Jumat, 20 Mei 2011

Cerber Empal Gentong (1)


Oleh Sri Endang Susetiawati
Hentakan roda kereta yang membentur sambungan rel yang sudah tua, begitu berisik terdengar dan cukup memekakkan telinga. Namun, orang-orang tetap saja acuh tak acuh saat mereka hilir mudik melewati lintasan rel kerata api yang tidak dijaga. Dengan alasan mempersingkat waktu, mereka memaksakan diri untuk selalu memanfaatkan jalan sempit yang cuma dikelola oleh pak Ogah.

Tidak jauh dari perlintasan liar, agak ke sebelah selatan sedikit di deretan kios pedagang kaki lima. Sebuah garis polisi berwarna kuning masih menempel dan melingkari sebuah warung nasi yang mudah dikenali, dengan gentong hitam yang terletak di bagian depan. Papan nama yang menunjuk pada identitas warung tampak masih terpasang, menggantung dibawah atap genteng yang terbuat dari bahan seng.
“Empal Gentong, Pak Haji Gendut, Asli Cirebon” demikian bunyi plang itu.
Di depan seberang jalan, tiga orang wartawan TV, terlihat sedang melakukan wawancara dengan seorang pedagang Mie Rebus di warungnya.
“Apa yang bapak lihat saat itu ?” tanya Khalifia.
“Haji Gendut dan istrinya sudah menggelepar di lantai, Para pembeli, juga terlihat kejang-kejang, lalu terjatuh dari kursinya” ujar Pak Sanusi.
“Terus ?” sela Fia, sapaan Khalifia.
“Sama. Mereka pun langsung menggelepar,  matanya membelalak, dan dari mulutnya keluar air berbusa berwarna kekuningan”. Fia terlihat menelan kembali air ludahnya.
“Bapak juga yang pertama melapor ke Polsek ?” tanya Fia.
“Bukan. Yang pertama melapor adalah Pak Asep, tukang parkir” jawab Pak Sanusi.
KRL Pakuan, tujuan Bogor-Jakarta lewat. Suara peluit kereta api yang kerap terdengar bising di lintasan dekat  Stasiun Pasar Minggu itu, tak menyurutkan niat Fia dan kedua rekannya untuk terus melakukan investigasi atas suatu peristiwa minggu lalu yang cukup menghebohkan. Tujuh orang pelanggan, termasuk sang pemilik warung,  Pak Ahmadi alias Haji Gendut dan istrinya, turut menjadi korban keracunan masal, yang berbuntut pada kematian mereka yang sangat mengenaskan. Saat itu, upaya warga untuk memberikan pertolongan dengan membawa korban ke rumah sakit terdekat, ternyata cukup terlambat. Kesembilan korban, semuanya meninggal.   
Seno, salah seorang rekan kerja Fia, baru saja usai menelepon.
“Bagaimana info dari Polsek ?” tanya Fia, masih terduduk di bangku panjang milik warung Pak Sanusi.
“Belum ada kemajuan” jawab Seno singkat, dengan berdecak mulut dan dahi yang terlihat mengernyit.
“Hampir seminggu berlalu, belum juga ada tersangka” ucap Aditya, rekan yang satunya lagi ikut menimpali.
“Calon tersangka sudah ada” balas Seno.
Kepolisian setempat belum juga berhasil mengungkap siapa pelaku yang diduga menaburkan racun pada masakan berkuah santan kental berwarna kuning yang berisi daging sapi dan jeroannya itu. Polisi baru dapat memastikan mengenai penyebab kematian, yang menyimpulkan adanya zat racun arsen yang biasa digunakan untuk membunuh tikus, melebihi 1,7 mg per liter pada cairan empal gentong. Hingga kini, polisi masih terus mencari bukti dan mendengar keterangan saksi-saksi, untuk mengungkap kasus empal gentong yang masih misteri.
Sejumlah pihak, memang telah dimintai keterangan sebagai saksi, yang dianggap mungkin terkait dengan peristiwa tersebut. Ada Pak Suminto, pedagang warung nasi dan soto Lamongan yang tempatnya bersebelahan dengan warung Pak Haji Gendut.  Polisi sedang mengembangkan kemungkinan adanya motif persaingan dagang dengan korban. Beberapa saksi, termasuk Pak Sanusi dan seorang tukang parkir, menyebutkan pernah menyaksikan Pak Suminto dan korban bertengkar di depan warungnya. Gara-garanya, Pak Suminto melakukan protes kepada korban, karena halaman depan warungnya sering terhalangi oleh kendaraan milik pelanggan korban.
Kejadian tiga hari sebelum kematian korban, yang semula hanya berupa cekcok mulut, kemudian saling perang ancaman, hampir berubah menjadi perkelahian, yang mirip adegan duel, satu lawan satu, antara dua jagoan di sebuah film laga nasional.
“Beruntung, banyak warga, termasuk saya, segera melerai mereka” ujar Pak Sanusi.
Sementara itu, Pak Asep, tukang parkir di sekitar warung  menambahkan, kalau dalam sebulan terakhir, kedua pedagang makanan itu sudah sering terlibat adu mulut. Katanya, “Pak Suminto merasa kalah bersaing dalam berdagang, kemudian merasa tersinggung dan sakit hati oleh korban”.
Di tempat warungnya sendiri. Sambil berkecak pinggang, kemudian Pak Suminto menunjuk-nunjukkan tangannya.
“Silakan buktikan, kalau memang saya pelakunya” tantang penjual Soto Lamongan ini kepada wartawan.
“Si Haji Gendut itu wajar saja banyak musuhnya. Wong dia suka bikin gara-gara” tambahnya lagi.
“Maksudnya, Pak ?” tanya Fia.
“Dia itu sombong, mentang-mentang jualannya payu (laku), seenaknya suka nyinggung orang” jelasnya.
Ada juga Pak Abdullah, pedagang daging sapi di Pasar Minggu, yang dimungkinkan terlibat dengan korban karena urusan utang piutang. Fia dan rekannya masih belum melakukan penggalian informasi terhadap saksi ini. Begitu pula dengan Sumiyati, perempuan muda berusia tiga puluh tahun yang diduga selingkuhan korban, yang kabarnya pernah melakukan ancaman melalui SMS kepada korban.
“Sumiyati itu cewek matre” kata Pak Asep.
“Dia suka morotin uang Haji Gendut. Kali, kemarin dia ngambek karena enggak dikasih uang lagi oleh korban” cerita tukang parkir itu.
Fia dan rekannya masih menunggu perkembangan lebih lanjut dari pihak kepolisian.
 Mereka masih terlihat duduk-duduk di depan warung. Sementara mobil dinasnya masih diparkir di sisi jalan. Rombongan kecil masa kampanye, yang mengibar-ngibarkan bendera partai dan foto caleg, sesekali terlihat memadati jalan dengan menggunakan sepeda motor ataupun mobil. Suara teriakan yel-yel dan ajakan memilih partai dan calegnya terus terdengar, bak mereka sedang jualan kecap yang katanya nomor satu. Masa kampanya Pemilu Legisatif, memang tengah berlangsung sejak dua minggu yang lalu.
Seorang ibu berbaju kumal yang sedang menggendong anak kecil, terlihat berjalan melintas di hadapan mereka. Tiga anak lainnya yang membawa karung plastik di belakang punggungnya, terlihat mengikuti si ibu dari belakang. Sesekali, mereka mengambil satu-persatu gelas plastik dan botol plastik, bekas air minum dalam kemasan yang dijumpai di jalan. Tepat di depan warung Pak Haji Gendut, si ibu menghentikan langkahnya sebentar ketika si kecil terlihat menangis, merengek-rengek dan sedikit agak meronta, sambil menunjuk-nunjukkan tangannya ke arah warung bergaris polisi itu.
“Emak,... empal... empal...” rengek anak kecil itu, berulang-ulang.
Rengekan si kecil tidak lagi menjadi perhatian bagi Pak Sanusi, karena ia telah sering melihat mereka lewat di depan warungnya hampir setiap hari. Begitu pula, dengan Seno yang tengah asyik memainkan telepon genggamnya dalam upaya memburu berita, dan Aditya yang cuma sempat menoleh sebentar, kemudian terfokus lagi pada kamera yang ia bawa. Kecuali Fia, yang perhatiannya terus tertuju pada sosok ibu berperawakan kurus tak terawat yang masih berusaha menenangkan anak kecil yang terus merengek, dan terlihat tengah memaksa untuk meminta kesukaannya.
Nalurinya sebagai seorang perempuan turut mengusik kesadarannya, walau hanya untuk sekedar bertanya, “Siapa si ibu itu, Pak ?”. Karena merasa ditanya, dengan terpaksa Pak Sanusi menyempatkan sebentar untuk menoleh ke arah perempuan hampir paruh baya yang  menggendong anak kecil berusia sekitar 2-3 tahun itu. Lalu, pandangannya dialihkan kepada Fia, katanya “Oh, dia itu penghuni liar di pinggir lintasan rel kereta, dekat Stasiun sana” jawabnya, seraya menunjukkan tangan ke arah deretan gubug liar di sebelah Stasiun Pasar Minggu.
Pak Sanusi masih terus menjelaskan kepada Fia tentang sosok si ibu berbaju kumal itu, sesuai dengan apa yang diketahuinya. Katanya, setiap hari sebelum dhuhur, ia sering lewat di depan warungnya, pergi berjalan kaki bersama keempat anak-anaknya ke arah Lenteng Agung. Namun, Pak Sanusi tidak tahu mengenai tempat yang mereka tuju. Sekitar tiga jam kemudian, si ibu dan anaknya melewati  depan warungnya kembali untuk pulang ke gubugnya yang kumuh.
Informasi dari Pak Sanusi membuat Fia penasaran. Beberapa kali, ia coba ajukan sejumlah pertanyaan tambahan. Pak Sanusi pun masih mau melayaninya dengan menjawab sesuai apa adanya, atau terkadang berdasarkan analisa dan penilaian yang subjektif dari dirinya. Ketertarikan Fia atas sosok ibu kumal yang beranak banyak tadi kian berkembang, memenuhi sudut isi pikiran dan hatinya yang kian tak tertahankan. Serpihan informasi dan jalinan fakta-fakta yang telah ia terima, telah membentuk sebuah abstraksi yang kian jelas pada layar otaknya. Kini, ia merasa yakin telah mendapatkan sebuah ide baru untuk sebuah liputan yang dianggapnya cukup menjanjikan.
Maka, ia sampaikan secara sekilas ide baru itu kepada kedua rekannya. “Liputan apa ?” tanya Aditya, yang kedua telinganya terkesan kurang perhatian, di tengah suara bising kendaraan yang ramai berlalu lalang.
“Liputan tentang kaum pinggiran” jawab Fia, dengan suara agak lebih dikeraskan.
“Kasus empal gentong saja belum selesai terungkap, kita jangan kemana-mana dulu” pinta Aditya, atau biasa disapa Adit.
Pendapat Adit didukung oleh Seno. “Kita fokus dulu” ucap pria yang masih saja melajang meski usianya telah menginjak paruh tahun berkepala tiga.
“Menurutku, liputan ini penting dan menarik” dalih Fia.
Seno menoleh ke arah Fia. Matanya menatap tajam dan menekan, “Jangan selalu memaksakan kehendakmu, Fia. Kamu akan bermasalah dalam kariermu”.
Fia tidak membalas tatapannya. Pandangannya dialihkan ke Aditya, seakan meminta dukungan darinya.
“Mungkin belum saatnya, Fia” ucap Adit. 
Fia mengerti atas keberatan dari kedua rekannya.  Sehingga, ia tidak merasa perlu untuk memberi tanggapan dan penjelasan yang baru. Rasa penasarannya untuk sementara harus ia tunda, walau dengan hati yang sangat terpaksa. Ia mengikut saja saat Seno mengajaknya untuk beranjak dari tempat duduknya. Mereka  terlihat memasuki mobilnya, kemudian bergerak perlahan, pulang menuju ke tempat kerja, di tengah siang hari yang terasa kian terik oleh panasnya sang mentari.
(Bersabung)
Salam Persahabatan
Srie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar