhti,… afwan, ana bisa jelaskan itu…” pinta Laksono
“Assalamu’alaikum....” ucap Lili, langsung pergi ke masjid meninggalkan Laksono.
Laksono masih belum beranjak dari ruangan itu. Selang beberapa menit kemudian, ia pun segera menyusul ke masjid juga untuk menunaikan sholat Isya. Sesaat, setelah usai sholat Isya, Laksono bermaksud menunggui kembali Lili di ruangan itu. Namun, hingga berapa lama, Lili tak kunjung datang juga. Ia pun, kemudian memutuskan untuk pulang ke tempat kos nya.
Segera saja, Laksono langsung menaiki sepeda motornya. Lalu, bergerak terus, melaju di sepanjang jalan menuju ke arah timur Kota Bandung. Sesekali, ia sempat tertahan oleh kemacetan di jalan. Hingga, akhirnya ia pun telah sampai di tujuan.
Beberapa saat, setelah tiba di tempat kos nya, lalu Laksono terlihat mengirimkan sebuah SMS kepada seseorang, yang berbunyi :
 “Ass. Mhn konfirmasi, apa bnr ukhti Zaza tlh mmtuskn mnolak lmran Amir? Sykron”
Tidak menunggu terlalu lama, SMS nya memperoleh balasan dari Zaza :
“Bnr. Aku sdh smpaikan kptsn itu ke Ukhti Lili, tadi sore di Cafe Riau. Mmg knp ? Trims. W. slm”
Laksono membaca SMS dari Zaza itu sambil tertunduk wajahnya. Kemudian ia merebahkan badannya di atas kasur, terus mematikan HP-nya. Ia tidak menjawab pertanyaan dari SMS Zaza malam itu. Begitu seterusnya, hingga esoknya Laksono berkali-kali menerima SMS dari Zaza, namun tak pernah lagi ia balas. Ia pun beberapa kali menerima panggilan telepon darinya, tapi tidak pernah lagi mau diangkat. Tanpa alasan yang jelas..... 
 (Seri Novel Meraih Tiket Surga (MTS) Oleh Sri Endang S.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar