Minggu, 20 Maret 2011

UN, Aku Puas Tertawa !


“Hah, apa ..?!”
“UN... Ujian Nasional !” jawabnya lebih keras lagi.
“Oh... apa yang kau tahu tentang UN ?” tanyaku
Ia begitu sigap untuk menjawabnya. Dia bilang, UN adalah bagian dari upaya pemerintah pusat dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional. Katanya, agar mutu pendidikan kita tidak jauh tertinggal dari negara-negara lain. Katanya, agar sekolah-sekolah di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke memiliki standar mutu pendidikan yang sama. Katanya, agar tidak terjadi kesenjangan mutu sekolah yang terlalu lebar, antara sekolah yang di Jakarta dan di Sumbawa, antara di kota dan di desa, antara di pulau Jawa dan di Papua, serta pulau-pulau terpencil lainnya.
Aku hanya mendengarkannya saja. Sesaat, aku sempat terhenyak.
“Hah, apa...?!”
“...MUTU PENDIDIKAN NASIONAL.. !!!”
“Ha..ha..ha.......” aku tertawa terpingkal-pingkal.
Tanpa sadar, tawaku telah memotong pembicaraannya. Ia masih terdiam. Kali ini, ia tak dapat menyembunyikan perasaannya lagi. Ketidaksukaannya atas sikapku mulai ia tunjukkan. Wajah yang cemberut kusut, dengan tatapan mata yang hendak menghukum, mulai terlihat jelas terpampang. Sepertinya, lebih dari itu. Ia mulai tersinggung, kian meninggi seolah hendak meninggalkan bumi.
Aku mencoba bereaksi. Bagaimanapun, tetap aku hargai. Ia adalah satu-satunya sahabatku yang kini menjadi pejabat di Kementerian Pendidikan Nasional. Bergelar Doktor lulusan luar negeri. Mungkin, sebentar lagi gelar Profesor akan ia sandang dengan bangga. Masih beruntung, ia masih mau menemuiku dan mau bicara denganku. Lalu, aku ucapkan maaf atas sikapku.
“Kamu tidak mau bangsamu maju, Din...” ucapnya mulai agak tenang kembali.
“Mana nasionalisme kamu ....?”
Aku cuma terdiam. Jujur, aku agak tertusuk dengan tuduhan itu. Aku dianggap tidak nasionalis ? Heh ! Guru Matematika SMP dicap tidak nasionalis ? Aku tidak terima atas perlakuan itu. Aku hendak memprotesnya. Namun, aku mulai ragu. Aku tersadar kembali. Kubiarkan isu nasionalisme itu berputar-putar di otakku, lalu membumbung tinggi ke angkasa. Ya, bukan saatnya untuk mendebatnya. Maka, aku biarkan saja ia terus bicara.
“Calon Profesor dilawan ..?” kataku cuma dalam hati.
Sepasang telingaku telah kupersiapkan betul untuk menampung kata demi kata yang keluar dari mulutnya. Hati dan akal pikiranku untuk sementara aku kunci rapat-rapat. Bukan apa-apa. Agar ego-ku tidak selalu menuntutku untuk protes. Agar ia leluasa saat menumpahkan segala sikap, pandangan dan tetek bengek yang menyertainya.
Hah, rupanya ia mulai suka. Tampak, ia makin bersemangat bicara. Matanya mulai berbinar kembali dibalik kaca mata minusnya. Ia terus bicara. Hingga, ia menepukkan tangan di atas pundak kananku.
“Pokoknya, sukseskan UN. Demi masa depan bangsa yang lebih maju. Ok !”
“Baik, Pak !” jawabku singkat.
Ia melambaikan tangan ke arahku. Menjauh dari tempat yang minggu lalu baru saja dipakai untuk rapat guru-guru bersama Kepala Sekolah, dan para pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten di daerahku. Aku menjawab pula lambaiannya.
“Selamat jalan sahabatku” ucapku lirih.
Bayangan masa lalu, saat aku bersekolah bersama dengannya di SD kampungku dulu, sempat membawaku terhanyut. Sesekali, ia mengingatkanku untuk tersenyum mengenang saat sekolah yang sering mengundang tawa. Sayang, aku cuma mengingatnya sebentar. Telepon genggamku bergetar dan menjerit minta perhatianku. Aku terganggu untuk terus melanjutkan kenangan masa laluku itu.
“Heh, cuma SMS dari muridku”
“Bagaimana Pak, UN-nya besok lusa ?” bunyi pesan singkat itu.
SMS itu, mungkin mewakili mereka, para pelajar, yang masih menyiratkan kekhawatiran yang sangat mendalam. Pasti, tidak semua pelajar mengalaminya. Sebuah pertanyaan, mungkin selalu berputar dibenaknya, apakah mereka akan lulus UN ataukah tidak.
Aku cuma tersenyum. Senyum yang kecut. Tentu. Aku coba balas SMS kembali. Aku merasa perlu untuk mengetikkan kata-kata yang lebih panjang agar mereka dapat lebih memahami maksud dari SMS-ku.
“Tenang saja semuanya ! Tidak usah khawatir dengan UN. Kemarin, Bapak rapat dengan Kepsek dan para pejabat Dinas. Kata beliau-beliau, para guru “diminta” untuk membantu siswa. Agar UN-nya berhasil. Agar nilai US (Ujian Sekolah)-nya minimal angka 7 atau 8. Sampaikan ke teman-temanmu, ya ! Tks”.
Aku kirimkan bunyi SMS itu ke nomor murid-muridku. Aku tertawa kecil, walau cuma dalam hati. Aku terus lanjutkan kata-kata dalam SMS ku itu. Walau hanya dalam hati.
“Agar Kepsek-nya dibilang sukses. Agar pejabat daerahnya dibilang berhasil. Agar pemerintah pusat dapat bangga bertepuk dada”
“Ha...ha..ha...”
Aku puas tertawa.... *** 

(Oleh Sri Endang Susetiawati)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar