Kamis, 28 April 2011

Mengapa Tuhan Menurunkan Agama ?

-->
Oleh Srie

Mengapa Tuhan harus menurunkan agama untuk manusia melalui para Nabi atau Rasul-Nya ? Banyak jawaban yang dapat dikemukakan mengenai mengapa Tuhan menurunkan agama untuk manusia. Namun, secara umum, substansi dari diturunkannya agama akan menyangkut pada dua hal utama, yaitu memberi harapan dan memberi peringatan kepada manusia. Dalam terminologi Islam, kita kenal dengan istilah basyiro wa nadziro (pemberi kabar gembira atau harapan dan pemberi peringatan). Dalam agama yang lain, istilah kabar gembira dan peringatan ini pun dikenal, dan biasa diucapkan dalam setiap khutbah kepada para jemaatnya.
Adanya kedua fungsi agama seperti di atas (pemberi harapan dan peringatan), amat mungkin mengacu pada dua kondisi umum yang biasa terjadi pada manusia. Kondisi pertama, adalah mereka yang secara sosiologis berada pada posisi yang kurang beruntung atau lemah, maka agama berfungsi untuk memberikan harapan atau kabar gembira kepada mereka. Sebaliknya, kondisi yang kedua adalah mereka yang secara sosiologis pula dalam posisi yang beruntung atau kuat, maka agama berfungsi untuk memberikan peringatan kepada mereka, agar tidak melampaui batas kewajaran.
Agama : Pembawa Kabar Gembira (Harapan) 
Sebagai contoh, kita akan mengenal ajaran agama yang menyatakan bahwa Tuhan berpihak pada mereka yang termasuk kelompok yang lemah, atau biasa dikenal dengan istilah mustadh’afin. Bahkan, disebutkan pula dalam ajaran itu bahwa do’a kaum mustadh’afin dan mereka yang teraniaya (didzalimi) akan lebih mudah terkabul oleh Tuhan. Tuhan pun disebut dalam ajaran agama sebagai penyuka orang-orang yang sabar. “Tuhan beserta orang-orang yang sabar”.
Ini semua adalah mengajarkan tentang sebuah harapan, yang kedudukannya sangat penting bagi diri manusia dalam kondisi semacam itu, agar tidak berputus asa dan agar tidak melakukan hal-hal yang justru bertentangan dengan hati nuraninya sendiri. Pada tahap awal, dari kelompok mereka inilah, yang banyak bersimpati kepada ajaran Nabi. Antara lain, adalah seperti para budak belian, kaum perempuan yang terpaksa jadi pelacur, kaum miskin, dan para pemuda yang berhadap akan terjadi perubahan dalam struktur masyarakatnya. Kelompok yang terakhir ini, antara lain adalah mereka yang dikenal sebagai para pemuda sahabat nabi, seperti Abu Bakar, Ali, Utsman dan Umar.
Dalam perspektif yang lebih jauh, agama pun mengabarkan tentang hari akhir (akhirat), suatu hari setelah kematian manusia. Apa dan bagaimana hari kiamat, hari akhirat, hari kebangkitan, atau hari pembalasan ? Apa dan bagaimana itu Surga dan Neraka, sebagai bentuk akhir dari keadilan Tuhan dalam memberikan ganjaran atau hukuman atas perbuatan manusia selama di dunia. Pengetahuan tentang hari sesudah kematian, jelas tidak mungkin dapat dijangkau oleh indera, akal, nurani dan instrumen apapun yang dimiliki oleh manusia. Inilah, fungsi lain dari agama sebagai sumber pengetahuan yang benar (kebenaran) mengenai hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh manusia, seperti pengetahuan tentang hari Akhirat di atas.  
Agama : Pemberi Peringatan
Sebaliknya, ajaran agama pun memberikan peringatan yang keras atas perilaku yang dianggap menyimpang atau berlebihan yang dilakukan oleh mereka yang beruntung atau dalam posisi yang kuat. Bahkan, secara eksplisit Tuhan mengingatkan mereka, bahwa klaim keberagamaan mereka selama ini hanyalah dusta belaka. Mengapa ? Karena, kata Tuhan melalui ajaran agama, mereka mentelantarkan orang miskin (kelompok orang yang lemah secara ekonomis), karena mereka menghardik anak yatim (kelompok orang lemah secara sosiologis, atau politis/tanpa perlindungan). Bagi mereka yang terus melakukan perbuatan tersebut, Tuhan mengingatkannya bahkan dengan ancaman, nanti mereka akan disiksa di neraka, dan seterusnya.
Pemahaman atas fungsi agama yang demikian, akan menghantarkan kita pada pemahaman atas hubungan agama sebagai ajaran kebenaran dari Tuhan, dengan hati nurani yang merupakan ajaran kebenaran dari Tuhan pula. Sudah tentu antar keduanya (agama dan hati nurani manusia) memiliki keselarasan dan kesesuaian, mengingat berasal dari sumber yang sama, Tuhan. Pertanyaannya, mengapa, Tuhan harus menurunkan agama ? Mengapa tidak cukup hanya hati nurani saja ? Jawabannya, disamping karena keterbatasan manusia, karena hati nurani manusia seringkali tertutupi oleh nafsu dan kepentingan dirinya yang serakah.
Ketika hati nurani telah tertutupi oleh nafsu dan kepentingan yang salah, maka manusia tidak lagi dapat mengandalkan sumber kebenaran yang berada dalam dirinya sendiri. Dalam bahasa agama, mereka yang hati nuraninya telah tertutupi, disebut dengan kufur, yang berarti menutup kebenaran yang disuarakan oleh hati nuraninya. Istilah kafir pun, secara umum berarti pula menutup atau tidak mengakui atas kebenaran yang datang dari Tuhan, melalui hati nurani atau melalui ajaran agama.
Simaklah, bagaimana kisah para pembesar Makkah, seperti Abu Sofyan, Abu Jahal atau Abu Lahab,  yang enggan menerima ajakan Nabi Muhammad untuk beriman kepada Tuhan yang Esa (Tauhid). Bahkan, mereka justru menentangnya secara terang-terangan, hingga pada upaya penganiayaan dan pembunuhan terhadap sang Nabi beserta para pengikutnya. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Kemanakah hati nurani mereka berada ?  Hati nurani mereka telah tertutup oleh nafsu dan kepentingannya yang menggebu.  
Mengapa mereka menolak ajakan Muhammad ? Secara pribadi mereka mengakui kepribadian Muhammad yag jujur dan dapat dipercaya. Secara pribadi, merekapun memahami bahwa ajarannya adalah benar dan mulia. Lalu, apa masalahnya ? “Apakah, kita akan mengikuti ajaran dimana kita akan kehilangan keuntungan dari bisnis para kabilah yang selalu datang berkunjung ke Ka’bah ?” kira-kira begitu jawaban pemuka Quraisy saat itu.
Ada lagi yang bilang, “Apakah kita rela mengikut ajaran, yang menghendaki kita sebagai majikan yang terhormat harus berpelukan dengan budak hitam yang hina, milik kita sendiri  ?” Yang lainnya ikut menyahut, “Akankah kedudukan kita yang telah lama sebagai pemimpin Makkah akan rela begitu saja diberikan kepada mereka ?”.  Lalu, mereka diikuti dengan tertawa, “Ha.ha.ha.ha...”.
Motif ekonomi, motif kedudukan sosial, bahkan motif kekuasaan adalah masalah utama yang menghalangi mereka untuk menerima kebenaran ajaran Nabi. Mengapa ? Karena, ajaran Nabi mengkoreksi perilaku mereka yang salah, yang menganggap manusia dibedakan berdasarkan kepemilikan harta dan kekuasaan. Ajaran Nabi mengatakan, “Sesungguhnya setiap anak manusia itu sama, kemuliaan adalah terletak pada siapa yang paling bertaqwa”. Nilai taqwa adalah sebuah  nilai yang bertabrakan dengan nilai-nilai yang dianut oleh pemuka Quraisy saat itu, seperti kemuliaan seseorang berdasarkan kekayaan, status sosial, kekuasaan dan garis keturunan (nasab).
Dalam sejumlah ayat, bahkan dinyatakan bahwa perilaku semacam itu, oleh Tuhan dibenturkan sebagai sesuatu yang berkategori syirik, dalam pengertian loyalitas mereka bukan pada nilai-nilai ketuhanan, namun pada keuntungan material dengan membiarkan patung-patung berhala bercokol di sekitar Ka’bah. Kesetiaan mereka lebih cenderung pada kekuasaan, dari pada nilai-nilai kemanusiaan yang saling menghormati dan tidak membeda-bedakan atas dasar kategori duniawi. Bukankah, Firauan dinyatakan sebagai syirik, karena menganggap dirinya sebagai tuhan ? Bukankah, setia pada hawa nafsu adalah sebagian dari tanda syirik, yang menjadikan hawa nafsunya sendiri berfungsi sama seperti Tuhan, yang harus selalu diikuti ?
Inilah hebatnya ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad, bahwa kritik atau koreksi atas ketimpangan sosial dikaitkan dengan pemahaman teologis secara keras. Bahkan,koreksi ini  dikaitkan langsung dengan peringatan akan balasan di hari akhirat.  Ajaran Islam saat awal-awal berkembang di Makkah, secara jelas dan intens menyuarakan ajaran Tauhid yang terkait dengan aspek sosiol, ekonomi dan politik masyarakat Arab pada saat itu.  Inilah, yang sesungguhnya ditolak oleh mereka, kelompok Makkah yang selama ini telah mengambil banyak keuntungan dari keadaan dan struktur masyarakat yang menyimpang dan timpang. Agama Islam, hadir sebagai bentuk peringatan dan sekaligus kritik, dan koreksi atas berbagai penyimpangan yang terjadi di masyarakat.
Tentu saja, banyak jawaban lain mengenai pertanyaan mengapa Tuhan menurunkan Agama ? Bagaimana pendapat Anda ? *** [Srie]
Bersambung .....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar