Selasa, 26 April 2011

Jangan Pernah Masuki Arena, Di mana Kamu Pasti Kalah !


“Hidup itu persaingan” kata pembicara diskusi, seorang dosen yang bergelar Profesor.  “Maka,....” lanjutnya “...jadilah pemenang di antara sekian banyak persaingan dalam hidupmu...!”. Saat itu saya sempat bertanya, “Maaf Pak, apa kira-kira kunci strategi dalam memenangkan persaingan itu ?”. “Jangan pernah masuki arena, dimana kamu pasti akan kalah !” jawab beliau dengan tegas.
Kata-kata itu pernah diucapkan oleh Pak Jusuf Amir Feisal, guru saya di IKIP Bandung, lebih dari dua puluh tahun yang lalu saat saya mengikuti sebuah acara training kepemimpinan mahasiswa di Bandung. Saat itu, beliau memberikan materi ceramah berjudul “Strategi Memenangkan Persaingan” di hadapan sekitar 60 orang mahasiswa baru se-Kota Bandung. Semalam, kata-kata itu saya sampaikan kembali pada seorang anak muda saat secara kebetulan bertatap muka secara maya melalui Facebook. Dulu, ia pernah jadi murid saya, dan kini sedang kuliah di Bandung.
Entahlah, sesekali ada saja mereka yang pernah saya ajar itu, muncul di dunia maya untuk sekedar mengobrol kabar, lalu tak jarang ada yang meminta sekedar saran. Saat itu, saya katakan, bahwa kegagalan atau kekalahan dalam sebuah persaingan, tidak jarang disebabkan oleh karena faktor salah memilih arena persaingan yang dimasuki. Misalnya, sebagai sebuah perumpamaan, ketika seseorang kurang memiliki fisik tubuh yang kuat dan kekar, mengapa harus memilih arena tinju sebagai arena persaingannya ? Mengapa ia tidak memilih arena bulutangkis, yang tidak memerlukan kontak fisik, atau bakhan catur, yang yang sangat mengandalkan kemampuan otak ? 
Ketika seseorang tidak memiliki cukup dana atau modal yang memadai, mengapa harus bermain dalam sebuah persaingan bisnis yang mensyaratkan adanya kekuatan modal sebagai penopang utama ? Pilihlah, jenis bisnis yang lebih mengandalkan otak dan kreatifitas, karena di situlah bagi seseorang yang demikian, akan memiliki peluang yang cukup untuk bisa menang. Begitu pula, bagi mereka yang kurang cukup memiliki persyaratan formal, mengapa harus mau bertarung di sebuah arena, dimana lembaran ijazah atau sertifikat menjadi bersifat mutlak untuk meraih sebuah kemenangan.
Setiap arena persaingan, pasti memiliki persyaratan dan aturannya sendiri dalam meraih sebuah kemenangan. Kekalahan atau kegagalan, salah satunya seringkali berawal dari sebab salah pilih arena dan salah memasuki arena dengan persyaratan dan aturan yang sejak awal tidak menguntungkan bagi dirinya untuk menang. Ada yang bertanya, “Apa tidak mungkin, kita akan bisa juga meraih kemenangan di arena yang sebelumnya dianggap kurang menguntungkan ?”. Jawaban saya :
“Bisa saja. Namun, akan diperlukan perjuangan yang lebih berat dan lebih berliku, bila dibandingkan dengan arena yang telah lebih dahulu kamu kenali dan dikuasai”.
“Pilihlah perjuangan yang lebih ringan dan jalan yang lebih pendek, serta waktu yang lebih singkat untuk dapat meraih sebuah kemenangan. Bukan sebuah pilihan arena yang hanya akan membuatmu kalah, karena harus menyerah terlebih dahulu di tengah jalan,  atau karena orang lain telah jauh lebih dulu berada di depan.... untuk menang.”
“Itulah sebuah pilihan yang cukup realistis dan rasional...” tegas saya.
Agar uraian kalimat di atas dapat lebih mudah dipahami oleh mereka, dan tidak mudah segera terlupakan, maka bila memang diperlukan, biasanya saya akan segera memberikan sebuah kesimpulan. Antara lain, adalah sebagai berikut :
1. Yakinlah, bahwa setiap diri kita memiliki sejumlah kelebihan atau keunggulan, maka tetaplah percaya diri dalam menjalani hidup yang penuh persaingan.
2. Kenali diri sendiri, hingga secara pasti kita mengetahui betul apa kelebihan atau keunggulan yang dimiliki oleh diri sendiri.
3. Kembangkan kelebihan atau keunggulan milik diri sendiri, dengan cara belajar dan berlatih keras secara konsisten dan berkelanjutan, agar lebih terasah dan tajam, hingga dapat diandalkan dalam sebuah persaingan.
4. Pilih arena persaingan, dimana kamu berpeluang cukup besar untuk dapat meraih kemenangan, kecuali bila kamu masih bisa berbangga diri untuk mau menjadi seorang pecundang, atau kamu merasa cukup hanya sekedar ingin menjadi seorang penonton atau penggembira saja.
5. Masuki arena persaingan itu, lalu perjuangkan sekeras mungkin untuk dapat tampil sebagai pemenang.
6. Selanjutnya, rayakan kemenangan itu, untuk memperteguh diri dalam mempersiapkan  peraihan kemenangan berikutnya. 

Demikian, terima kasih.

(Oleh Sri Endang Susetiawati)

2 komentar:

  1. Betul sekali apa yang termuat dalam tulisan ini....kita harus tahu dimana kita bisa menang dan diman kita bisa kalah, jangan pernah masuki wilayah yang telah kita ketahui jelas bahwa kita akan kalah...maka berfikirlah realistis, temukan sesuatu yang akan membuat kina menang, dan masuklah dengan segenap keuatan untuk menang :D
    begitu menurut saya :p

    BalasHapus
  2. @Pak Imam. Pesannya diterima dg sgt tepat. Trims

    BalasHapus