Rabu, 13 April 2011

Keajaiban (2)


Oleh Sri Endang Susetiawati

Kalender telah berganti untuk yang kesepuluh kali. Vonis dokter begitu sakit aku dengar.
“Ibu harus dioperasi !” ucapnya menakutkan.
Sakit. Lebih dari penyakit yang aku tanggung selama ini.

Mereka yang aku kenal.
Mulut itu, seolah bergunjing. Pasangan mata itu, terkesan menyudutkan.
“Oh... ibu yang tidak punya anak itu, ya ?” kata tetanggaku saat ada sahabat yang bertanya mengenai alamat rumahku.
Sakit. Lebih sakit dari penyakit yang aku derita selama ini.

Kista enam senti di ujung rahim sebelah kiri.  
Kenyataan itu, begitu menusuk. 
Nyaris  memupus harapan, seorang ibu.
Sepenuhnya.

Aku tersudut, merasa bersalah.
Aku terhempas, bak sampah yang tiada guna.
“Oh, Tuhan.... Kau telah beri hambamu, beban yang tiada lagi sanggup untuk menanggungnya...” ucapku lirih di setiap malam saat hari mulai berganti.

Ihtiar itu telah aku tempuh.
Harapan itu telah aku gantungkan pada setiap orang.
Katanya, mereka dapat membantuku untuk secercah harap dalam menggapai impian.

Aku lelah. Mengarungi harapan yang tiada bertepi.
Ingin aku lupakan semuanya. Pun, hidupku ini yang hampir tiada arti.
Aku ingin kembali.

Lama, aku dalam gamang.
Gundah gulana, kesal dan marah, berkali aku sampaikan.
Dalam aku bersimpuh dan bersujud.
Aku menangis, hati kian teriris. Aku meratap, penuh hiba.
Sungguh, tak sekalipun Engkau menyahutnya.

Aku merasa sendiri.
Berjalan dan berlari. Tanpa kehadiran-Mu, ya Robbi.
Aku lelah. Mengarungi harapan yang tiada akhir.
Aku tak berdaya. Aku terima takdirku. Dengan ikhlas.
Aku telah benar-benar melupakannya.

Hingga, di suatu hari. Keajaiban itu menghampiri.
Benar. Bagiku, itu sebuah keajaiban.
Sungguh, benar-benar terjadi.
Usai menunggu selama dua pekan lebih, dua garis merah itu akhirnya muncul jua.
“Alhamdulilahirobbil ‘alamin ...” ucapku selepas adzan Isya.

Seketika. Aku jatuhkan dahi ini di atas lantai rumahku.
Lama menempel. Hingga berbekas.
Dalam sujud, mulutku hanya terdiam. Terkunci, lama sekali.
Dalam sujud, hatiku terus berucap syukur.
Berkali-kali, tiada henti.

“Terima kasih, Ya Allah....”
“Saat kami berharap, Engkau menahannya...”
“Saat kami memohon dengan sangat, Engkau menundanya”
“Saat kami pasrah, dan berserah diri sepenuhnya kepada-Mu, Engkau memberinya...

Esoknya, aku yakinkan diri dengan datang ke Rumah Sakit.
 “Keajaiban telah terjadi. Selamat Bu, ini luar biasa. Anda bisa hamil saat penyakit kistanya masih ada. Allah Maha Besar dan Maha Kuasa” ucap dokter yang telah memeriksaku.
 “Terima kasih Dok. Terima kasih, ya Allah” balasku, dengan penuh ceria.
Aku pulang dengan gembira.

“Subhanallah.... Walhamdulillah... Walaa ilaaha illallahu Allahu Akbar....” ucapku sering kali pada setiap kesempatan.

Allah Maha Besar ....!
Selalu ada hikmah, setiap kali kita menemui musibah.
Selalu ada kemudahan, setiap kali kita menemui kesusahan.
Selalu ada kebahagiaan, setiap kali kita mampu bersabar, berpasrah diri dan bertawakal.
Cukup Allah yang mengurus segala apa yang kita butuhkan.
Insya Allah.....

Aku yakin atas semuanya. Aku sampaikan semuanya dengan benar.
Aku persaksikan semuanya di hadapan-Mu, ya Tuhan.

Tak terkecuali, saat sekarang ini.
Saat sepuluh tahun kemudian.
Saat aku, bersama suami dan anak-anak kami, berada di hadapan rumah-Mu yang suci.

Disela-sela kami berdoa di depan Ka’bah.
Seraya kedua tangan yang menengadah.
Kami pun bersama memanjatkan puja dan doa ....

“Kali ini, kami baru ber-umrah, ya Allah...!”
“Insya Allah, tahun depan, kami akan kembali datang ke sini, untuk berhaji, memenuhi panggilan-Mu, ya Illahi.... !”
“Kami sangat merindukan-Mu, ya Robbi.....”  
 “Amiin ....” pungkasku. ***



1 komentar:

  1. Subhanallah...semoga saya bs spt bu srie. Sabar dlm ikhtiar & doa, pasrah bukan lantar menyerah. amin.

    salam,rakhma

    BalasHapus