Minggu, 05 Juni 2011

Antara Kompas dan Kompasiana, Apa Bedanya ?

Oleh Sri Endang Susetiawati
Pertengahan awal Januari 2011 yang lalu, saya berkesempatan bertemu dengan mas Wahyu Haryo PS di salah satu ruangan kapal perang KRI Surabaya, di kawasan Komando Armada Timur (Koarmatim) Surabaya. Beliau adalah wartawan harian umum Kompas yang biasa meliput berita politik di sekitar istana negara, Jakarta. Bersama 6 orang lainnya yang khusus diundang sebagai juara lomba karya tulis oleh TNI AL tahun 2011, kami berkesempatan untuk menginap semalam di kapal perang dengan kamar tidur yang cukup mewah itu.

Sebagai penikmat setia koran Kompas sejak puluhan tahun yang lalu, tentu saja saya tidak menyia-nyiakan untuk berkenalan, sekaligus ingin belajar kepada wartawan senior yang terkesan cukup pendiam itu. Saya tanya, bagaimana sih redaktur Kompas memilih tulisan yang dikirim oleh banyak penulis dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan tidak jarang ada yang dari luar negeri. Saya merasa penasaran saja, kira-kira apa kriteria paling pokok agar tulisan saya dapat dimuat di harian terbesar di Indonesia itu.
Setahu saya, cuma koran nasional inilah yang dirasakan paling sulit ditembus sejak dulu agar tulisan saya dapat dimuat di kolom opini. Meski saat itu tulisan saya sering tidak dimuat, namun saya tidak lantas merasa kecewa. Mengapa ? Ya, maklum saja, kata orang Kompas itu memiliki bobot dan karakternya sendiri, termasuk kelebihannya dalam memberikan balasan dengan cepat atas tulisan yang ditolak.
“Bagaimana sih caranya Mas Haryo, agar tulisan saya dapat tembus di kolom opini Kompas ? tanyaku.
“Sebenarnya, mudah saja. Yang penting asal memenuhi syarat redaksi” jawabnya singkat.
“Jelas dong, harus memenuhi syarat redaksi. Tapi, bagaimana sih sehingga sebuah tulisan itu dapat terpilih ?”
“Pertama-tama, tulisan wajib lolos sensor dengan memenuhi syarat jumlah halaman atau jumlah kata maksimal, 3 halaman kuarto, atau 900 jumlah kata. Sisanya, antara lain harus terpenuhi dari isi tulisan yang aktual, punya nilai manfaat yang penting bagi publik, dan gaya penulisan yang ringan dan enak dibaca oleh masyarakat umum, karena Kompas adalah harian umum”
“Ah, itu sih masih sama dengan koran-koran lainnya, mas Wahyu”
“Memang begitu. Cuma saja, tiap hari Kompas kan menerima ratusan tulisan sejenis yang masuk, sehingga harus diseleksi saat hari itu juga, mana yang paling memenuhi syarat untuk dimuat”
“Oh, iya ?”
“Iya. Makanya. Tulisan yang ditolak itu belum tentu merupakan tulisan yang jelek. Namun, terpaksa harus kalah karena ada tulisan lain yang lebih menarik dan berbobot menurut penilaian redaksi”
“Satu lagi, redaksi Kompas tidak pernah menyimpan tulisan yang tidak terpilih saat hari itu juga. Tulisan itu langsung dikembalikan ke penulisnya, dengan harapan dapat dikirimkan kembali ke media yang lain”
“Wah, hebat juga, ya Kompas….”
“Kira-kira begitu. Namun, karena Kompas menganut prinsip tidak pernah menyimpan tulisan yang ditolak, maka ada kemungkinan tulisan yang ditolak itu sebenarnya nilainya lebih berbobot dan lebih menarik bila dibandingkan dngan tulisan yang dimuat kemudian”
“Bisa, begitu ya …?”
“Benar. Karena Kompas hanya membandingkan dan memilih dari sekian ratusan tulisan yang masuk pada saat hari itu juga yang dianggap paling layak muat pada keesokan harinya”
“Oh, jadi begitu….. Pantesan, sulit sekali tembus di Kompas. Setiap harinya, harus bersaing dengan ratusan tulian sejenis dari beragam penulis, termasuk mereka yang sudah senior dan punya nama”
Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Mas Wahyu, sekaligus mengucapkan selamat sebagai Juara pertama lomba penulisan mengenai TNI-AL untuk kategori wartawan. Lalu, saat itu pikirku : “Sambil belajar, mengapa tidak menulis saja di Kompasiana ? Hitung-hitung latihan, di media yang satu grup dalam Kelompok Kompas Gramedia (KKG)”.
Maka, mulailah saya menulis di Kompasiana sejak pertengahan Februari tahun ini. Dan, setelah sekitar dua bulan lebih menulis, sampai pada sebuah kesimpulan :”Wah, ternyata agak berbeda ya menulis untuk di Kompas dan di Kompasiana….”
Tulisan di Kompas harus melalui seleksi super ketat, sedangkan di Kompasiana, tulisan apapun bisa masuk dan dimuat. Banyak lagi, perbedaan antar kedua media yang satu grup itu. Termasuk beda, tulisan Kompas dibayar paling tinggi, tulisan di Kompasiana 100 % gratis. Namun, ini yang paling membedakan :
“Di Kompasiana, menurut saya, keterpilihan sebuah tulisan oleh redaksi (admin) berdasarkan kriteria paling utama bahwa tulisan itu memiliki potensi keterbacaan yang tinggi”.
Demikian, terima kasih.
Salam Persahabatan
Srie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar