Kamis, 05 Mei 2011

Usul Pendidikan Karakter : Kembangkan Dialog, Terapkan Ujian Lisan dan Essay, Hentikan Pilihan Ganda.


Oleh Sri Endang Susetiawati
Mulai Tahun Ajaran (Pembelajaran) 2011/2012, Kemendiknas akan memberlakukan Pendidikan Karakter dalam proses pembelajaran di sekolah. Sebuah langkah kebijakan yang sebenarnya bukan barang baru, karena memang sejak dulu hakikat dari pendidikan adalah pembentukan karakter peserta didik. Lantas, mengapa pendidikan karakter kemudian seolah menjadi sesuatu yang dianggap penting dan mendesak untuk segera diterapkan dalam proses pembelajaran sekolah ?
Sekurangnya, ada dua hal yang menggarisbawahi pernyataan Mendiknas Moh. Noeh terkait dengan pentingnya pendidikan karakter. Pertama, pendidikan karakter dianggap akan mampu mewujudkan keunggulan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia, dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa kesuksesan seseorang 80 % ditentukan oleh aspek yang terkait dengan karakter atau kepribadian seseorang. Sisanya, 20 % terkait dengan pengetahuan atau wawasan, serta ketrampilan yang bersifat hardskill. Kedua, tentu saja terkait peristiwa terkini mengenai adanya fenomena radikalisasi di kalangan generasi muda, terutama yang menyangkut atas pemahaman keagamaan dan sikap toleransi dalam bermasyarakat.
Pertanyaannya, bagaimana pendidikan karakter dapat diterapkan secara efektif kepada para siswa ? Pernyataan, bahwa pendidikan karakter tidak berupa mata pelajaran tersendiri, tapi disisipkan pada mata pelajaran yang sudah ada, seperti pendidikan agama, PPKN, dan lain-lain, tentu saja, menurut saya dianggap belum cukup jelas, terutama bagi guru. Hal ini penting untuk memperoleh kejelasan terlebih dahulu agar tidak kemudian pendidikan karakter jatuh pada ranah kognitif kembali, atau pada ukuran normatif, seperti nilai-nilai moral yang semu dan abstrak. Bukankah, Pendidikan Agama ada Pendidikan Kewarganegaraan, misalnya, sebenarnya telah banyak mengandung nilai-nilai karakter yang unggul. Misalnya, soal perilaku yang baik, jujur, benar, toleran, demokratis, saling menghargai, dan seterusnya.
Pendidikan Sekolah, Gagal pada Aspek Karakter ?
Pertanyaannya, kalau memang fenomena radikalisasi di kalangan generasi muda dianggap kian marak, apakah ini berarti pendidikan sekolah selama ini kurang mampu menyentuh aspek karakter seorang siswa ? Menurut saya, pertanyaan ini yang harus dijawab terlebih dahulu, agar tidak terjebak pada pengulangan “kegagalan” yang sama seperti sebelumnya. Atau, justru pendidikan karakter hanya akan menambah beban kognitif siswa, dan bikin repot guru yang dengan terpaksa harus mengait-ngaitkan materi pelajaran dengan apa yang dimaksud dengan misi pendidikan karakter yang baru digagas kembali oleh Kemendiknas.
Kalau memang secara jujur telah diakui, bahwa pendidikan karakter di sekolah selama ini dianggap “gagal” atau kurang berhasil, pertanyaan berikutnya yang relevan adalah bagaimana caranya agar pendidikan karakter dapat diterapkan secara efektif di sekolah ? Nila-nilai karakter apa sajakah yang harus menjadi skala prioritas diajarkan oleh sekolah kepada para muridnya ? Ini, adalah pertanyaan-pertanyaan yang relevan untuk segera mendapatkan jawaban.
Menurut saya, pendidikan karakter adalah pendidikan yang menyangkut aspek afektif, yaitu aspek sikap dan kepribadian seseorang. Maka, cara terbaik untuk menerapkan nilai-nilai karakter yang diharapkan adalah membiasakan siswa untuk menyerap nilai-nilai tersebut melalui sebuah proses pembelajaran yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Caranya adalah membangun kondisi belajar yang kondusif agar nilai karakter yang diingin tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara baik dan benar.
Misalnya, kita berharap siswa memiliki karakter yang mandiri, kreatif dan inovatif. Menurut saya, kondisi belajar perlu dibuat seemikian rupa agar kemandirian, kreatifitas dan inovasi itu muncul dari siswa. Begitu pula, misalnya dengan karakter lain yang diharapkan, seperti karakter yang toleran, saling menghargai, dan berjiwa demokratis. Maka, nilai-nilai karakter tersebut harus tersemai dalam suasana belajar yang mendukung toleransi, demokrasi dan saling menghargai adanya perbedaan antar sesama.
Sekedar Usulan : Cara Mengajar dan Model Evaluasi Belajar
Dari sekian banyak hal yang dapat diusulkan, saya usulkan dua hal saja, yang saya anggap cukup penting terkait menciptakan suasana yang kondusif dalam membentuk karakter unggul yang diharapkan. Pertama, penyelenggaran proses pembelajaran, dimana guru bertindak sebagai fasilitator belajar yang utama, perlu dilakukan pembenahan agar dapat mendukung kondisi yang diinginkan oleh misi pendidikan karakter. Ini menyangkut soal bagaimana cara mengajar guru. Guru harus membiasakan diri untuk lebih banyak berdialog dengan siswa, dari pada metode berceramah yang bersifat satu arah. Siswa harus dirangsang untuk aktif dan terbiasa bertanya, atau menanggapi materi pelajaran yang diajarkan di kelas. Keaktifan siswa dan kemampuannya dalam hal bertanya dan menanggapi harus masuk dalam komponen penilaian keberhasilan belajar siswa.
Kedua, tentu saja sistem evaluasi belajar pun perlu ada penyesuaian. Jenis evaluasi belajar yang selama ini sering berbentuk pilihan ganda secara tertulis, menurut saya sudah saatnya untuk diubah. Mengapa ? Karena jenis evaluasi seperti ini, menurut saya, kurang mampu menggambarkan hasil belajar siswa yang sesunggunya. Kurang merangsang siswa kreatif dan mandiri untuk menjawab berdasarkan pemahaman dan sistem kerangka berfikirnya sendiri. Dan, akhirnya kurang membiasakan siswa untuk memahami keragaman pendapat, karena memang selalu dibiasakan dengan jawaban yang bersifat tunggal, yaitu A, B, C, D atau E.
Kita perlu sistem evaluasi yang lebih merangsang siswa menjadi diri sendiri, bukan dengan cara penyeragaman, sehingga membunuh daya kreatifivitas dan inovasi. Kita pun perlu merangsang siswa untuk terbiasa dalam menjawab secara berbeda, baik dalam perspektif atau caranya menguraikan jawaban, meski esensinya jawabannya adalah sama. Lalu, adakah model evaluasi yang dianggap cocok untuk keperluan hal tersebut ? Menurut saya, evaluasi secara lisan yang bersifat individual layak untuk dikembangkan di sekolah, agar lebih mampu menggali keberanian siswa dalam menjawab secara mandiri, kreatif dan inovatif.
Selanjutnya, model evaluasi jenis Essay (bukan pilihan ganda) adalah sangat layak pula untuk dikembangkan kembali, termasuk untuk evaluasi akhir, dalam menentukan kelulusan siswa. Menurut saya, Essay jauh lebih mampu dijadikan sebagai instrumen dalam merangsang dan mengembangkan kepribadian siswa yang mandiri, kreatif, inovatif, toleransi, demokratis dan saling menghargai.
Usul Konkret !
Jadi, apa usul konkritnya ? Usul konkretnya antara lain adalah (1) biasakan guru mengajar dengan mengembangkan dialog secara terbuka dengan siswa, (2) jadikan keaktifan siswa (termasuk bobotnya) dalam bertanya dan menanggapi materi pelajaran di kelas sebagai bagian dari penilaian belajar, (3) kembangkan model evaluasi secara lisan dan evaluasi tertulis berbentuk essay, serta kalau bisa, (4) hentikan terlebih dahulu untuk sementara jenis evaluasi berbentuk pilihan ganda (termasuk juga UN), karena terbukti telah merusak karakter siswa.   
Tentu, masih banyak pandangan dan usulan lain yang dapat membantu dalam  menciptakan sebuah pembelajaran pendidikan karakter yang efektif di sekolah. Bagaimana dengan pendapat Anda ?
Demikian, terima kasih.
Salam Persahabatan

Srie



Tidak ada komentar:

Posting Komentar