Jumat, 27 Mei 2011

Islam Yes, Korupsi Yes ?


Oleh Sri Endang Susetiawati
Slogan di atas, tentu saja tidak terkait langsung dengan slogan terkenal “Islam Yes, Partai Islam No !” yang pernah dilontarkan oleh almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur) kira-kira sejak 40 tahun lalu. Jika “Islam Yes, Partai Islam No !” merupakan kritik pedas atas perilaku para politisi muslim yang saat itu mengidentikkan Islam dengan partai yang diusungnya dalam Pemilu, maka “Islam Yes, Korupsi Yes ?” hanya merupakan bagian dari introspeksi atas perilaku para pejabat yang mengaku beragama Islam yang hingga kini tetap saja gemar melakukan korupsi.
Benarkah Islam membenarkan praktek korupsi ? Jelas, sangat tidak benar ! Islam sangat jelas mengharamkan umatnya memperoleh uang dengan cara yang haram. Islam mengingatkan kepada para orang tua agar tidak memberikan nafkah, makan, minum, sandang dan papan kepada anggota keluarga dan anak-anak  dari rizki yang jelas-jelas tidak halal. Bahkan, rizki yang masih abu-abu atau syubhat pun sebaiknya ditinggalkan atau dihindari oleh umat Islam. Mengapa ? Karena uang haram atau syubhat itu akan berpengaruh buruk atas perilaku anggota keluarga yang memanfaatkannya. Bahkan, ancaman siksaan di neraka bagi mereka yang biasa memakan uang haram telah jelas digambarkan oleh Allah.
Pertanyaannya, mengapa para pejabat yang muslim masih saja banyak yang mempraktekkan perilaku korupsi ? Kalau diumpamakan, tak ubahnya  mereka sedang menerapkan slogan “Islam Yes, Korupsi Yes ?”. Mereka mengaku beragama Islam adalah betul, tapi melakukan praktek korupsi tetap saja jalan, meski mereka sadar bahwa akan selalu ada tanda tanya di kepalanya.
Sebuah ironi yang layak dipertanyakan, mengapa sebuah bangsa yang mayoritas beragama Islam, namun praktek korupsinya masih merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Mengapa keberagamaan kita sebagai kaum muslim tidak berdampak signifikan atas  berkurangnya praktek korupsi yang kian menggila di negeri ini ? Adalah sangat wajar, ketika PB NU mengeluarkan reaksi yng sangat keras, bahwa para koruptor yang telah meninggal, mayatnya tidak perlu disholati oleh para Kyai NU.
“Mayat koruptor itu cukup disholati oleh sopir, satpam, keluarga dan para pendukungnya saja” kata Prof. Said Aqil Siradj, Ketua Umum PB NU, di kantornya semalam saat mengingatkan kembali terkait hal perang melawan korupsi.
Meski masih menuai pro dan kontra mengenai himbauan PB NU itu, namun semangatnya adalah bagaimana agar ajaran Islam mampu memberikan efek jera bagi para pelaku korupsi dengan cara memberikan sanksi sosial kepada mereka. Semangat ini, tentu sejalan dengan pendapat Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Moh. Mahfud MD beberapa waktu lalu, bahwa koruptor harus dilakukan tindak pemiskinan terhadap dirinya dengan cara menyita semua harta yang terkait dengan hasil korupsi sebagai harta milik negara.
Dalam perspektif kebangsaan, tentu saja masalah korupsi tidak hanya dipraktekkan oleh umat Islam. Korupsi pun, tak sedikit pula yang dipraktekkan oleh mereka yang mengaku beragama selain Islam. Jadi, cukup jelas,  bahwa dalam perspektif yang lebih luas, masalah korupsi adalah masalah bersama bagi umat beragama di Indonesia. Masalah korupsi, adalah tantangan terbesar bagi kaum beragama di negeri ini. Bahwa mereka, khususnya para tokoh agama harus memberikan konstribusi yang positif atas upaya pengurangan dan pencegahan praktek korupsi yang hingga kini masih sangat jauh di atas ambang toleransi, sebagai sebuah bangsa yang beradab.

Secara simultan, upaya dari para para tokoh agama itu perlu diimbangi pula, antara lain dengan upaya penegakkan hukum yang lebih tegas, penerapan hukuman yang lebih berat, dan revisi UU paket politik yang memperbolehkan tampilnya Calon Legislatif (Caleg) dan Calon Presiden (Capres) dari luar jalur partai politik, atau biasa dikenal dengan istilah Caleg dan Capres independen.  Kesemuanya itu adalah bagian dari ikhtiar kita yang sungguh-sungguh dalam memerangi korupsi di negeri ini. Khusus bagi umat Islam, upaya tersebut merupakan bagian dari upayanya untuk menunjukkan bahwa korupsi bukanlah perilaku menyimpang yang melekat dalam diri bangsa yang mayoritas beragama Islam.
Sudah saatnya, bahwa kita sebagai kaum muslimin di Indonesia untuk menyatakan secara tegas dan konsisten dengan menyebut : “Islam Yes, Korupsi No !”.
Bagaimana dengan pendapat Anda ?
Demikian, terima kasih
Salam Persahabatan
Srie
(Muslim Anti Korupsi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar