Rabu, 20 April 2011

Ku Tahu yang Kau Mau (3) : Sumbangan Pak Haji

Sore hari itu, rumahku di sebuah komplek perumahan di Bandung, kedatangan tamu. Dia adalah seorang ibu, tetangga di sebelah kanan rumahku. Dengan raut muka yang masih tersisa masam, ia langsung duduk.
“Saya enggak habis pikir dengan Pak Haji itu...” ucapnya dengan nada cukup tinggi.
“Memangnya, ada apa Bu Ida ?”
Tanpa ditanya lagi, tetanggaku yang kini sedang menjabat sebagai bendahara Panitia pembangunan masjid itu langsung bercerita panjang lebar mengenai sikap dari sosok Pak Haji, yang selama ini dianggap terpandang dan dihormati di komplek perumahan kami.
“Bagaimana enggak kesal, bu” lanjut Bu Ida.
“Saat rapat minggu yang yang lalu,  Pak Haji telah menyanggupi akan menyumbang 2 juta untuk pembangunan masjid. Lalu, sore hari kemarin, kami sebagai panitia disuruh datang ke rumahnya”
“Terus, apa masalahnya...? tanya saya.
“Tidak konsisten !”
“Apanya yang tidak konsisten, bu...?”
“Katanya, kami disuruh datang sore. Sudah ketemu. Eh, Pak Haji minta semua catatan panitia untuk dipelajari dulu”
“Terus....”
“Barusan kami datang lagi ke rumah Pak Haji. Eh, ada lagi alasannya. Katanya, Catatan keuangannya tidak bagus lah. Kurang memenuhi standar akuntansi lah”
“Terus, janji uang sumbangannya bagaimana ?”
“Itulah, bu. Yang membuat saya dan panitia yang lain kesal. Sepertinya, kami ini dipermainkan”
“Maksudnya, bu Ida ?”
“Iya, bu. Kami ini kan jadi Panitia tidak dibayar. Disuruh bolak-balik. Eh, uang yang dijanjikan tidak keluar-keluar. Ada saja alasannya. Padahal, Pak Ihsan yang sekeretaris Pantia itu kan Sarjana Ekonomi UNPAD”
“Apa sudah dijelaskan oleh Pak Ihsan ?”
“Pasti sudah, bu. Menurut saya sih sudah jelas semuanya dan tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi. Dasar, enggak mau nyumbang ya enggak mau saja !”
Saya memahami perasaan bu Ida yang cukup kesal itu. Lalu, saya permisi sebentar ke bu Ida untuk mengambil kertas HVS kosong di ruang sebelah. Saya corat-coret kertas itu dengan pulpen berwarna hitam. Hasilnya, saya tunjukkan kepada bu Ida, sambil menjelaskan maksud dan tujuannya sekedarnya saja.
“Oh... begitu, toh bu. Apa iya, yach.... sampai begitu ?”
“Saya tidak tahu, bu Ida. Tapi, tidak ada salahnya kan untuk dicoba ...”
“Boleh, mungkin ini usaha panitia untuk yang terakhir kali !” kata bu Ida terlihat geregetan sambil memperlihatkan kedua tangan yang mengepal.
Masih belum berubah, ekspresi dari raut muka bu Ida. Wajahnya, masih terlihat jelas menampakkan kekesalan atas seseorang. Setelah tambahan obrolan ke sana sini, tak lama kemudian ia pun pamit untuk pulang.
Keesokan pagi harinya, saat saya hendak pergi ke tempat kerja, secara kebetulan saya berjumpa dengan Pak Haji. Beliau menyapaku dengan wajah yang sumringah, dan sedikit bertanya sana-sini untuk sekedar berbasa-basi.
“Wah, hebat tuh, bu. Panitia sudah berhasil mengumpulkan banyak uang sumbangan dari warga” kata Pak Haji.
“Oh, iya...? Alhamdulillah. Berarti, warga komplek kita punya kesadaran yang tinggi. Pak Haji tahu dari mana ?” tanya saya senang.
“Oh, pasti tahu. Barusan saya lihat langsung ke Sekretariat pembangunan masjid”
“Syukurlah, Pak Haji”
Tampaknya, saya tidak dapat lagi berlama-lama mengobrol dengan Pak Haji, karena takut kesiangan kerja di kantor. Maka, saya pun permisi dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan sepeda motor.
Baru saja 5 menit sampai di kantor. HP saya bergetar, pertanda ada SMS baru yang masuk. Saya langsung baca.
“Trims bu, atas sarannya. Pak Haji, jadi nyumbang 5 juta. Daftar nama penyumbang sudah dipasang besar-besar di depan Sekretariat. Wslm”
Ehem. Saya cuma tersenyum. Rambut boleh sama hitam. Namun, pikiran dan pendapat pastilah berbeda. Ada saja orang yang belum merasa cukup, bahwa hanya dirinya saja dan Tuhan yang tahu. Terkadang, ada juga yang perlu disaksikan oleh  banyak orang bahwa dirinyalah penyumbang terbesar untuk sebuah rumah Tuhan. Inilah, sebuah kenyataan.....
Mungkin, Anda punya pendapat lain ?
Terima kasih.***

(Oleh Sri Endang Susetiawati)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar