Rabu, 27 April 2011

Agama, Satu-Satunya Kebenaran dari Tuhan ?

-->
Oleh Srie

Dalam pandangan sosiologi pengetahuan, agama adalah pengetahuan yang diklaim para penganutnya sebagai berasal langsung dari Tuhan, atau melalui para Nabi. Pengetahuan inilah, yang kemudian – lagi-lagi menurut penganutnya – dianggap sebagai pengetahuan yang benar, atau disebut sebagai kebenaran itu sendiri. Karena dianggap berasal dari Tuhan, maka pengetahuan atau kebenaran yang melalui ajaran agama, oleh para penganutnya dianggap sebagai sebuah kebenaran yang mutlak.
 
Inilah, yang menjelaskan kepada kita, mengapa mereka yang meyakini sebuah kebenaran yang dianggap berasal dari agamanya, cenderung dipegang dengan sangat kuat, karena kebenaran agama dianggap bersifat mutlak. Masalahnya, kebenaran yang diklaim berasal dari agama itu, tidak selalu dipersepsi dan dipahami secara sama oleh para penganutnya. Adanya perbedaan konteks ruang dan waktu, konteks sosial budaya, dan kepentingan yang melekat pada diri setiap para penganut, tak sedikit yang kemudian menimbulkan perbedaan mereka dalam memahami kebenaran dari agama tersebut. Bahkan, pada tingkat tertentu, perbedaan pandangan mengenai kebenaran yang didasarkan atas agama, tak sedikit pula yang berujung pada terjadinya konflik sosial atau konflik yang bersifat politik. Mengapa ? Klik di sini.
Pertanyaannya, benarkah agama merupakan satu-satunya pengetahuan yang benar (kebenaran) yang berasal dari Tuhan  ? Ini jawabannya : Tidak !. Agama, bukanlah satu-satunya cara atau jalan yang digunakan Tuhan dalam memberitahukan mengenai kebenaran kepada manusia. Lalu, apakah cara lain yang digunakan oleh Tuhan, selain melalui agama ?  (1) Adalah melalui ruh yang ditiupkan langsung kepada manusia, saat masih berada di dalam kandungan sejak usia 4 bulan. (2) Adalah melalui taqdir (ketetapan, sunatullah) atas seluruh alam semesta, termasuk atas diri kita sendiri, yang tunduk atas hukum-hukum taqdir itu, karena kita adalah bagian dari alam semesta.
Kebenaran Ruhani (Hati Nurani)
Melalui ruh- lah, Tuhan memberitahukan tentang pengetahuan yang benar (kebenaran). Karena ruh langsung berasal dari Tuhan, maka ruh memiliki kecenderungan yang sama dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh Tuhan. Ruh, atau dalam terminologi psikologis kemudian lebih dikenal sebagai ruhani (terminologi sosiologis = hati nurani atau nurani), segala sesuatu yang mencakup aspek di luar jasad fisik manusia, memiliki kecenderungan atas kebaikan, kelembutan, keindahan, suka membantu, suka menyayangi, dan seterusnya. Mengapa ? Karena ruhani atau hati nurani manusia, memang berasal langsung dari Tuhan yang memiliki sifat-sifat kebaikan yang demikian. Dalam istilah Islam, maka kita kenal dengan sifat-sifat yang baik dari Tuhan (Asmaul Husna), seperti Ar-Rahman (Pengasih), Ar-Rahim (Penyayang), As-Salam (Pembawa Keselamatan, Kedamaian), Al-Qudus (Suci), Al-Ghofar (Pemaaf), Al-Jamal (Indah) dan seterusnya.
Pengetahuan manusia akan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran seperti itu, diperoleh tidak harus melalui ajaran agama. Bahkan, mereka, kelompok manusia yang paling terisolasi sekalipun dari akses pergaulan dunia luar, termasuk akses masuknya ajaran agama, toh, akan mengetahui mengenai nilai-nilai kebaikan dan kebenaran semacam itu. Inilah yang menjelaskan, mengapa manusia memiliki nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang bersifat universal, tanpa membedakan asal-usul, domisili wilayah, identitas agama, dan lain-lain. Inilah, kemudian yang dinamakan dengan kebaikan atau kebenaran kemenusiaan universal. Inilah, yang kemudian memungkinkan manusia di manapun jua, di seluruh penjuru dunia, amat mengkin untuk memperoleh titik temu mengenai nilai-nilai kemanusiaan universal. 
Kebenaran Taqdir Alam Semesta (Sunatullah)
Tuhan pun mengajarkan tentang pengetahuan yang benar (kebenaran) melalui ketetapan (taqdir) atas hukum-hukum yang mengatur alam semesta atau alam materi (dalam terminologi Islam dikenal dengan istilah sunatullah), termasuk mengatur diri kita sebagai mahluk yang bernama manusia. Bedanya, kita mengetahui mengenai kebenaran tersebut, tidak diperoleh dengan sendirinya, seperti kebenaran yang terdapat dalam hati nurani kita. Kebenaran yang terdapat dalam hukum alam materi akan diketahui oleh kita setelah melalui proses pengalaman, atau pengamatan sehari-hari. Pada tingkat yang lebih tinggi, pengetahuan tentang alam semesta, hanya diperoleh secara benar melalui proses kegiatan berfikir secara mendalam, dan serangkaian penelitian yang bersifat empirik.
Melalui alam semesta-lah kita akan mengetahui tentang kebenaran hukum-hukum yang mengatur benda fisik atau materi (kemudian dikenal dengan ilmu Fisika), yang mengatur mahluk hidup (Biologi), mengatur secara khusus materi dalam skala kecil atau atomik (Kimia), mengatur materi dalam skala yang sangat besar (Astronomi), dan seterusnya. Dalam hal pengetahuan kita tentang alam semesta (materi) ini, tentu tidak harus melalui agama. Bahkan, bagi mereka yang beragama berbeda atau tidak beragama sekalipun, akan dapat mengetahui mengenai kebenaran yang mengatur alam materi terebut. Meskipun, dalam pemaknaannya akan sedikit mengalami perbedaan, tergantung dari cara atau sudut pandang yang bersangkutan, termasuk salah satunya berdasarkan pengetahuan sebelumnya, yang antara lain mungkin berasal dari ajaran agama.   *** [Srie]
Bersambung .....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar