Selasa, 26 April 2011

Masalah Citarum, Jauh Lebih Kompleks dari Apa yang Saya Bayangkan...


Judul itu, cukup mewakili saya saat mengikuti sebuah diskusi mengenai Sungai Citarum pada sekitar tahun 2006 lalu di sebuah hotel berbintang lima di kota Bandung. Acara yang dihadiri oleh ratusan para aktivis pecinta lingkungan, para pejabat daerah,  sesepuh Jawa Barat, dan masyarakat peduli Citarum  itu, sempat menghadirkan pembicara antara lain H. Solihin GP, mantan Gubernur Jabar dan Kuntoro Mangkusubroto, pembina LSM untuk Citarum, kini menjabat Ketua UKP3R yang berkantor di sekitar istana kepresidenan.
Dari uraian kedua narasumber dan beberapa pembicaraan peserta diskusi, saya sampai pada sebuah kesimpulan awal dan mungkin bersifat sementara. Bahwa kompleksitas masalah di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang berhulu di sekitar daerah Bandung Selatan, yang mengalir sejauh lebih dari 100 Km hingga Kabupaten Karawang Jawa Barat ternyata sangat jauh dari apa yang saya bayangkan. Semula, saya membayangkan bahwa masalah Citarum hanya berkisar pada masalah pendangkalan dasar sungai, atau penyempitan lebar sungai yang membuat banjir kiriman secara berlangganan setiap tahun  di daerah Dayeuhkolot atau Baleendah Kabupaten Bandung.
Namun, ternyata bukan hanya itu masalahnya. Sekali lagi, jauh lebih komplek dari apa yyang saya duga atau perkirakan. Sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat ini, merupakan sungai utama yang menampung limpahan dari belasan anak sungai lainnya di sekitar Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, sebagaian Kabupaten Sumedang bagian barat dan sebagian Kabupaten Cianjur bagian timur.  Total penduduk yang terkait langsung dengan Sungai Citarum di ke-6  wilayah Kabupaten/Kota ini adalah sekitar 8-9 juta jiwa !. Ini belum termasuk penduduk yang ada di sekitar DAS Citarum bagian tengah atau hilir, seperti di Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Karawang atau Kabaupaten Bekasi.
Dengan jumlah warga yang sangat besar itu, maka dapat dibayangkan berapa ribu atau juta meter kubik air limbah domestik yang dikeluarkan dari warga Kota Bandung yang hampir 3 juta jiwa itu, Kabupaten Bandung, Cimahi dan Bandung Barat yang berpenduduk 4 juta jiwa, sisanya warga Kabupaten Sumedang dan Cianjur. Ini belum termasuk, buangan sampah rumah tangga, atau sampah pasar yang masih sering dengan seenaknya dibuang ke aliran sungai terdekat. Belum termasuk pula, limbah buang dari ribuan pabrik besar yang memiliki pekerja hingga diatas 25 ribu orang per pabrik, pabrik menengah dan pabrik kecil yang berada mulai daerah sekitar Majalaya, Rancaekek, Babakan Ciparay, Banjaran, dayeuh Kolot, Baleendah, Soreang, Kopo, Cimahi, Batujajar, Padalarang, hingga di wilayah Kota Bandung sendiri.
Jadi, masalah Citarum tidak hanya bagaimana mengeruk dasar sungai, melebarkan tepi sungai, membebaskan warga dari banjir tahunan, atau membuat sungai menjadi hijau penuh dengan tanaman yang rimbun. Masalah Citarum juga menyangkut masalah gerakan rehabilitasi lahan kritis (GRLK) di daerah hulu di sekitar Gunung Patuha atau Malabar, masalah relokasi sekitar ratusan ribu warga  yang bertempat tinggal di sepanjang atau di sekitar DAS Citarum. Mungkin, jumlah warga yang harus direlokasi jauh lebih banyak dari warga disekitar DAS Ciliwung, yang sekitar 300 ribu orang. Masalah Citarum, juga menyangkut soal penataan kawasan industri, pengendalian limbah industri, sekaligus kemungkinan relokasi pabrik-pabrik besar yang menampung ratusan ribu pekerja, yang berasal tidak hanya dari sekitar Bandung, juga banyak pekerja yang berasal dari Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sejumlah provinsi di Sumatera.
Di luar itu semua, Sungai Citarum adalah sungai yang dimanfaatkan paling banyak di bandingkan sungai-sungai lain di Indonesia, antara lain seperti 3 PLTA besar di waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur. Juga, ada budidaya ikan tawar melalui jaring apung dalam skala besar di sekitar ketiga waduk tersebut yang memasok kebutuhan warga Jabodetabek, Bandung dan sekitarnya. Adanya kepentingan strategis dan ekonomis inilah yang membuat penataan Citarum menjadi amat penting dan urgen.
Sekali lagi, masalah Citarum tidak hanya membebaskan warga Dayeuhkolot atau Baleendah yang memang bidang tanah yang ditempati rumahnya adalah lebih rendah dari muka air sungai. Juga, bukan sekedar menghijaukan lahan di sekitar DAS yang kotor atau kumuh, kemudian disulap menjadi taman. Namun, ada masalah ribuan industri yang telah menimbulkan pencemaran air sungai secara serius, serta jutaan warga, yang membuat daya dukung sungai menjadi sangat berlebihan beban (overloaded). Inilah yang menjelaskan, bahwa masalah Citarum jauh lebih komplek dari apa yang saya bayangkan.
Tentu saja, normalisasi sungai, rehabilitasi sungai, penghijauan, penataan kembali kawasan, hingga menjadikan sungai Citarum yang asri dan menjadi tempat yang nyaman bagi ikan dan biota sungai lainnya, adalah suatu keharusan untuk segara dilakukan. Meskipun langkah-langkah itu sebenarnya sudah dikatakan cukup terlambat, namun tidak apa-apa daripada tidak melakukan sama sekali. Kuncinya harus dilakukan secara lebih serius, terpadu dan konsisten serta berkelanjutan yang melibatkan berbagai pihak yang terkait dan berkepentingan. Karena, hal ini menyangkut sebuah proyek yang sangat besar, hingga menelan biaya trilyunan rupiah, serta berlangsung dalam jangka waktu yang tidak singkat.
Demikian, semoga sungai Citarum dapat dikembalikan sebagai salah satu sungai kebanggaan warga Jawa Barat, sungai yang DAS-nya pernah dihuni oleh salah satu Kerajaan tertua di Indonesia, yaitu Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-5, atau1.500 lebih tahun yang lalu.
Demikian, terima kasih.
(Sri Endang Susetiawati)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar