Sabtu, 14 Mei 2011

Seri Praktek Korupsi (2) : SK Anggota Dewan Digadaikan, Proposal Jadi Andalan !


Oleh Sri Endang Susetiawati
Sebutlah namanya Deny, bukan nama sebenarnya. Dia bermaksud datang sebagai tamu di rumah kenalan akrabnya yang kini menjadi salah seorang anggota DPRD di salah satu kota di Jawa Barat.  Untuk apa dia bertamu ? Hah, apalagi kalau untuk dua hal saja : (1) untuk berbasa-basi sebagai salah seorang anggota Tim Sukses sang anggota Dewan saat Pemilu lalu; (2) untuk sebuah keperluan khusus, permohonan bantuan uang terkait anaknya yang dirawat di rumah sakit.
Apa tanggapan sang anggota Dewan ? “Waduh, sory banget, Deny.... Saya juga lagi kesulitan uang, nih...” ucapnya. Deny belum mau menyerah, “Ah, masa sih. Di rumah sudah ada Toyota Rush terbaru, begini”.
“Bener Deny. Sumpah....”
“Memang, gaji per bulan yang 15 juta lebih itu dikemanain ?”
“Jujur, nih. Gaji saya sudah habis. Hanya sisa satu juta kurang, untuk dibawa pulang”
“Kok, bisa begitu...?”
“He..he..  Hampir semua teman-teman Dewan juga begitu. Termasuk Ketua DPRD nya...!”
“Maksudnya, SK anggota Dewan sudah digadaikan di Bank ?”
“Betul. Memang begitu. Saya punya mobil Rush ini, untuk bayar DP 100 juta lebih, dapat pinjaman dari BPR. Mobil masih ada cicilan kredit. Lalu, saya pinjam lagi 150 juta untuk keperluan lain di BPD Jabar. Semua cicilan kredit dipotong oleh bagian Keuangan Setwan. Belum lagi iuran partai 2 juta per bulan. Sisanya, satu juta kurang saja untuk dibawa pulang”
“Payah....!”
“Memang, mau bagaimana lagi cara kami untuk memperoleh uang. Masa, anggota Dewan datang harus pakai motor butut, tahun 90-an. Ya, kita juga mikir sedikit, Deny...”
“Terus, dari mana anggota Dewan dapat bertahan hidup ?”
“Ya, itu Deny.... Sekarang, saya masih menunggu nih, tiga proposal cair. Katanya, sih minggu-minggu ini. Memang, kecil sih jumlahnya. Tapi lumayan, kalau satu proposal di ACC 25 juta, ya kita dapat 75 juta untuk bulan ini”
“Wah, jadi saya masih bisa kebagian, dong”
“Iyalah, saya sudah menghitungnya. 60 % lebih dana itu bisa dimanfaatkan oleh kita sepenuhnya. Sisanya, silakan adakan kegiatan bakti sosial. Tidak usah sama seperti dalam proposal, yang penting kegiatannya tidak fiktif saja, agar kita dapat foto-fotonya untuk dilaporkan”.
“Enaknya, jadi anggota Dewan ?”
“Hehe... itu jatah untuk setiap anggota Dewan. Kalau pimpinan Dewan, pasti jatahnya beda. Lebih enaklah, mereka..”
“Kalau kegiatan reses, bagaimana ?”
“Ah, itu kan baru bulan depan. Tapi tolong siapkan saja untuk adakan pertemuan reses dengan konstituen. Jatahnya, satu anggota Dewan 21 juta. Tapi, bikin saja anggaran maksimal 7 juta saja. Atur-aturlah, yang datang kan toh kader-kader partai kita juga. Yang penting, mereka kan dapat uang amplop saat pulang. Tak perlu banyak-banyak untuk undangan, cukup 30-an orang saja. Dalam laporan, tulis saja 200 orang. Pintar-pintar saja ambil fotonya agar terlihat banyak, dan jangan lupa daftar kehadiran, bikin sebanyak 200 lebih tandatangan....”
“Oke, deh Pak Dewan. Terus, bagaimana permohonan bantuan saya untuk hari ini ?”
Sesaat sang Dewan, merogoh kantongnya. Lalu, dia berikan 1 lembar uang 50 ribuan kepada Deny, sambil berucap, “Sory, saya hanya bisa kasih segini, ya. Ini juga, uang dapat dari RDP (Rapat Dengar Pendapat) dengan Dinas, kemarin.  Entar, minggu depan ditambahi lebih banyak lagi, pas proposal cair...”
“Yah, walau sangat mendesak banget, terpaksa saya tunggu saja deh, minggu depan”
“Terima kasih, ya....”
Denny pun langsung pamit untuk pulang dengan sepeda motor Supra X terbaru yang masih kreditan.
(Bersambung)
Bagaimana menurut pendapat Anda ?
Demikian, terima kasih.
Salam Persahabatan

Srie.

Catatan : Kisah di atas merupakan kisah nyata yang sebenarnya berdasarkan informasi dari teman, dengan penyesuaian dialog  di sana-sini, tanpa mengubah substansi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar