Jumat, 22 April 2011

Ketika Ayah Menangis Malu, Menyesali Perbuatan Anaknya

Seorang ayah sempat menangis tersedu-sedu saat diwawancarai secara langsung di salah satu stasiun TV, kemarin sore (17/4). “Abu Thalib, paman nabi Muhammad SAW, yang katanya belum masuk Islam saja, saat itu masih dihormati dan diperlakukan dengan baik oleh Nabi. Sementara, saya sendiri sebagai ayah kandungnya yang jelas-jelas beragama Islam, malah tidak dihormati dan dianggap kafir oleh Syarif” ucap Abdul Ghofur, ayahanda dari terduga pelaku aksi bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon, Muhamad Syarif, jum’at minggu lalu.
Sebuah pemandangan yang cukup memilukan sekaligus mengundang simpati bagi mereka yang secara kebetulan menyaksikannya. Seorang ayah yang juga sering berceramah di sejumlah masjid atau tempat pengajian, yang sering mengecam aksi kekerasan dan berharap agar tidak diikuti oleh jama’ahnya, ternyata justru anaknya sendiri yang diduga terlibat aksi bom bunuh diri.
“Saya, sebagai ayah Syarif, atas nama keluarga besar, merasa sangat malu, dan mohon maaf kepada seluruh warga Cirebon, kepada jama’ah Jum’at di sana, pada bapak-bapak polisi, khususnya bapak Kapolresta yang telah menjadi korban. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya malu dan ikut mengutuk atas perbuatan anak saya....” ucapnya lagi. Kembali, ia tak mampu lagi untuk melanjutkan kata-katanya.
Cendekiawan muslim, Prof. Dr Azyumardi Azra menyebut bahwa ada tiga tahap yang terjadi pada seseorang untuk menjadi seperti Syarif atau mereka yang telah melakukan aksi bunuh diri. Katanya, pertama, tahap Hijrah. Yakni, tahap dimana seseorang masuk dalam komunitas tertentu yang dianggap lebih sesuai dengan cita-cita “Islami”, dan keluar dari ikatan komunitas lain yang dianggap kurang atau tidak “Islami”. Pada tahap ini, katanya lagi, seseorang tidak seja beralih (hijrah) dalam hal sistem nilai yang diyakini. Tapi, juga beralih pada hal-hal yang bersifat simbolis. Antara lain, adalah terjadi pada penampilan busana yang terjadi pada Syarif dan diamini oleh ayahnya. Sejak tahun 2009 Syarif sudah mulai sering menggunakan baju gamis berwarna putih.
Tahap kedua, adalah tahap Takfiriyyah. Adalah tahap dimana seseorang telah sanggup untuk menyatakan “kafir” kepada siapapun yang di luar komunitasnya, termasuk pada para tokoh ulama dan orang-orang terdekatnya, seperti ayah dan ibunya sendiri. Pada kasus Syarif, ayahnya menyatakan bahwa pengkafiran atas dirinya oleh anak kandungnya sendiri  terjadi pada tahun 2010. Yaitu, pada saat dirinya mengalami sakit keras dan saat Syarif melangsungkan pernikahan di Majalengka. Pada kasus yang pertama, secara terang-terangan Syarif mengatakan bahwa ayahnya segera akan mati saja dalam keadaan kafir. Sedangkan pada kasus kedua, saat pernikahan anaknya itu, dirinya tidak dianggap sama sekali atau dicuekin oleh Syarif, termasuk oleh teman-temannya sesama jama’ah mereka. Jelas, karena ayahnya dianggap bukan sebagai bagian dari jama’ah mereka dan dinyatakan kafir. 
Tahap ketiga, kata Azyumardi, adalah tahap Jihad. Tentu saja, jihad yang dimaksud adalah berdasarkan versi mereka. Pada tahap awal “jihad”, biasanya mereka melakukan aksi-aksi penolakan atas segala sesuatu yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Misalnya, mereka melakukan aksi-aksi demonstrasi terhadap hal-hal yang berbau haram, maksiat atau dianggap sesat. Ini, yang pernah dialami oeh Syarif yang paling rajin ikut demo dan berada di garis terdepan, misalnya saat ada aksi demo pengrusakan rumah dan sarana ibadah Ahmadiyah, di Kuningan Jabar, tahun lalu. Bahkan, Syarif juga terlibat langsung, dan tidak jarang bertindak sendirian dalam melakukan  aksi sweeping atas barang jualan yang dianggapnya haram, seperti minuman keras di sejumlah warung atau minimarket.
Pada tahap yang paling tinggi, “Jihad” dimaknai sebagai perlawanan terhadap segala simbol kekuasaan negara yang dianggapnya sebagai “Thogut” lawan dari kekuasan Allah. Maka, tak heran, bila kemudian polisi menjadi sasaran perlawanan mereka, termasuk aksi bom bunuh diri di Mapolresta Cirebon, kemarin. Kapolda Jabar, bahkan menduga bahwa Syarief terlibat juga dalam aksi pembunuhan salah seorang warga TNI-AD  di Sumber, setahun sebelumnya.
Maka, kepada pihak orang tua, menurut Azyumardi, perlu lebih perhatian terhadap perubahan perilaku anak-anaknya. Jika ada perubahan perilaku yang sudah mulai agak aneh, segera lakukan dialog. Bahkan, bila perlu ajak tokoh-tokoh tertentu yang dianggap dihormati dan disegani untuk membantu dialog. Persoalan menjadi berat, saat seorang anak telah masuk terlalu jauh dalam komunitas mereka, dengan pemahaman ajaran yang sama dan solidaritas yang kuat.  
Agaknya, apa yang disampaikan oleh Pak Ghofur layak untuk dijadikan sebagai bahan pembelajaran bagi para orang tua lainnya. Jangan sampai ada penyesalan, meski saat ia sakit keras sempat bertaruh dengan Syarif.
“Soal mati atau tidak, itu urusan Allah. Belum tentu, saya yang sekarang sakit keras akan meninggal duluan. Mungkin saja, kamu akan lebih duluan mati, Syarif” ucapnya di atas tempat tidur setahun yang lalu.
Dan, kata-kata itu terbukti benar adanya. Ayahnya, hingga kini masih hidup, sedangkan sang anak telah terbujur kaku sebagai jasad yang telah menimbulkan aib dan malu bagi dirinya, dan keluarga besarnya.
Ada hikmah yang bisa kita petik. Islam sama sekali tidak mengajarkan kekerasan dan mengorbankan sesama tanpa alasan kebenaran.
Sekian, dan terima kasih.

(Oleh Sri Endang Susetiawati)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar