Sabtu, 14 Mei 2011

Karena UN, Generasi Muda Kurang Toleran !


Oleh Sri Endang Susetiawati
Seorang teman bertanya kepada saya sebagai seorang guru, apa yang menyebabkan para pelajar kita bersikap kurang toleran ? Saya jawab : Ujian Nasional (UN) ! Sang teman sempat kaget. Mungkin, selama ini tak terpikirkan sama sekali. Kok, bisa ya ? “Bisa !” jawab saya. Akar dari sikap toleran adalah sikap yang menghargai adanya perbedaan pendapat atau pandangan. Sikap intoleran, salah satunya terbentuk oleh kebiasaan seseorang yang berada dalam keseragaman berpendapat.
UN adalah salah satu penyebab para pelajar kita bersikap kurang toleran. Mengapa ? Karena, dalam UN siswa dibiasakan untuk menjawab secara seragam. Dalam UN, siswa tidak dibiasakan memahami sebuah jawaban yang benar dari banyak perspektif yang mungkin berbeda-beda. UN mengajarkan pada siswa mengenai sebuah kebenaran tunggal. Kenapa bisa begitu ? Karena UN, menggunakan jenis soal multiple choice, pilihan ganda. Jenis soal inilah, yang amat mungkin diduga menyebabkan siswa menjadi tidak terbiasa untuk berbeda pendapat.
Apa kaitannya, soal pilihan ganda dengan sikap intoleran yang cenderung dimiliki oleh siswa ? Tentu, sangat berkaitan erat. Dari segi jenisnya sebagai alat evaluasi tertulis berbentuk pilihan ganda, UN tidak saja kurang mampu mengevaluasi kemampuan yang dimiliki oleh siswa secara lebih utuh, tidak semata kemampuan yang bersifat kognitif. Namun, UN juga kian mempertegas sebuah proses pembelajaran yang tidak membiasakan siswa untuk berbeda pendapat, atau sekurangnya berbeda cara atau persepektif dalam berpendapat.
Gunakan Ujian Essay
Bandingkan, misalnya jika evaluasi tertulis dalam bentuk Essay. Maka, siswa akan belajar untuk menjawab soal berdasarkan cara dan persepektifnya sendiri. Meskipun, substansi jawaban itu sama dengan siswa lainnya, namun tetap akan ada nuansa perbedaan. Mengapa ? Karena, ada faktor sistem berfikir, gaya bahasa dan cara pengungkapan dalam bentuk tulisan yang berbeda antar siswa dalam menjawab soal Essay.
Dari segi penilaian sendiri, siswa akan diajarkan mengenai bagaimana sebuah soal yang sama bisa dijawab dengan beragam cara dan persepektif yang berbeda di antara teman-temannya. Namun, sepanjang substansi jawaban itu benar, maka semua jawaban yang sepertinya beragam itu dapat dianggap sebagai sebuah jawaban yang benar. Tentu, dari situ siswa akan belajar tentang sebuah kebenaran yang tidak bersifat tunggal dan mutlak. Siswa akan terbiasa untuk menghargai perbedaan dalam memberikan jawaban, toh bisa jadi jawaban itu pun benar adanya berdasarkan penilaian sang guru.
Gunakan Ujian Lisan
Efektifitas evaluasi belajar akan lebih meningkat dalam memberikan pelajaran mengenai perbedaan pendapat bagi siswa, manakala menggunakan ujian lisan. Mengapa ? Karena, dengan ujian lisan atau wawancara secara langsung kepada siswa, guru akan lebih mengetahui kemampuan yang sebenarnya dari siswa secara lebih utuh dan lebih baik lagi. Siswa akan terbiasa belajar bagaimana mengemukakan pendapatnya secara langsung di hadapan gurunya atau orang yang ditunjuk sebagai anggota Tim Penilai.
Jelas, ujian lisan ini akan memberi pelajaran kepada siswa tentang kebiasaan berpendapat, tentang kebiasaan menjawab pertanyaan atau soal yang tidak semata berdasarkan jawaban tertutup atau bersifat tunggal. Siswa akan terbiasa mengembangkan sendiri pendapat atau jawabannya berdasarkan apa yang ia pelajari berdasarkan atas rangkaian kata-kata yang disusunnya sendiri.  Jelas, dalam hal ini, ujian lisan akan membiasakan siswa untuk lebih banyak berfikir yang membuatnya akan lebih cerdas, serta membuat siswa jadi terbiasa untuk menghargai pendapatnya sendiri dan pendapat orang lain.
Gunakan Cara Mengajar Dialogis
Di luar soal bentuk evaluasi belajar, tentu proses belajar mengajar yang diselenggarakan oleh guru selama di kelas, juga turut berpengaruh. Mengapa ? Karena proses pembelajaran di kelas, jelas merupakan proses pembiasaan sikap dan kepribadian dalam jangka waktu yang relatif lama. Guru yang biasa mengajar dengan pendekatan dialogis kepada siswanya akan memberikan pembelajaran yang lebih baik atas tumbuhnya sikap toleran pada siswa.
Sebaliknya, guru yang terbiasa mengajar dengan metode ceramah secara monoton, cenderung tidak akan merangsang siswa untuk berfikir, dan berani untuk melakukan dialog. Karena, hanya dalam proses dialoglah, maka perbedaan pendapat yang muncul dari para siswa akan diketahui dan akan lebih dihargai. Inilah, yang akan menumbuhkan sikap toleransi siswa atas beragam pendapat dan pandangan yang diberikan oleh teman-temannya saat belajar di kelas atau di luar kelas.
Tentu saja, akan lebih baik lagi bila dalam proses belajar mengajar, guru pun membiasakan untuk menggunakan jenis evaluasi belajar yang bukan pilihan ganda. Guru perlu terbiasa menggunakan ulangan jenis Essay atau lisan dalam melakukan ulangan harian atau ulangan sumatif. Agar, siswa tidak saja terbiasa belajar lebih cerdas, juga terbiasa berani berpendapat, dan lebih terbiasa menghargai perbedaan pendapat di antara teman-temannya. Jika, hal ini sudah terjadi, maka sikap toleran akan tumbuh berkembang secara optimal dalam diri siswa.  
Hentikan UN, Cegah Radikalisasi
Apa kesimpulannya ? Fenomena intoleransi yang berakibat pada adanya sikap radikalisasi pada generasi muda, secara efektif dapat diatasi dengan mulai membenahi proses belajar dan evaluasi belajar di sekolah. Kembangkan proses dialog selama belajar di sekolah, gunakan jenis evaluasi Essay dan lisan, serta untuk sementara tinggalkan jenis ujian tertulis pilihan ganda, termasuk juga hentikan UN. Agar sikap toleran dapat berkembang dalam diri siswa, dan agar generasi muda dapat dicegah dari radikalisme.

Demikian, terima kasih.
Salam Persahabatan
Srie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar