Minggu, 24 April 2011

Mau Berhaji ? Hentikan Merokok !

Oleh Srie

Siapa bilang, hari Minggu adalah hari libur. Tidak berlaku bagi Pak Haji Sumpena, atau biasa dipanggil Pak Haji Pena saja. Seorang kakek yang hampir berusia 70 tahun, dengan 7 anak yang sudah dewasa dan berkeluarga, serta 11 cucu ini, cukup mudah untuk ditemui. Perawakannya yang kecil masih terlihat cukup sehat, dan selalu memakai peci haji ke manapun ia pergi, menjadikannya lebih mudah untuk dikenali.

Hari Minggu ini, bukanlah waktu berlibur baginya. Ia hampir tak mengenal kata “akhir pekan” sebagaimana layaknya para pegawai kantoran, pejabat  atau kaum selebriti di kota-kota. Entah, mereka kemudian berlibur ke Puncak, bersantai di pantai, menikmati indahnya Pulau Bali, atau harus berlibur ke luar negeri. Mungkin pula,  bagi Pak Haji, hampir tidak ada hari yang berbeda, kecuali hari Jum’at yang dirasakan pendek karena harus mempersiapkan diri untuk sholat Jum’at di masjid dekat rumahnya.
Kesehariannya, asyik bergelut dengan sawah yang berlumpur, atau sekedar menyibukkan diri di tengah kebun miliknya sendiri. Kesederhanaan atau kebersahajaan adalah kesan yang amat kuat melekat pada dirinya. Minggu kemarin, saya sempat bertemu di warung bakso yang dikelola oleh istrinya. Saya tanya bagiamana dia memaknai liburan bagi seseorang.
“Wah, petani begini mana ada kenal hari libur. Kalau mau liburan (mungkin maksudnya hiburan, - penulis-),  paling juga ke masjid. Ikut sholat jama’ah, paling tidak tiap Maghrib, Isya dan Shubuh. Saya merasa lebih enak saja, merasa lebih tenang” jawabnya dengan bahasa Indonesia yang masih berlogat Betawi jaman dulu.
Pak Haji Pena, memang pernah tinggal lama di Jakarta, tepatnya di daerah Kampung Melayu, sejak tahun 60-an hingga awal tahun 90-an, dengan berprofesi sebagai pedagang es kelapa. Hasil berdagang selama di Jakarta itulah yang kemudian dibelikan sawah dan kebun di kampungnya, di daerah sekitar Gunung Ciremai, Kuningan Jawa Barat. Meski sederhana, rumahnya yang berada di belakang warung bakso, cukup layak untuk ditinggali bersama istri dan anak bungsunya yang baru setahun berkeluarga.
Saat ditanya mengenai kiatnya bagaimana ia bisa berhaji bersama istri, sekitar 10 tahun yang lalu, jawabannya cukup menarik untuk disimak.
“Ah, itu mah biasa saja. Semua orang juga bisa, sebenarnya” ucapnya enteng, sembari tersenyum.
Saya cukup penasaran, ingin mendengarkan penjelasan lagi dari Pak Haji yang satu ini. “Maksudnya, bagaimana Pak Haji ?” tanya saya agak serius.
“Mudahnya, begini saja, Bu. Hentikan kebiasaan orang merokok, lalu uangnya ditabung” kata Pak Haji. “Coba ibu hitung” lanjutnya. “Anggaplah, dalam sehari, seorang Bapak menghabiskan sebungkus rokok seharga 6.000 rupiah. Lalu, dikali 30 hari, dikali 12 bulan, dikali 15 tahun. Dapat 32 juta lebih” jelasnya meyakinkan.
“Benar, juga” kata saya. “Sangat masuk akal” tambah saya lagi. Saya sungguh terkagum-kagum atas cara berfikir Pak Haji dari kampung ini. Sederhana, tapi cukup logis dan menarik untuk dicontoh, khususnya bagi mereka yang berpenghasilan tidak terlalu besar.
“Tapi, semua tergantung niatnya, bu” tambah Pak Haji.
“Betul, Pak Haji” jawab saya singkat.
Obrolan ringan, sambil saya menyantap semangkuk bakso pun masih terus berlanjut untuk beberapa menit lagi. Sesekali, istrinya ikut menimpali, hanya sekedar untuk membenarkan tentang apa yang telah dikatakan oleh suaminya. Hingga, saya mohon pamit untuk pulang, tentu setelah membayar bakso 5.000 rupiah saja.  
Hingga kini, obrolan dengan Pak Haji Pena itu, begitu sangat berkesan secara mendalam. Bagi saya, apa yang dikatakannya tidak semata mengenai cara seseorang agar dapat berhaji dengan menghentikan kebiasaan merokoknya, kemudian uangnya ditabung selama kira-kira 15 tahun. Tidak semata, bahwa merokok itu tidak perlu dilakukan karena tidak sehat bagi diri sendiri dan keluarga. Bahwa merokok hanya menghabiskan uang saja, terutama bagi mereka yang berpenghasilan kecil,  serta tidak mendidik hidup sehat dan hemat bagi anak-anaknya.        
Menurut saya, apa yang dikatakan oleh Pak Haji, juga mengajarkan tentang bagaimana sebaiknya kita hidup. “Hiduplah dengan berbiaya minimal, dan usahakan berpenghasilan maksimal, bukan sebaliknya” kata kawan saya Popy, Doktor manajemen lulusan Universitas di Australia, yang kini menjadi dosen di Unpad, Bandung.
Benar juga. Pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Hidup ini, hakikatnya bukan bergantung pada penghasilan yang diterima oleh seseorang. Berapapun penghasilan yang diterima oleh seseorang, tidaklah menjamin hidupnya dapat berkecukupan, dan merasakan sebuah kebahagiaan.
Namun, tergantung bagaimana kita pandai-pandai mengelola penghasilan, bisa berhemat, mengeluarkan uang  yang memang benar-benar diperlukan, bisa menabung, bisa memilih gaya hidup yang sesuai dan dapat berkmana bagi kebahagiaan diri dan keluarganya yang sejati. Tidak selalu, harus memaksakan diri, hanya demi sebuah gengsi atau pujian yang semu, yang akhirnya hanya akan menyusahkan hidupnya sendiri dan keluarga. *** [Srie]


1 komentar: