Selasa, 03 Mei 2011

Tarli, Mahasiswa dan Pedagang Asongan. Kini, seorang Guru dan Distributor.


 Oleh Sri Endang Susetiawati
Namanya, mirip dengan salah satu artis penyanyi terkenal Indonesia saat ini. Makanya, saat hari ini tanggal 2 Mei, tepat Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS), saya mendengarkan salah satu lagu hitnya, saya teringat dengan dia. Namanya Tarli, cukup singkat, hanya satu kata saja. Mirip bukan dengan nama Carlie, vokalis ST 12 yang aslinya berasal dari daerah Cirebon, dan kini menetap di kota Bandung.
Apa yang membuat saya teringat dengan Tarli, adik angkatan di kampusku ? Dia adalah sosok yang layak diteladani. Diterima sebagai mahasiswa di IKIP Bandung (kini bernama UPI Bandung), hanya bermodal nekad dengan hanya membawa tiga pasang pakaian saja. Dia berasal dari daerah di sebelah utara Bandung, yaitu Kabupaten Subang, Jawa Barat. 
Lalu, bagaimana dia tinggal selama di kota Bandung ? Saya pun semula hampir tidak percaya. Dia hanya mengandalkan izin dari pimpinan aktivis mahasiswa, untuk sekedar ikut menginap di salah satu sekretariat organisasi kemahasiswaan. Betul, itulah yang ia jalani selama berbulan-bulan, sehingga mereka yang dikenal aktivis mahasiswa saat itu hempir semua mengenalnya. Karena, di samping menginap di sekretariat, juga ikut numpang mandi di kamar mandi di sekitar tempat itu.   
Terus, bagaimana dia memperoleh makan sehari-hari ? Hingga, suatu waktu yang akhirnya para aktivis tahu semuanya, ternyata dia makan hanya mengandalkan saat ada kegiatan kemahasiswaan saja. Atau, sekali-kali diajak traktir oleh salah seorang diantara aktivis mahasiswa. Benar, Tarli akan menikmati makan yang cukup lumayan jika di kampus ada kegiatan mahasiswa, misalnya ada acara latihan kepemimpinan, diskusi, atau seminar. Di luar itu, ia hanya bisa berharap dari ajakan teman-teman aktivis untuk mentraktir.
Orangnya pendiam dan cenderung lugu, namun mau diminta bantuan apa saja. Bahkan, seringnya ia suka menawarkan diri untuk ikut membantu pekerjaan teman-teman yang lainnya. Dia tidak suka meminta, kecuali pemberian teman alakadarnya. Maka, tak heran ketika suatu saat salah seorang teman mengetahui dia dalam keadaan sakit, baru tahu bahwa dia ternyata telah hampir dua hari belum makan nasi sama sekali.
Inilah yang kemudian membuat teman-teman berinsiatif untuk membawa dia ke poliklinik di sekitar kampus. Bukan hanya itu, teman-teman pun mencari jalan, bagaimana caranya agar dia dapat pekerjaan.  Tentu tidak mudah mencari kerja. Namun, setelah sempat mengobrol dengan yang bersangkutan, dia sendiri yang mengusulkan jalan keluarnya.
Saat itu, teman-temannya sesama para aktivis pun kaget, hampir tidak percaya. Mengapa ? Dia mengusulkan untuk berdagang asongan (seperti rokok, dll) di Terminal Ledeng, di daerah Bandung Utara, yang terletak di seberang kampus di sebelah atas. “Mahasiswa, mau menjadi pedagang asongan ?” mungkin itu pertanyaan dari teman-temannya. Dia pun  merencanakan untuk menjadi tukang semir sepatu. Awalnya, teman-temanya tidak terlalu serius menanggapi. Namun, setelah beberapa kali dia meminta bantuan untuk keperluan itu, akhirnya teman-teman aktivis pun pun mendukung niat dan kesungguhan Tarli.
Lalu, darimana dia memperoleh modal ? He..he..he.. Itulah salah satu gunanya menjadi aktivis. Beberapa orang teman patungan mengumpulkan uang. Terkumpullah hanya sekitar 150 ribuan. Inilah yang kemudian menjadi modal Tarli berjualan, dan menjadi tukang semir di luar aktivitas kuliahnya sebagai mahasiswa. Begitulah, keseharian dia saat itu, hingga berjalan hingga sekitar dua tahun.
Selanjutnya, entah apa yang terjadi dan dilakukan oleh dia. Karena, saya telah lulus terlebih dahulu. Seminggu yang lalu, saya dapat kabar dari salah seorang temanku, yang bercerita bahwa dia pernah berjumpa dengan Tarli sambil membawa mobil box Daihatsu Zabra yang lengkap dengan beragam makanan kue kering, yang di ambil di Pasar Ciroyom, Bandung untuk dipasarkan lagi di kota asalnya. Kata temanku, Tarli kini sudah menjadi distributor kue kering dan makanan ringan di daerah sekitar Subang. Tentu saja, dia pun kini telah menyandang predikat sebagai seorang guru PNS di salah satu sekolah di kotanya.
Selamat ya kawanku...! Semoga menginspirasi bagi mereka, para mahasiswa di Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ini.
 Salam Persahabatan,

Srie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar