Sabtu, 02 April 2011

JK, Agum, Soetiyoso : Solusi Bagi Kisruh PSSI ?

    Bagi saya, PSSI lebih dari sekedar sebuah organisasi cabang olahraga terbesar dan terpopuler di negeri ini. PSSI, juga merupakan aset bangsa, alat pemersatu, sarana pendidikan sportifitas, kerjasama, kekompakan, dan perjuangan dalam mencapai sebuah prestasi. PSSI, pun merupakan sarana penanaman nilai-nilai kebangsaan (nasionalisme) dan penumbuhan rasa bangga sebagai bagian dari warga bangsa bernama Indonesia.  
Ketika, idealitas tentang PSSI seperti diatas menemui sebuah kenyataan yang terjadi saat ini, lantas bagaimana solusi yang dapat diambil ? Ketika, kisruh PSSI yang berujung “pembatalan Kongres” di Pekanbaru, minggu lalu, disertai pelaksanaan “Kongres lanjutan” yang diklaim oleh 78 pemilik suara sah Kongres, kemudian diikuti oleh pernyataan Menegpora Andi A. Malarangeng yang tidak mengakui keberadaan pengurus PSSI dibawah kepemimpinan Nurdin Halid dan Nugraha Besus, meski mereka masih melakukan perlawanan, lantas apa yang dapat dilakukan agar PSSI tetap dapat terselamatkan ?
Adalah menarik saat menyaksikan acara talkshow bertajuk “Editorial Club” yang dipandu oleh Prof. Tjipta Lesmana di sebuah stasiun TV swasta semalam. Acara ini  menghadirkan empat pemimpin redaksi, seperti Pemred Tabloid Bola, Pemred Tempo, Pemred Suara Pembaruan dan Pemred TV One.  Agar terselamatkan, kata Ian Situmorang, Pemred Harian Bola, perlu figur independen yang dapat diterima oleh kedua belah pihak, yakni kubu Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie cs, serta kubu George Toisuta, Arifin Panigoro, dan pemerintah yang diwakili oleh Kemenegpora.
Targetnya, adalah bagaimana agar PSSI tidak mendapat sangsi dari FIFA, sekaligus PSSI segera dapat melaksanakan fungsi dan perannya sebagai induk olahraga sepakbola, terutama dikaitkan dengan jadwal pertandingan internasional yang sudah dekat, seperti SEA GAMES 2011 dan kualifikasi Piala Dunia 2014. Ian, mengusulkan agar menunjuk tiga tokoh yang dianggap kredibel untuk mengemban tugas tersebut, yakni Jusuf Kalla sebagai mantan Wapres yang dianggap dapat menjembatani kepentingan pemerintah, Agum Gumelar sebagai mantan Ketua Umum PSSI, dan Sutiyoso sebagai mantan pembina Persija yang dianggap cukup berperan dalam memajukan perkembangan sepakbola, khsusnya di Jakarta.
Ketiga tokoh inilah yang bertugas untuk memediasi berbagai pihak yang bertikai, kemudian merumuskan jalan keluar, sekaligus mengantarkan terselenggaranya Kongres PSSI kembali, sebagaimana yang diinstruksikan oleh FIFA sebelumnya. Tentu, hal ini dengan terlebih dahulu memperjuangkan agar FIFA bersedia menerima usulan tersebut, tidak kemudian FIFA langsung memberikan sangsi kepada Indonesia. Tentu, hal ini dapat terjadi dengan asumsi bahwa Kongres “lanjutan” di Pekanbaru yang diikuti oleh 78 pemiliki sah, seandainya nanti dianggap oleh FIFA tidak sah.
“Kita berharap, FIFA mau memahami bahwa terlalu sayang bila Indonesia begitu saja diberi sangsi, mengingat betapa luar biasanya sepakbola di negeri ini, meski Timnas-nya  belum banyak menuai prestasi” ucap Pemred Tempo.
Apakah hal tersebut, merupakan sebuah solusi terbaik bagi penyelesaian kisruh PSSI saat ini dengan tidak mengorbankan kepentingan nasional Indonesia melalui sepak bola ? Kalau memang itu adalah sebuah solusi, mengapa tidak untuk dicoba. Betapapun, hanya secercah harapan bagi kebaikan masa depan sepak bola nasional, tampaknya kita bersepakat untuk mencoba, dan mendorong mereka untuk mengusahakan dan mewujudkannya : Menjadikan sepakbola sebagai bagian dari alat pemersatu  bangsa,  pendidikan sportifitas, nasionalisme, dan sarana menumbuhkan kebanggan nasional.   
Bagaimana pendapat anda ? Terima kasih. Salam bola : Garuda di dadaku, garuda kebanggaanku .....!***

1 komentar:

  1. tidak ada solusi yang tepat sepertinya,,,sampai sampai terpecah seperti itu,,,,

    BalasHapus