Minggu, 15 Mei 2011

Seri Praktek Korupsi (3) : Setor Uang Dimuka, Dapatkan Proyek Pemda via Anggota Dewan


Oleh Sri Endang Susetiawati

Untuk ke sekian kalinya, Denny, bukan nama sebenarnya datang kembali ke rumah kenalannya, yang kini menjabat sebagai anggota DPRD di salah satu kota di Jawa Barat. Dilihat dari raut wajahnya dan caranya dia berjalan, kini tampak ada semacam optimisme yang sedang mekar di hatinya. Maka, saat sudah berada di ruang tamu, langsung saja ia mengutarakan maksudnya.
“Saya punya kenalan pengusaha, tolong bantu dong, bagaimana caranya dapatkan proyek di Pemda...”
“Wah, kalau itu mah, bukan bagian saya”
“Maksudnya ?”
“Biar anggota Dewan, terus terang saya belum mampu untuk membantu pengusaha agar dapat proyek Pemda”
“Jadi, anggota Dewan itu ada kelasnya atau ada levelnya begitu ?”
“He..he.. Memang begitu, adanya. Tidak semua anggota Dewan bisa bermain proyek”
“Terus, siapa anggota Dewan yang levelnya sudah bisa bermain proyek”
“Cobalah hubungi X (menyebut nama rekannya, yang anggota Dewan juga), mungkin dia bisa bermain proyek, karena dia sudah dekat dengan Kepala Dinas”
“Kira-kira dapat proyek apa, ya ?”
“Kalau yang paling gampang, dapat proyek PL, alias Penunjukkan Langsung
“Oh, proyek pengadaan yang nilainya dibawah 50 juta itu ya ?”
“Benar. Itu proyek paling gampang, tanpa tender dan kurang beresiko. Tinggal ACC Kepala Dinas, kamu akan dapat beberapa paket proyek PL. Cuma itu, sayangnya saya belum kenal dekat dengan Kepala Dinas”
“He..he.. Makanya, jangan lama-lama jadi anggota Dewan kelas Proposal saja, harus segara naik tingkat jadi kelas pemain Proyek”
  “Itu, tidak mudah, bung. Selain kita harus PEDEKATE kepada para Kepala Dinas, juga kita harus punya jabatan di Dewan. Ya, sekurang-kurangnya pimpinan Komisi”
“Memang begitu, ya...?”
“Iya, walau kita kenal dengan Kepala Dinas, namun tidak punya jabatan di Dewan, ya mana mungkin kita akan dianggap oleh mereka”
“He..he.. Jadi, saya harus menghubungi anggota Dewan yang jadi pimpinan Komisi, nih ?”
“Memang harus begitu. Lebih hebat lagi, kalau kamu bisa menghubungi anggota Badan Anggaran (BANGGAR)”
“Terus, apa hubungannya dengan BANGGAR ?”
“Kalau urusan proyek, ya semuanya ada di situ...”
“Oh.... begitu, ya ?”
“Baru tahu, ya ? Bagi pengusaha yang biasa main Proyek Tender, sudah jauh-jauh hari mendekati salah seorang anggota atau pimpinan BANGGAR, selain harus kenal dengan Kepala Dinas”
“Wah, makin menarik nih...”
“Oleh pengusaha, proyek itu diusulkan atau dititipkan kepada Kepala Dinas agar menjadi bagian dari proyek yang diusulkan oleh Dinas yang bersangkutan”
“Bukannya pengusaha baru ikut saat ada tender dibuka...?”
“Wah, itu telat bung. Hampir semua proyek tender sudah dikawal sejak dari perencanaan dan pengusulan. Itulah gunanya anggota Dewan di BANGGAR, agar proyek yang diusulkan Dinas dapat memperoleh persetujuan anggaran”
---------****--------
Keesokan harinya, Denny menemui sang anggota Dewan yang dimaksud, sebut saja Mr. X, yang menjabat sebagai salah seorang anggota BANGGAR. Kembali, Denny mengutarakan maksud kedatangannya. Langsung memperoleh tanggapan, dari Mr. X.
“Wah, kamu telat Denny...”
“Maksudnya...?”
“Harusnya, kamu sampaikan enam bulan yang lalu. Minggu depan, BANGGAR sudah rapat terkait RAPBD”
“Aduh, celaka deh saya...”
“Ha..ha.. Makanya, jangan pernah janjikan dulu proyek kepada pengusaha. Apalagi, dimintai uang oleh kamu terlebih dahulu...”
“Terus, bagaimana ya ? Tolong bantu saya dong....”
“Ikut saja proyek PL”
“Boleh, bagaimana caranya ?”
“Mudah. Kamu sediakan saja uang 30 juta per paket yang senilai 50 juta. Tiga minggu kemudian, uang sudah menjadi 35 juta. Selebihnya, silakan nego”
“Kalau bendera perusahaannya bagaimana ?”
“Tidak perlu, biar orang dalam yang mengurusnya. Tugas kamu, cuma sediakan uang 30 juta per paket. Terserah, mau ambil berapa paket. Tinggal dikalikan saja. Sangat praktis dan mudah, kan ?”
“Uang itu harus bayar di muka ?”
“Ya, iya. Kalau tidak, mereka akan alihkan ke pengusaha lain yang mau bayar di muka”.
“Nanti akan saya sampaikan. Terus, kalau proyek tender itu bagaimana ?”
“Itu sih susah. Karena, masing-masing anggota BANGGAR dan pimpinan Dewan sudah mengkavling-kavling proyek sesuai dengan jatah masing-masing”
“Apa masih bisa, untuk mendapatkan proyek dari jatah mereka ?”
“Bisa saja sih, tapi proyek senilai  ratusan juta ke atas itu sudah sulit. Harus bersaing keras dengan pengusaha yang sudah lama mengawal proyek”
Lalu, Mr. X mengambil Handphone yang terletak di atas meja. Kepada Denny, ia tunjukkan sebuah SMS yang dikatakan berasal dari salah seorang pimpinan BANGGAR.
“Boleh dapat proyek tender, asal sanggup setor uang dimuka, 20 % dari nilai proyek” bunyi SMS.
“Gila.....!” ucap Denny spontan.
“Memang, begitu aturan mainnya. Di provinsi, lebih gila lagi. Harus setor 30 % dari nilai proyek, dibayar dalam tiga termin untuk setiap paket senilai sekitar 1 Milyar. 10 % dibayar saat pengusaha deal dengan anggota BANGGAR. 10 % dibayar  saat menjelang pembahasan anggota Dewan dengan pihak eksekutif, dan 10 % dibayar saat hendak pengesahan RAPBD menjadi APBD”
“Ck.ck.ck.ck.... Apa dijamin, nanti pengusaha akan menang tender proyek ?”
“Kalau sudah dapat duit, ya akan mereka usahakan. Mafia Dewan dan Eksekutif akan diamankan. Sisanya, ya resiko. Namanya juga pengusaha, kalau mau untung, harus siap juga untuk menanggung rugi yang terburuk sekalipun. Kalau benar pengusaha punya modal uang yang cukup, tinggal nego saja”.
Denny tampak termanggut-manggut. Mungkin, obrolannya dengan Mr. X dianggap sudah cukup. Maka, tak berapa lama kemudian, dia pun pamit untuk pulang.***
Apa Anda berminat untuk mau mencoba ?
Bagaimana dengan pendapat Anda ?
Demikian, terima kasih.
Salam Persahabatan
Srie

Catatan : Kisah di atas merupakan kisah nyata yang sebenarnya berdasarkan informasi dari teman, dengan penyesuaian dialog  di sana-sini, tanpa mengubah substansi.

Tulisan terkait :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar