Kamis, 23 Juni 2011

Sekolah : Antara Mutu, Gengsi dan Kesenjangan


Adalah sejumlah ibu-ibu muda di sebuah komplek perumahan di kawasan berdataran tinggi Cileunyi, Bandung Timur. Pada suatu waktu, dengan kompak dan sangat bersahabat, mereka mendaftarkan anak sulungnya masing-masing di sebuah Taman Kanak-Kanak (TK) yang tidak jauh dari perumahan secara bersama-sama. Setahun kemudian, hampir sebagian besar dari mereka masih kompak untuk mendaftarkan anak-anaknya ke sebuah Sekolah Dasar (SD) yang jaraknya agak jauh dari tempat tinggalnya.
Apakah karena tidak ada SD yang lebih dekat dengan tempat tinggal anak-anaknya ? Oh, sudah pasti ada, namanya SD Negeri di desa setempat. Lalu, mengapa tidak daftar di SD Negeri yang terdekat saja ? Pertanyaan yang amat mudah untuk dijawab. Karena, alasan mutu pendidikan di sekolah yang bersangkutan ! Jika ibu-ibu muda ini ditanya kenapa, tentu dengan sigap mereka akan menjawab, kira-kira :
“Pendidikan itu amat penting bagi masa depan anak, maka kami berusaha untuk memberikan pendidikan sekolah yang terbaik”.
Maka, mendaftarlah mereka ke sebuah SD Percobaan atau bahasa Inggrisnya Laboratorium School, yang lebih keren disebut Labschool di daerah Cibiru, Bandung. Kecuali, ada satu atau dua ibu muda, yang sejak awal tidak berminat untuk mendaftarkan anaknya ke SD yang dianggap unggulan dan favorit di kawasan Bandung Timur itu. Tanyakan, kepada ibu yang akhirnya “terpaksa” mendaftarkan anaknya ke SD Negeri setempat, mengapa ?. Jawabnya, “di manapun sekolahnya, yang terpenting bagaimana anaknya sendiri. Tergantung si anak, apakah mau berprestasi ataukah tidak”. “Anak yang berprestasi,” lanjutnya “bisa terjadi di sekolah manapun !”.
“Mantap !” kata saya dalam hati.
Singkatnya, dari 7 anak dari ibu-ibu muda yang mendaftar ke Labshool, ternyata hanya ada satu anak saja yang diterima setelah melalui sebuah proses seleksi tertentu. Lalu, sebagian ibu muda ada yang mendaftarkan anaknya ke sebuah SD Islam yang terbilang “cukup mahal”, masih di dekat SD Labschool. Sisanya, meski dengan “agak terpaksa” mereka mendaftarkan anak-anaknya di SD Negeri. Bukan SD Negeri di desa setempat yang berlabel Kabupaten Bandung, namun di SD Negeri yang tergolong Kota Bandung, meski lokasinya terletak persis di sebuah perbatasan Kota / Kabupaten.  
Suatu kali, saat ada kesempatan bertemu dengan mereka, saya bertanya : “Mengapa tidak jadi sekolah di Labschool, bu ?”. “Labschool memang baik, tapi kurang memberikan pendidikan agama, seperti di SD Islam ....” kata mereka. Jawaban yang agak berbeda terlontar dari sebagian ibu yang lainnya, “Saya kira, SD Negeri ini tidak kalah bagus. Kenapa kita harus bayar lebih mahal untuk sebuah kualitas yang tidak terlalu jauh berbeda dengan SD Negeri ?” kata sebagian dari mereka yang lainnya.  
 Tentu, kisah tersebut tidak akan pernah persis sama dengan ibu-ibu yang lain di daerah yang berbeda. Namun, ada garis merah yang mungkin hampir sama. Pertama, ada upaya dan perjuangan sungguh-sungguh dari seorang ibu untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi putra atau putri kesayangannya. Kedua, saat ini ada kenyataan bahwa pendidikan sekolah yang dianggap terbaik,  akan menuntut persyaratan yang lebih tinggi, tak terkecuali dan terutama, akan menuntut biaya yang jauh lebih tinggi pula bila dibandingkan dengan sekolah “biasa-biasa” saja. Ketiga, ada “gengsi” yang seolah dipertaruhkan secara status sosial oleh sebagian para orang tua, terkait sekolah mana yang akan dimasuki oleh anak-anaknya.
Sebuah pemandangan yang akan dapat kita saksikan secara berulang untuk setiap tahunnya, termasuk untuk tahun 2011 ini. Kira-kira, sebulan lagi ke depan usai pelaksanaan Ujian Nasional (UN), perjuangan ibu-ibu atau bapak-bapak untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi akan segera dimulai. Sebuah bentuk kegiatan para orang tua yang berlangsung secara serentak dan bersifat masal secara nasional, yang menurut hitungan Biro Pusat Statistik (BPS) memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap laju inflasi secara nasional.
Jauh-jauh hari, seorang ibu rumah tangga di sebuah kawasan perumahan Jl. Soekarno-Hatta Bandung,  menyampaikan keluhannya tentang betapa besarnya uang yang harus disediakan untuk anaknya yang akan melanjutkan sekolah di tingkat SMA. Katanya, ia harus mempersiapkan sekitar 25 juta untuk biaya pendaftaran, jika diterima di salah satu SMA terbaik di kota Bandung, sedangkan untuk SMP terbaik adalah sekitar 20 juta. “Cukup membuat saya lieur (pusing), dan stres” katanya mengeluh. “Tapi, sekolah yang lebih mahal, memang sebanding sih dengan kualitasnya” katanya lagi.
 Bagi mereka yang cukup memiliki tabungan, tentu tidak akan terlalu menimbulkan masalah. Pilihan bersekolah di sejumlah sekolah berkualitas akan selalu terbuka. Namun, bagi mereka yang selama ini hidupnya pas-pasan atau tidak memiliki tabungan yang cukup, sudah pasti, masalah pendaftaran sekolah akan mengakibatkan rasa pening di kepala. Jangankan, untuk menyekolahkan anaknya di sekolah favorit yang bertaraf internasional (SBI atau RSBI), yang katanya ada jatah sekian persen untuk kalangan tidak mampu. Untuk sekedar anaknya dapat melanjutkan bersekolah saja di sebuah sekolah yang berkualitas standar biasa, khsususnya di tingkat SMA atau bahkan di Perguruan Tinggi (di SD dan SMP sudah ada BOS), bukanlah masalah yang dapat dibilang enteng. Keadaan ini, sudah cukup untuk membikin pikiran mereka terus berputar, dan membuat isi kantong atau dompet mereka menjadi terkuras.  
Sungguh, sebuah keadaan yang amat mungkin dirasakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia, yang kian hari, dirasakan kian berat. Pendidikan sekolah, yang menurut UU Sisdiknas merupakan sarana demokratis bagi peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat, ternyata masih menampakkan wajahnya yang tidak sungguh-sungguh memberikan kesempatan yang sama untuk dapat bersekolah dengan kualitas yang relatif hampir sama. Justru, yang terjadi malah sebaliknya. Ambillah contoh kasus SBI atau RSBI yang serba full facility dan full budget berhadapan dengan sekolah negeri atau swasta yang kebanyakan. Sebuah gambaran yang nyata mengenai kesenjangan yang kian kentara, mengenai siapa yang sesungguhnya mampu dan tidak /  kurang mampu, siapa sebenarnya yang berhak atau tidak berhak untuk mengenyam sekolah bermutu atau cukup berstandar biasa-biasa saja.  
Apakah gambaran semacam itu akan kita saksikan lagi ? Entahlah. Saya hanya bisa  mengucapkan selamat berjuang, bagi para kaum ibu demi pendidikan dan masa depan anak-anakmu. Untuk sebagian di antara mereka, mungkin tak perlu memaksakan diri, hanya sekedar untuk sebuah gengsi. Masih ada jalan lain untuk anak-anak kita, agar tetap dapat bersekolah, agar tetap dapat sukses dan berprestasi. Semoga saja, bermanfaat. ***
Oleh Sri Endang Susetiawati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar