Sabtu, 30 April 2011

Memaknai Kembali, Fungsi Ritual Dalam Islam

-->
Oleh Srie
Seorang teman memberikan kritik atas perilaku sebagian umat beragama yang dianggapnya timpang, karena dianggap lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat ritual (kesalehan ritual), dibandingkan melakukan amal kebaikan yang berhubungan dengan masyarakat (kesalehan sosial). Bahkan, ia menengarai betapa tidak sedikit sebagian umat yang justru melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agamanya sendiri, seperti melakukan tindak kekerasan, berkonflik bahkan pembunuhan terhadap sesama. Lantas, ia mengingatkan bahwa agama pada dasarnya mengajarkan kepada umatnya utuk berbuat baik. Katanya lagi, jika kita telah bisa menjadi baik, maka agama dianggap sudah selesai dalam melaksanakan tugasnya, alias tidak dibutuhkan lagi. Benarkah, demikian ? Tunggu dulu !
Anggapan sebagian umat yang lebih mementingkan kesalehan ritual dibanding kesalehan sosial, jelas tidak sesuai dengan ajaran Islam sendiri. Islam mengajarkan tentang perlunya keseimbangan antar keduanya. Bahkan, dalam pengertian tertentu, Islam lebih mengutamakan kesalihan sosial dari pada kesalehan ritual. Klik Lantas, apa sesungguhnya fungsi kegiatan ritual dalam Islam ? Ini perlu memperoleh jawaban yang lebih tepat agar terhindar dari dua hal yang disebut sebelumnya. Yakni, anggapan yang salah bahwa kesalehan ritual jauh lebih diutamakan, dan anggapan bahwa agama (melalui kegiatan ritual) dianggap tidak dibutuhkan lagi jika seseorang telah menjadi baik.
Pemahaman atas fungsi kegiatan ritual dalam ajaran Islam, dimulai dari pengetahuan kita tentang dua unsur utama pada diri manusia. Yakni, unsur jasmani atau jasadi (fisik) dan unsur ruhani (unsur ruh).. Unsur jasadi berasal dari unsur yang terdapat dalam alam semesta (bumi), sehingga memiliki sifat yang tidak berbeda dengan unsur materi yang tunduk pada hukum-hukum yang mengatur materi, seperti hukum fisika, kimia, biologi dan seterusnya. Sementara unsur ruhani berasal langsung dari Tuhan, yang ditiupkan pada manusia saat masih berada di dalam kandungan, atau sejak usia kandungan sekitar 4 (empat) bulan. Karena berasal langsung dari Tuhan, maka unsur ruhani memiliki kecenderungan yang sama dengan sifat-sifat Tuhan, seperti cenderung pada kebaikan, kebenaran, kasih, sayang, dan seterusnya.  Klik
Fungsi Pemeliharaan
Dalam konteks ini, maka kegiatan ritual dapat dikatakan berfungsi sebagai kegiatan perawatan atau pemeliharaan (maintenance) terutama atas unsur ruhani. Anggaplah Tuhan telah menyediakan semacam manual (buku pedoman) bagi manusia mengenai bagaimana caranya merawat dirinya sendiri (khususnya atas unsur ruhani). Praktek kegiatan ritual adalah praktek dari “buku petunjuk” tersebut. Bahwa manusia perlu melakukan sholat lima waktu, perlu berpuasa, berdzikir, beristighfar dan seterusnya. Mungkin, sama halnya unsur fisik manusia yang membutuhkan perawatan, seperti melalui kegiatan olah raga, makanan bergizi atau istirahat yang cukup. Lalu, apa penjelasannya bahwa kegiatan ritual merupakan bagian dari kegiatan perawatan unsur ruhani ?
Unsur ruhani dalam terminologi sosiologis biasa disebut sebagai nurani atau hati nurani. Setiap orang memiliki hati nurani, yang dianggap sebagai potensi yang dimiliki oleh manusia yang bersifat universal dan cenderung pada kebaikan dan kebenaran. Adalah Imam Al-Ghazali, seorang pemikir besar Islam abad ke 12 M (Wafat 1111 M), yang berusaha menjelaskan hati nurani (istilah lain adalah Qolbu) dengan mengumpamakannya seperti cermin. Cermin yang bersih akan mampu menangkap cahaya ilahi, maka ia akan menjadi terang laksana cahaya. Itulah, makanya dikenal istilah nurani, kata sifat yang berasal dari kata nur yang berarti cahaya terang. Nurani diharapkan akan mampu menerangi diri manusia, agar dapat berjalan di atas jalan yang baik dan benar.
Dalam pandangan ini, maka kegiatan ritual dapat dikatakan sebagai upaya untuk  merawat atau mempertahankan hati nurani agar tetap bersih dan bercahaya terang. Mengapa ? Karena adakalanya cermin (hati nurani) itu menjadi kotor, disebabkan oleh debu atau titik noda (noktah) ketika manusia berbuat salah. Kesalahan yang dilakukan secara berulang dalam waktu cukup lama akan membuat cermin itu dipenuhi noda, sehingga membuatnya menjadi gelap, tidak terang lagi. Mengapa ? Karena, cermin yang kotor berdebu, tentu kurang mampu menangkap cahaya terang. Dalam tingkatan tertentu, cermin itu bisa menjadi sangat kotor, gelap sekali, sehingga tidak mampu lagi dapat digunakan sebagai cermin bagi dirinya sendiri. Dalam istilah agama, Tuhan telah mengunci mata hati manusia yang cenderung selalu menuruti hawa nafsu dan berbuat banyak kejahatan, sehingga tidak mampu mendengar lagi nasehat kebenaran yang berasal dari manapun, termasuk kebenaran dari (hati nurani) dirinya sendiri.
Makna Istighfar
Agar cermin hati nurani itu tetap bersih dan terang, serta berfungsi sebagaimana mestinya yang selalu menyeru pada kebaikan dan kebenaran, maka setiap noda yang melekat pada cermin akibat perbuatan salah yang dilakukan oleh dirinya, harus senantiasa segera dibersihkan dari waktu ke waktu. Itulah, mengapa kita mengenal istilah istighfar, atau permohonan ampunan kepada Tuhan. Istighfar perlu dilakukan setiap saat, terutama saat kita sadar telah melakukan kesalahan. Istighfar adalah kegiatan ritual yang dapat dilakukan setiap saat, agar mampu membersihkan cermin yang ternoda. Dalam hal ini, dapatlah dikatakan bahwa istighfar adalah kegiatan perawatan setiap saat atas unsur ruhaniah manusia.
Makna Sholat
Itulah pula, kita mengenal adanya sholat wajib sebanyak 5 kali setiap hari. Sebelum melaksanakan sholat, kita diwajibkan terlebih dahulu untuk berwudhu, sebagai prasyarat sahnya sholat. Wudhu adalah cara untuk membersihkan diri, baik secara fisik maupun batin (aspek ruhani). Wudlu adalah cara untuk membersihkan indera dan hati kita dari segala akibat perbuatan salah, yang dilakukan antar waktu dua sholat terakhir. Maka, tidak berlebihan bila sholat dikatakatan sebagai bagian dari kegiatan perawatan harian atas unsur ruhaniah manusia. Untuk apa sholat ? Agar manusia dapat mencegah dari perbuatan yang keji dan munkar. Bukankah, sholat itu berarti perhomonan do’a kepada Tuhan agar senantiasa diberikan kebaikan ?    
Makna Puasa
Itulah pula, kita mengenal adanya puasa wajib yang dilakukan setiap bulan Ramadhan, sekali dalam setahun. Dalam konteks ini, puasa dapat dikatakan sebagai kegiatan perawatan tahunan atas unsur ruhaniah manusia. Dengan puasa, maka seluruh noda yang melekat dalam cermin hati nurani selama satu tahun diharapkan akan terhapus, dan cermin kembali menjadi bersih dan terang kembali. Itulah, mengapa dalam bulan puasa kita mengenal istilah Lailatul Qodar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan, kerena seseorang yang berhasil dalam berpuasa akan merasakan kedamaian yang sangat luar biasa dalam hatinya (karena begitu bersihnya). Kedamaian, hingga terbit fajar. Untuk apa berpuasa ? Agar manusia lebih mampu dalam mengendalikan diri. Bukankah, puasa (shiyam) berarti upaya menahan diri atau mengendalikan diri ?
Makna Haji
Tentu, masih banyak lagi jenis kegiatan ritual, seperti berzikir yang berarti selalu mengingat Tuhan, atau bertadarus, yang berarti membaca kalimat Tuhan (Al-Qur’an), atau bertahajud, yang berarti bangun malam untuk melakukan sholat tahajud, dan seterusnya. Maka, setelah manusia dianggap telah bersih secara ruhaniah, melalui perawatan setiap waktu (istighfar, zikir, dll), harian (sholat wajib), mingguan (sholat Jum’at), hingga tahunan (puasa dan zakat), kemudian Tuhan memanggil di antara mereka yang mampu (secara material) itu untuk menjadi tamu kehormatan, berkunjung ke rumah-Nya (Baitullah) dalam kegiatan haji.
Haji adalah puncak kegiatan ritual dalam Islam. Bukankah waktu pelaksanaan haji adalah bulan terakhir dalam kalender Islam (bulan Dzulhijjah), kurang lebih dua bulan setelah kita melakukan puasa (bulan Ramadhan) ? Haji berarti pemberian penghargaan kepada mereka yang telah berhasil menjadi manusia yang bersih (fitri, maka dikenal idul fitri = kembali bersih). Melalui kegiatan haji inilah, selain sebagai undangan kehormatan, Tuhan pun memberi semacam pendidikan dan pelatihan umat manusia tentang banyak hal.  Haji, memang dapat dikatakan sebagai trainning centre, pusat pendidikan dan pelatihan yang dilakukan secara simbolis melalui serangkaian kegiatan tertentu.
Makna Thowaf
Nurcholish Madjid atau biasa disapa Cak Nur, memaknai thowaf (bagian kegiatan jamaah haji yang berputar mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali) merupakan metafora yang bersifat simbolis, sebagai kegiatan haji yang melukiskan aktivitas semesta dalam skala mini. Apa itu ? Kegiatan bumi dan planet-planetnya dalam mengelilingi matahari, atau kegiatan matahari dan bintang-bintang lainnya mengelilingi pusat galaksi Bimasakti, atau kegiatan Bimasakti dan galaksi-galaksi lainnya yang mengelilingi pusat alam semesta raya.
Dalam skala mikro seperti atom, bukankah partikel elektron pun selalu mengelilingi intinya yang disebut proton ? Dan, dalam skala makro, maka seluruh isi alam semesta raya mengelilingi sang Penciptanya, sebagai inti atau pusatnya. Seluruh alam semesta berlaku tertib, tunduk dan patuh atas ketentuan yang telah ditaqdirkan kepadanya. Lalu, apa kaitannya dengan haji ? Dengan berthowaf, Tuhan memberikan pelajaran simbolik bahwa seharusnya begitulah manusia bergerak dalam hidup, selalu berputar mengelilingi pusat lingkaran putar, yang bernama Ka’bah, simbol dari rumah Tuhan. Manusia harus berlaku tertib, taat, tunduk dan patuh atas ketetapan sang Penciptanya.
Makna Sya’i, Jumrah, Wukuf
Maka, dalam berhaji ada sya’i, berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwa, yang berarti perjuangan yang tiada putus asa untuk meraih sesuatu yang diharapkan. Ada lontar jumroh, melempar batu kecil ke suatu titik, yang berarti keteguhan dan ketegasan kita untuk menolak dan mengusir segala bentuk kejahatan dan kemunkaran. Ada wukuf di Arafah, berkumpulnya manusia di seluruh dunia di padang Arafah, yang berarti adanya persaudaraan dan persamaan derajat di hadapan Tuhan, antara lain dengan berbaju ihram putih yang seragam, dan duduk bertenda secara bersama.
Dalam pemahaman lain, wukuf di Arafah dapat dilukiskan semacam gladiresik, saat nanti manusia dikumpulkan di padang Mahsyar di hari setelah kematian nanti (Hari Akhirat). Ada benarnya, sebab pada saatnya nanti, manusia pun akhirnya akan dipanggil kembali untuk menghadap Tuhan melalui cara kematian. Hanya bagi mereka yang bersihlah secara ruhaniah, yang akan dipanggil Tuhan untuk masuk ke dalam surga-Nya. Mereka yang bersih secara ruhaniah, adalah mereka yang berjiwa tenang. Dan, mereka inilah yang akan dipanggil oleh Tuhannya.
“Hai nafs (jiwa) yang tenang (bersih, suci). Kembalilah kepada Tuhanmu, dengan (hati) ridho dan diridhoi (Tuhan). Maka, masuklah kamu falam golongan hamba-hambaku-Ku. Dan masuklah kamu ke dalam surga-Ku” (Q.S. 89 : 27-30).     
Masih Banyak Makna Lainnya
Demikianlah, sebaiknya begitulah cara kita memaknai kegiatan ritual dalam agama Islam. Kegiatan ritual berfungsi sebagai peneguhan atau penguatan aspek ruhaniah kita yang selalu dirawat atau dipelihara dengan sebaik-baiknya. Agar kita dapat menjalankan tugas hidup di dunia dengan sebaik-baiknya, termasuk melakukan kegiatan amal sosial yang sangat diutamakan dalam pandangan agama. Agar kita dapat memelihara kesucian ruhaniah kita sebagaimana asalnya, hingga saatnya dipanggil oleh-Nya nanti, kita termasuk yang dipanggil secara ridho dan dirdhoi untuk masuk ke surga-Nya. Bukan dipanggil dalam keadaan ruhani yang kotor, penuh noda dan dosa yang akan membuat ketidaktenangan hati dan jiwa, akibat penyesalan dan kesengsaraan yang berkepanjangan selama-lamanya.
Tentu, masih banyak makna lain dari kegiatan ritual, seperti makna takbir di awal sholat dan salam di akhir sholat, sebagai simbol keutuhan dari kegiatan manusia yang berorientasi secara vertikal (Tuhan) dan horisontal (sosial). Ada makna sosial, dibalik sholat berjama’ah. Ada pesan sosial, seperti simpati atau kepedulian terhadap sesama dibalik berpuasa dan zakat. Ada manfaat secara fisik dari kegiatan sholat atau puasa. Dan, masih banyak lagi berbagai macam makna kegiatan ritual yang memiliki fungsi sosial maupun individual.***  [Srie]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar