Jumat, 06 Mei 2011

Apa yang Paling Dibutuhkan oleh Anda Dalam Hidup ?

-->

Oleh Srie
“Apa yang paling dibutuhkan oleh seseorang dalam hidup?”. Pertanyaan itu terlontar oleh Nurcholish Madjid, atau biasa dipanggil Cak Nur, saat ada suatu pertemuan di Bandung. “Ketenangan” ucap Cak Nur sambil sedikit bercerita. 
Bahwa kata yang sama pernah terucap oleh Abah Anom, seorang ajengan (kyai) kharismatik yang bertempat tinggal di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Apa itu ketenangan? Adalah sebuah kondisi dalam keseimbangan. Kondisi yang seimbang akan menghasilkan sebuah ketenangan. Mengapa air mengalir? Karena ia mencari kesetimbangan baru, dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. 
Air akan terus bergerak mengalir hingga ke tempat kesetimbangan baru, dan saat itulah air dalam keadaan yang tenang. Begitu pula, mengapa tanah menjadi longsor, karena tanah mencari kesetimbangan baru agar tidak bergerak lagi, tetap diam, hingga menjadi tenang kembali.
Bumi dan planet-planet lain terus berputar mengelilingi matahari dalam keadaan yang setimbang yang teratur antara gaya sentrifugal (gaya tolak) dan gaya sentripetal (gaya tarik). Hingga benda-benda langit itu akan mencapai kesetimbangan baru saat nanti sang matahari akan kehabisan energi yang memadai. 
Begitulah seterusnya, bintang-bintang berputar mengelilingi pusat galaksi secara teratur dan setimbang, hingga suatu saat perlu keseimbangan baru. Galaksi-galaksi pun terus berputar secara teratur dan setimbang mengelilingi pusat alam semesta raya, hingga batas akhir pengembangan jagat raya, untuk kemudian menemukan keseimbangan yang baru. 
Lalu, bagaimana dengan seorang manusia? Kondisinya hampir sama. Pertumbuhan seorang manusia, dimulai dari janin, kemudian terlahir menjadi bayi, terus menjadi anak, remaja, hingga dewasa. Apa yang dilakukan selama hidup ? Mencari kesetimbangan dalam hidup. Lihatlah, bagaimana bayi ketika menangis? 
Maka, sang ibu memberinya air susu ibu untuk mengembalikan kondisi yang seimbang, agar bayi kembali menjadi tenang, setidaknya tidak terus-menerus menangis. Bagaimana jika kita sedang lapar? Kitapun akan mencari makan agar perut menjadi enak dan nyaman, agar kondisi fisik menjadi seimbang dan tenang. 
Begitu pula, seorang manusia membutuhkan sosialisasi dalam hidup bermasyarakat, dan aktualisasi diri, agar dapat memperoleh kesetimbangan makna di lingkungan sesamanya.
Apa yang terjadi dengan seseorang saat sedang sakit? Adalah sebuah kondisi yang tidak setimbang, hingga perasaan kurang tenang. Mengapa orang yang sakit akan merasa lebih sensitif?  
Ambillah contoh paling mudah dan konkret, seseorang yang kena sakit gigi.  Apa yang terjadi dengan dirinya? Sebuah kondisi yang tidak seimbang, sehingga begitu mudah tidak suka saat mendengarkan suara yang berisik dari sekelilingnya. 
Begitu pun bagi mereka yang terkena depresi, stres, atau tekanan darah tinggi. Sebuah kondisi yang tidak seimbang, yang membuat jiwanya tidak tenang, dan lekas marah. Itulah, mengapa orang sakit ingin segera sembuh, agar kembali pada kondisi yang seimbang dan menjadi tenang.
“Ketenangan adalah asal kita, sekaligus tujuan kita, saat nanti kita kembali”.
Kita berasal dari zat yang Maha Tenang. Ruh itu ditiupkan dalam rahim yang berusia sekitar 4 bulan. Maka, sang janin menjadi hidup dan merasa tenang dalam alam rahim sang ibu. Maka, ketika sudah terlahir, ketenangan itu ada pada diri wajah bayi dan anak-anak yang masih polos. 
Hingga seseorang mulai menginjak remaja, atau bahkan menjadi dewasa, maka ketenangan itu mulai terusik.  Mengapa? Ketenangan seseorang mulai terusik oleh banyaknya keinginan dan kenyataan yang mulai dipahami oleh dirinya. Bahwa tidak semua keinginan itu dapat dipenuhi.
Saat itulah, sesungguhnya ketenangan seseorang mulai tergoyahkan, atau bahkan  dipertaruhkan dalam hidupnya. Apakah ia akan mampu kembali menjadi sosok diri yang tenang? Itulah mengapa Agama mengajarkan tentang perlunya pengendalian diri dari segala keinginan dan nafsu yang berlebihan.
Itulah mengapa Tuhan mengajarkan agar seseorang rajin berzikir, atau mengingat Tuhan, karena zikir (termasuk sholat) akan membuat hati tenang. Itulah mengapa perlu ada puasa, misalnya, sebagai sarana untuk melatih penegendalian diri, agar jiwa menjadi tenang.
Itulah mengapa Tuhan menurunkan Lailatul Qodar saat bulan Ramadhan, untuk mengukur tingkat ketenangan hati seseorang selama berpuasa. Hanya mereka yang hatinya dalam keadaan tenang dan damai, yang dapat menjumpai malam yang lebih baik dari seribu bulan.
“.... tenang (damai) lah malam itu, hingga terbit fajar” (Q.S. 97 : 5)
Ketenangan, memang menjadi kunci dalam hidup seorang manusia. Mengapa ? Karena, hanya mereka yang berjiwa tenang yang nanti akan memperoleh panggilan khusus dari Tuhan.
“Hai jiwa yang tenang ! Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan (hati) ridho dan diridhoi (Tuhan). Maka, masuklah kamu dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kamu ke dalam surga-Ku” (Q.S. 89 : 27-30)
Maka, ketenangan adalah kunci bagi seseorang saat hendak kembali ke asalnya (Tuhan). Hanya jiwa yang tenang, jiwa yang bisa ridho dan diridhoi Tuhan. Hanya jiwa yang tenang,  jiwa yang layak untuk masuk ke surga-Nya. Lalu, para malaikat pun akan berucap saat di surga :
“Salamun ‘alaikum (keselamatan, ketenangan,kedamaian) atas kamu, karena kamu telah sabar, maka sebaik-baiknyalah ganjaran itu di surga” (Q.S. 13 : 24)
Surga adalah kampung yang tenang dan damai, atau daarussalam. Bukankah pengertian Islam adalah berkenaan dengan keselamatan, ketenangan dan kedamaian? Benar. 
Maka, menjadi muslim berarti menjadi diri yang selamat, menjadi diri yang tenang, menjadi diri yang damai, selama dalam kehidupan seseorang. Hingga, ia  akan kembali lagi menuju keselamatan, ketenangan dan kedamaian yang kekal dan abadi, kelak di hari akhir nanti.
Seseungguhnya, dari-Nya kita berasal, dan kepada-Nya kita akan kembali.... dalam keadaan Islam (selamat, tenang dan damai)....
Innalilahi wa inna ilaihi roji’un.... Wallahu a’lam bishowwab. *** [Srie]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar