Jumat, 22 April 2011

Maaf, Aku Hanya Mau Masuk Ke Surga Milik Tuhan-ku, Dengan Caraku Sendiri....!


Benarkah, mereka para calon pencuci otak itu begitu hebat dan jago dalam meyakinkan para calon korbannya ? Semuanya, tergantung pada diri mereka, yang akan menjadi sasaran calon korban. Kehebatan mereka, bermula karena kita menganggapnya hebat, dan sebaliknya menganggap diri sendiri tidak ada apa-apanya. Jagonya mereka dalam meyakinkan calon korban,  berawal karena kita menganggapnya jago, dan sebaliknya merendahkan diri sendiri, sebagai orang yang penuh salah dan kekurangan.
Biasanya, mereka akan mendekatimu dengan sapaan yang akrab dan penuh persaudaraan. Di saat engkau berada di tempat yang mulia (masjid, pengajian) atau sekedar berada di kampus, atau di tempat umum (terminal, kantin atau forum diskusi). Mereka hadir, untuk mengesankan sebagai sosok pembawa kebenaran dan keselamatan. Begitu sangat sempurna mereka bersapa ria, hingga mereka seolah tak ada hijab lagi bahwa mereka mengaku laksana pemegang mandat langsung dari Tuhan-nya.
Ketika kekagumanmu telah muncul, simpati dan harapmu mulai tumbuh, maka  saat itulah sesungguhnya kehebatan mereka telah merekah. Bak bunga yang menebarkan wangi harum yang nyaris sempurna. Memabukkan. Lalu, secara perlahan dan tanpa sadar telah membiusmu, untuk masuk ke suatu tahapan baru. 
“Apakah kau telah yakin, Islam yang kau anut adalah sebuah kebenaran ?” tanya mereka.
Sesaat, engkau pasti terkaget. Tanya yang datang tak disangka. Langsung, menusuk pusat saraf kesadaran seseorang tentang diri dan kesejatiannya dalam beragama. Lalu, apa kira-kira jawabanmu ?
“Insya Allah benar. Namun, jujur saja, saya merasa masih banyak kekurangan dan belum mampu terlaksana dengan sempurna ...” katamu.
“Ada baiknya, engkau mulai belajar tentang Islam yang sebenarnya” kata mereka.
“Oh, iya ?”
“Kita ber-Islam, karena ayah dan ibu kita telah ber-Islam” kata mereka
“Betul, juga” katamu.
“Iya, kita ber-Islam karena turunan, bukan karena pemahaman Islam yang sebenarnya...!” kata mereka.
Engkau mulai kian tersudut. Sebuah fakta terungkap secara meyakinkan, nyaris tanpa bisa terbantah. Udara yang kau hirup tiba-tiba begitu terasa sejuk. Kepasrahan sikapmu tiba-tiba melaju. Atas nama ajaran agama yang kau agungkan. Atas nama Tuhan-mu yang kau gantungkan. Atas nama segala harap dan permohonanmu agar bisa menjadi hamba yang tahu bagaimana cara beragama yang benar, bagaimana cara hidup yang benar, bagaimana cara menuju mati yang benar, dan bagaimana cara menuju surga dan menghadap-Nya kelak.
“Benar, itu saya akui” katamu
Mereka hanya terdiam. Walau hanya pura-pura. Hanya butuh waktu beberapa saat saja, agar kail yang telah termakan itu kian menghujam pada mulut calon korban. Agar perangkap kail itu tidak lagi memberi kesempatan untuk berpaling.
“Kalau ada waktu, usahakan bisa datang ke acara silaturahmi kami” kata mereka.
“Oh, iya ... dimana... kapan ?” katamu begitu sangat tersanjung saat menerima ajakan hangat mereka.  
“Hari Ahad besok, di masjid X.... Allah akan meringankan setiap langkahmu untuk menuju jalan kebenaran...” kata mereka.
“Insya Allah, saya akan hadir. Kebetulan hari libur dan saya tidak ada acara” katamu.
Ha.ha. Sudah tentu, pasti mereka telah tahu. Kapan, kira-kira kamu punya waktu. Mereka, jelas telah memperhitungkan semuanya itu. Lalu, peluk cium mereka (akhwat) berikan kepadamu. Ucapan salam dan pesan-pesan persaudaraan tak lupa bertebaran mengisi kedua telinga dan matamu.
   Hari Ahad yang telah dijanjikan, engkau pun datang. Matamu berbinar, dengan langkah yang ringan menyambut harimu untuk meraih surga. Hatimu telah bulat dan pasrah. Engkau telah serahkan segalanya untuk sebuah harapan akan ajaran yang sesungguhnya.
Engkau mulai duduk bersimpuh, bersama mereka, sesamamu. Tak banyak, mungkin hanya sejumlah hitungan jari di tangan. Duduk melingkar, dengan kepala yang menunduk hormat dan tatapan mata yang segan kepada mereka.
Awal dari sebuah pencucian pun dimulai. Mereka katakan tentang dosa-dosa maksiat yang pernah engkau lakukan. Mereka teriakkan tentang kesalahan-kesalahan yang bertumpuk yang pernah engkau biarkan. Mereka katakan, tentang segala hal yang membuatmu kian terpuruk, meratapi diri sebagai sosok yang penuh dengan gelimang noda dan dosa.
Mereka katakan itu, terus-menerus. Berulang-ulang. Dengan sepenuh hati dan perasaan. Agar engkau pasrah dan menyerah. Agar engkau menghiba, memohon asa. Agar membuatmu bertekuk lutut, menangis dan meminta ampun sejadi-jadinya.
Maka, mereka pun membuka pengampunan untukmu dan untuk teman-teman sesamamu. Mereka mengajakmu untuk beristighfar, membaca kalimat”astaghfirullahal ‘adzim....”. Berulang-ulang, dan berkali-kali. Hingga, seluruh ampunan itu dianggap telah cukup untukmu dan untuk teman sesamamu. Hingga, engkau dan temanmu dianggap telah merasakan kesejukan di hati dan jiwa, serta ketenangan di dada.
Kini, engkau telah masukkan kedua kakimu di dalam air yang basah hingga sebatas betismu. Engkau akan merasakan sensasi baru yang menagihmu untuk selalu ingin merasakan indahnya bersama mereka. Hingga, mereka akan menjadwalkamu untuk selalu bertemu. Hingga mereka akan menjadwalkanmu untuk berbaiat, berikrar setia bahwa engkau telah berada di bawah payung perlindungan kebenaran dengan segala janji-janji manisnya. Engkau telah menjadi saudara sejati bagi mereka. Saudara seiman, saudara seperjuangan ! Untuk sebuah keyakinan akan Islam yang dianggap benar. 
Lalu, bagaimanakah dengan aku ? Aku cuma mampu untuk memberikan selamat atas kehidupanmu yang baru. Atas pilihanmu sendiri, atas sebuah keyakinan tentang ajaran yang dianggapmu benar. Aku hanya mau berucap :
“Maafkanlah, aku tak mungkin engkau bawa masuk untuk hidup bersaudara dengan cara dan keyakinan mereka !”
Sungguh, aku telah menduga. Engkau akan begitu marah saat mendengar ucapanku itu. Tidak usahlah engkau marah. Aku telah siap, bahkan bila engkau meng-kafir-kan aku karena selalu menolak ajakanmu.
“Ber-Islam-lah dengan cara yang diajarkan oleh Nabi !” katamu.
“Bukan, dengan cara ber-Islam turunan atau Islam KTP !” katamu
“Ber-Islam-lah dengan ikut jama’ah kami. Agar seluruh amalmu tidak batal. Agar seluruh hidupmu tidak menyesal !” katamu.
“Menyesal ?’ tanyaku.
“Iya, kau akan menyesal telah ber-Islam secara salah. Allah, nanti akan menolaknya !” katamu dengan nada yang makin meninggi.
“STOP !” kataku, dengan nada suara yang kini tak mau mengalah lagi.
Engkau terdiam kaget. Sedikitpun tak menyangka, kalau aku dapat berlaku keras seperti itu. Aku tak peduli lagi denganmu.
“Haruskah, aku ber-Islam dengan caramu dan cara mereka yang mengkafirkan semua orang yang tidak masuk kelompokmu ?” tanyaku keras.
“Haruskah aku mengikuti ajaran yang mengkafirkan orang yang telah melahirkanmu dan membesarkanmu dengan susah payah ?”
“Haruskah aku terima ajaran yang telah membenarkan tindakan yang haram menjadi halal ?”
“Mati dengan bom yang mencabik tubuh mereka, melukai sesama muslimin di tempat yang suci, bukanlah cara yang benar untuk mati syahid menuju surga...!”
“Kau selalu tawarkan surga......”
“Kini, dengarkanlah baik-baik, sahabatku. Surga bukanlah milikmu. Bukan pula milik mereka. Aku ingin menuju surga dengan caraku sendiri. Aku terlahir sendiri, berkembang menjadi dewasa, dengan menyatakan diri sebagai hamba Allah yang setia. Aku akan mati sendiri. Dan, aku akan menuju surga, serta menghadap-Nya, dengan sendiri dan dengan caraku sendiri !”
“Aku yakin, engkau dan mereka tidak akan bisa melakukan apapun jua. Kelak, di akhirat nanti !”
“Pesanku. Masuklah ke surga milikmu dan milik mereka. Maaf, aku hanya akan masuk ke surga milik Tuhan-ku....!”
“Aku hanya ingin hidup damai, lalu mati, dan kelak hidup lagi dalam kedamaian yang sejati”
“Itulah, Islam yang aku yakini, sahabatku....” pungkasku. ***
___________________________
Sekian, semoga bermanfaat. Terima kasih.

(Oleh Sri Endang Susetiawati)

2 komentar:

  1. Tulisan yang sangat inspiratif...
    biarkan semua orang masuk ke surganya masing-masing, karena surga bagi setiap orang akan berbeda sesuai apa yang diharapkannya...teruskan berkarya bu?!
    http://imamroyani.blogspot.com/

    BalasHapus
  2. Terimakasih, Pak Imam.... Surga itu urusan kita sbg pribadi dg Allah sbg pemilik, asal dan tujuan kita.... Salam

    BalasHapus