Minggu, 22 Mei 2011

Cerber Empal Gentong (2) : Saat Makan Siang, Perempuan Berbaju Kumal


Oleh Sri Endang Susetiawati
Keesokan harinya, Khalifia, atau biasa disapa Fia datang lagi ke tempat yang sama, di sebuah jalan dekat Stasiun Pasar Minggu, Jakarta. Kali ini, ia sendirian tanpa mengenakan baju seragam. Setelah menunggu untuk beberapa saat lamanya, ia melihat perempuan berbaju kumal dan anak-anaknya melintas di depannya. Persis, saat berjalan di depan warung Pak Haji Gendut, rengekan si kecil terdengar kembali, “Emak...., mau empal...mau empal...”. Perempuan itu hanya menoleh sebentar ke arah warung, untuk kemudian ia berusaha untuk menenangkan anaknya.
Fia berusaha mendekat. Namun, ia disambut oleh tatapan mata si ibu yang sempat terperanjat, dan terlihat kurang bersahabat. Sebuah pertanyaan meluncur dari mulut Fia, “Memang ada apa dengan si kecil, bu ?”. Si ibu hanya menatap, dengan sedikit curiga.  Pandangannya teralihkan oleh ulah si kecil yang masih saja terus menangis dan merengek. Fia megulangi lagi pertanyaannya, “Memang si Ade minta apa, bu ?”. Si ibu kembali menoleh, lalu menatap mata Fia. “Tidak minta apa-apa, cuma lagi rewel saja” katanya berkilah.
Si ibu kembali melanjutkan langkahnya, menyusuri sisi jalan yang ramai berlalu lalang kendaraan. Fia mengikutinya dari belakang. Selang puluhan meter jarak terlewati, si ibu menoleh ke arah Fia lagi.  “Kenapa anda membuntuti kami terus ?”. Fia sempat terkaget saat mendapat pertanyaan bernada ketus dengan tatapan yang terkesan bermusuhan.
Bagi Fia, si ibu ini agak berbeda dari kebanyakan kaum pinggiran yang lainnya. Ia terlihat sangat sensitif dan cukup agresif. Fia makin dibuat penasaran dan kian merasa tertantang. “Maaf, bu. Saya Fia, wartawan TV, mau meliput tentang kehidupan ibu. Boleh, kan ?” ucap Fia sambil menjulurkan tangannya menawarkan bersalaman. Si ibu menjabat tangan Fia, dengan sedikit komentar sekenanya, “Liput saja sesukanya”.  “Terima kasih, bu” ucap Fia, yang segera disusul dengan mengeluarkan benda hitam dari dalam tasnya.
Fia mulai merekam sosok si ibu dan anak-anaknya. Sesekali, sambil terus mengikuti berjalan kaki, Fia masih sempat mengajak si ibu untuk mau mengobrol dengannya, “Maaf, nama ibu siapa, ya ?” Si ibu kembali menoleh ke arah Fia, “Namaku ? Heh, tidak penting, non. Aku sudah lupa nama sendiri”. “Masa, sih ?” balas Fia.
Si ibu masih terlihat cuek, “Tadi, anda mau meliput apa tentang kami ?”.
“Tentang kehidupan kaum pinggiran” jawab Fia.
“Sebut saja, namaku kaum pinggiran” katanya. 
Fia tidak langsung menanggapi. Si ibu melanjutkan bicara, “Anda pun boleh menulis namaku dengan si kumal atau si gembel, seperti kata orang-orang yang biasa menyebutku, termasuk si gendut yang mengaku haji itu”.
Ucapan si ibu tentang Haji Gendut menarik perhatian Fia. “Maksudnya, Pak Haji Gendut pemilik warung Empal Gentong itu ?” tanya Fia, mulai menggali informasi.
Muka si ibu terlihat agak berubah, seolah tersengat oleh sesuatu yang membuatnya marah, “Ya, iya. Siapa lagi, si haji gendut yang sok sombong dan suka menghina orang kecil itu”.
Kembali, Fia terkaget. Ia tidak menyangka si ibu begitu sangat sensitif terhadap nama pemilik warung yang telah tewas dan kasusnya masih diselidiki oleh polisi itu.  Fia bermaksud untuk bertanya lagi. Namun, untuk sementara niatnya telah ia urungkan. Matanya telah menangkap sesuatu yang terlalu sayang kalau sampai ia lewatkan. Ia segera berlari untuk mendekati. Alat perekam gambarnya, kini ia tujukan pada pemandangan yang dianggapnya langka.
Anak-anak telah berjarak beberapa puluh meter di depan ibunya. Mereka berbelok ke kiri, mengarah ke sebuah bangunan pabrik di kawasan Lenteng Agung yang memiliki ratusan buruh perempuan. Tepat di depan pintu masuk pabrik, mereka berjalan melingkar ke arah selatan bangunan. Kemudian, mereka berhenti setelah menjumpai sebuah pagar berteralis besi setinggi tiga meter lebih. 
Fia terus mengarahkan kameranya untuk merekam bagaimana cara mereka masuk ke halaman belakang bangunan pabrik garmen itu. Anak laki-laki yang paling kecil berusia 5 tahun, memasukinya dengan cara menyelipkan badannya di antara sela-sela jeruji besi besar yang selebar ukuran kepala anak kecil. Sementara itu, dua anak lainnya, satu laki-laki berusia 9 tahun dan satu perempuan, anak yang terbesar berusia 12 tahun, melewati pagar besi dengan cara memanjatnya, dengan cukup cekatan dan tanpa ada rasa takut sedikitpun. Terakhir, si ibu yang masih menggendong si kecil, ikut juga menaiki pagar besi yang tinggi. Meski agak takut dan merasa ngeri, akhirnya Fia pun mengikuti jejak mereka.    
Lalu, mereka menuju ke arah sudut bangunan, dimana sampah bekas makanan dari ratusan para pekerja pabrik untuk sementara dibuang. Di tempat itu, ketiga anak dan ibunya berusaha mengais-ngais barang plastik untuk dikumpulkan di karung yang mereka bawa dibalik punggung. Mereka juga membuka-buka sampah bungkusan makanan,  sisa nasi bungkus para buruh saat makan siang. Mereka sudah terbiasa, harus berebut dengan lima ekor kucing yang terlihat lapar dan telah ada di tempat itu lebih dulu.
Sebagian sisa makanan ada yang langsung mereka makan, sebagian lagi mereka kumpulkan dan diserahkan kepada si ibu untuk dipilah kembali. Ada sisa nasi putih yang belum tercampur dengan sayur. Ada sisa tempe, tahu, sambal dan sayuran yang masih berada di bungkus plastiknya. Ada juga sedikit daging ayam yang masih tersisa bersama tulang-tulangnya.  Si ibu dan anaknya mulai makan sisa makanan itu. Tak ketinggalan,si kecil yang di gendongan pun ia beri makan, yang terlihat sangat girang.
Fia terpaksa harus memalingkan muka dan menelan kembali air ludah di mulutnya yang merasa tidak sedap saat melihat pemandangan tersebut. 
“Syukurlah, si kecil sudah terlihat senang” ucap Fia berusaha menutupi perasaan yang sebenarnya.
Sambil memulai duduk di dekat dinding belakang pabrik, si ibu menoleh sebentar ke arah wartawati bertubuh kecil, dengan potongan rambut pendek itu. Saat mulutnya telah kosong dari makanannya, ia membalas ucapan Fia.
Katanya, “Baru tahu ya, bagaimana cara kami memperoleh makanan ?”
Fia menganggukkan kepala, heran. “Sudah berapa lama, bu ?” tanya Fia.
“Sudah enam bulan” jawab si ibu.
Selanjutnya, Fia hanya terus memandanginya saja. Niatnya untuk menanyakan lagi soal Pak Haji Gendut telah ia urungkan, karena dianggap belum tepat waktu, khawatir akan mengganggu kenikmatan mereka dalam bersantap siang. Ia alihkan pertanyaan ke soal kehidupan keluarganya.
“Anak-anak, apa sempat sekolah, bu ?”.
Si ibu memandangi ke arah anaknya yang paling besar. “Tina sampai kelas lima SD, dan adiknya, Doni, baru kelas tiga sudah keluar”.
“Sayang sekali, mereka harus keluar sekolah” ucap Fia.
“Iwan belum sekolah, sama dengan Ade, si bungsu ini” imbuh si ibu.
“Maaf, kalau ayahnya anak-anak, dimana, bu ?” tanya Fia lagi. “Sudah meninggal, lima bulan lalu” jawab si ibu datar.
Kegetiran hidup yang dialami masih terbayang di wajah si ibu yang berasal dari daerah Lebak, Banten. Meski terkesan, ia telah berusaha untuk melupakannya. Di tengah kesehariannya tinggal di gubuk bedeng seng di lintasan rel kereta api Pasar Minggu.
Belum juga Fia sempat mengungkapkan rasa simpatinya, si ibu sudah bangkit dari tempat duduknya. Ia melangkah kembali menuju ke tempat tumpukan sampah. Sambil terus mengais-ngais sampah, suap demi suap, makanan sisa itu terus mengisi perut si ibu dan keempat anaknya. Mereka terlihat begitu lahap.
Ratusan lalat yang telah hinggap dan sesekali beterbangan ke sana sini dan kian kemari, telah dianggap sebagai teman setia saat makan siang. Tidak ada lagi rasa risih, tidak takut sakit kena penyakit, yang penting meriah enak dikunyah, dan membuat gampang perut kenyang. Fia menyaksikan semuanya, hanya dengan geleng-geleng kepala.....*** By Srie


(Bersambung....)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar