Rabu, 27 April 2011

Islam Ideologi dan Islam Nilai

-->
Oleh Srie

Dalam kacamata sosiologi pengetahuan (misal atas dasar pendapat Karl Mannheim tentang pengetahuan agama, atau Fazlur Rahman tentang tafsir kontekstual atas Islam), Islam adalah bagian dari pengetahuan yang dimiliki oleh umat manusia. Bedanya, pengetahuan Islam diyakini oleh pemeluknya sebagai bersumber dari Tuhan. Kalau pengetahuan yang lain, bersumber dari seluruh akal budi manusia sendiri, baik melalui kegiatan berfikir atau melalui pengalaman empirik, baik yang kemudian menjadi pengetahuan umum , filsafat, ilmu pengetahuan, atau seni dan budaya yang dimiliki oleh manusia.
Benar. Bahwa Islam diyakini berasal Tuhan. Namun, dalam proses sampai kepada manusia, termasuk kita saat ini, nilai-nilai Islam diserap oleh akal budi kemanusiaan juga. Kita tidak memperoleh pengetahuan tentang  nilai-nilai Islam langsung dari Tuhan, karena kita bukan nabi atau rosul. Kita dapat menyerap nilai-nilai Islam, bisa melalui proses membaca buku (termasuk buku al-qur’an dan atau terjemah/tafsirnya), ikut diskusi, ikut pengajian atau ceramah, melalui pendidikan sekolah atau madrasah, atau melalui berita dan informasi yang diperoleh melalui berbagai macam media.  Artinya, sudah ada faktor manusia yang ikut serta dalam proses  memahami tentang nilai-nilai Islam itu sendiri. Sudah ada faktor subjektif dari manusia yang turut berpengaruh dalam mempersepsi dan menghayati atas nilai-nilai Islam yang absolut berasal dari Tuhan.
Dalam mempersepsi dan menghayati nilai-nilai Islam itulah, faktor pengalaman hidup, kondisi psikologi, latar belakang sosial, ekonomi dan politik seseorang akan turut mempengaruhi atas pemahaman dan penghayatannya atas nilai-nilai Islam. Jika gabungan dari itu semua, nilai-nilai Islam, pengalaman hidup, kondisi psikologi, latar belakang, hingga hasil pemikirannya sendiri  direkonstruksi menjadi sebuah gagasan yang lebih konkret, terukur dan sistematis, maka nilai-nilai Islam akan berubah menjadi ideologi Islam. Ideologi, jelas sangat berbeda dalam hal pengertian dan tingkatannya dengan nilai-nilai. Ideologi sangat jelas dalam merefleksikan sebuah kepentingan atas kelompok tertentu, yang biasanya cenderung bersifat tertutup, dan kurang bersikap toleran atas perbedaan pandangan atau pendapat pihak lain.  
Tentu, pemahaman ideologi Islam akan lebih “sempit” dari nilai-nilai Islam sendiri. Mengapa ? Karena Islam sudah ditafsirkan dalam konteks pengalaman orang perorang yang menjadi tokohnya, serta berdasarkan atas pengamatan dan pengalaman yang bersangkutan dari konteks lingkungan masyarakatnya yang tengah berkembang. Maka, amat mungkin bahwa apa yang disebut pemahaman gagasan ideal yang konkret (ideologi) tentang nilai-nilai Islam di suatu wilayah, belum tentu sama atau bahkan belum tentu dianggap cocok oleh kaum muslim di wilayah lainnya yang berbeda secara sosial, politik, ekonomi dan kultural.
Juga, pemahaman ideologi suatu kelompok masyarakat atau bangsa di suatu waktu dahulu, akan berbeda dengan pemahamannya di waktu sekarang, atau yang akan datang. Faktor tempat, ruang, waktu dan pengalaman inilah yang akan membedakan tentang bagaimana ideologi itu dipahami dan dihayati secara berbeda-beda. Amat mungkin, sebuah ideologi akan dianggap telah usang atau kurang relevan seiring dengan berkembangnya waktu dan ruang, di suatu masyarakat atau bangsa di dunia yang berbeda-beda.
Dalam ideologi, maka faktor subjektivitas dan kepentingan para pengusungnya jelas amat menonjol, yang akan membedakan dengan nilai-nilai itu sendiri yang masih bersifat universal. Inilah yang menjelaskan, misalnya mengapa aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh warga Palestina atas tentara Israel, dimaknai secara berbeda atas apa yng dilakukan oleh Dr Azhari, Noordin M Top dan jaringannya di Indonesia. Tentu, kita akan merasakan ideologi yang berbeda mengenai kaum muslimin di Afghanistan yang selalu bergolak, dengan kaum muslim diIndonesia yang dianggap reltif lebih tenang atau stabil. Hingga, kita akan merasakan ada sesuatu yang berbeda tatkala seorang tokoh Islam berbicara tentang konsep ideal Islam (dalam pengertian ideologi), yang menurut kita tidak merasakan apa yang menjadi alasan yang kuat dan urgensi mengenai apa yang menjadi fokus perjuangan mereka.  
Menurut kita, aksi bom bunuh diri atau pelatihan militer oleh rakyat sipil, bukanlah sesuatu yang penting, bahkan tidak perlu sama sekali. Tidak ada urgensinya, tidak ada relevansinya dengan masalah perjuangan Islam di Indonesia yang kita pahami dan kita hayati dengan kacamata yang objektif dan jernih alam tataran nilai-nilai Islam secara universal, bukan berdasarkan kacamata ideologi Islam, yang terkadang kita sendiri tidak bisa memahami secara persis, apa dan mengapa latar belakang dan kepentingan sejumlah aktivis atau tokoh Islam tertentu sampai berkesimpulan seperti itu. Meskipun, kita pun dapat mencoba untuk menebak-nebak atau memperkitrakannya berdasarkan catatan pengalaman atau teori keilmuan yang telah diakui objektivitasnya.
Stigma “kafir” yang dialamatkan kepada mereka yang tidak sejalan dengan ideologi mereka, kemudian menjadi sangat jelas, bahwa konsep Islam yang digunakan adalah berada pada tataran Islam ideologi, bukan pada tataran Islam nilai lagi. Karena, sudah ada faktor sistem politik, sosial dan budaya yang hendak diterapkan oleh mereka, sebagai bagian dari sebuah sistem ideologi mereka.
Beda yang paling konkret adalah, bahwa Islam Ideologi sudah berbicara sejak awal mengenai kepentingan yang paling konkret sekalipun dari kelompoknya. Bahkan, sampai soal sistem kekuasaan yang bagaimana yang akan diterapkan, bagaimana cara merebutnya, bila perlu  dengan cara apapun, siapa yang layak akan memimpin negara, dan seterusnya. Semuanya ini, mereka yakini sebagai ajaran Islam, padahal itu merupakan pemahaman atas nilai-nilai Islam yang diyakini oleh mereka berdasarkan pemikiran, pengalaman dan kepentingan konkret mereka sendiri.
Sudah jelas, Islam pada tataran nilai sama sekali tidak berbicara secara konkret mengenai bagaimana bentuk sistem politik. Apakah akan berbentuk kerajaan, republik, parlementer, presidensial, kesultanan, kekhalifahan, atau apapun nama dan bentuknya. Toh, dalam sejarah Islam pun bentuk sistem politik negara tidak mengambil bentuk yang tetap dan pasti. Misalnya, bagaimana proses pemilihan Nabi sebagai pemimpin atau kepala negara, kemudian terpilihnya Abu Bakar yang dilakukan secara aklamasi, penunjukkan Umar oleh Abu Bakar, pemilihan Utsman dan Ali, hingga sistem dinasti Umayah, Abasiyah, Fatimiyah sampai Turki Usmaniyah, yang ternyata berbeda dengan proses pemilihan Khulafaur Rasyidin yang tidak menunjuk anak kandungnya sendiri sebagai pengganti raja.
Tentu saja, dalam hal lain, termasuk soal sosial, ekonomi, budaya dan seterusnya, akan mengalami perbedaan manakala nilai-nilai Islam hendak diimplementasikan pada tataran yang lebih konkret. Apalagi, kalau nilai-nilai itu dipahami dan dihayati berdasarkan sistem ideologi tertentu, yang kita kurang paham latar belakang dan kepentingannya secara persis.  Termasuk, sifat ideologinya yang kurang terbuka, dan terkesan anti kritik,  anti dialog dan kurang menghargai keberagaman sebagai sebuah realitas yang justru diakui sendiri oleh Tuhan. Lengkaplah sudah, bahwa Islam yang dipahami secara ideologis, dengan cara yang demikian, telah mengkerangkeng nilai-nilai Islam dalam wadah yang sempit, kemudian mereduksi dan mendistorsinya, hingga hanya berdasarkan kepentingan kelompoknya sendiri yang tertutup atau eksklusif.
Islam adalah sistem nilai dan ajaran yang bersifat universal dan berlaku sepanjang zaman. Adalah sangat disayangkan, jika pemahaman dan penghayatannya terkesan dipaksakan berdasarkan atas pandangan ideologis yang tertutup, anti kritik, anti dialog, dan anti keberagaman dalam masyarakat. Semoga, kita mampu menempatkan Islam pada tempat yang paling terhormat dan mulia, sebagai sebuah nilai dan ajaran yang berasal langsung dari Sang Maha Terpuji dan Termulia. *** [Srie]


1 komentar:

  1. Itulah mengapa muncul fanatisme, tidak lain karena meyakini Islam sebagai ideologi dengan pengetahuan minim...

    Jempol untuk tulisan ibu Srie...

    BalasHapus