Rabu, 08 Juni 2011

Buku Pak Harto : Nostalgia Rakyat, Adakah Berkah Bagi Parpol ?


Oleh Srie

Ketika, pada saat ini rakyat merasakan beban hidup kian berat, maka menengok masa lalu merupakan hal yang lumrah. Keadaan di masa Orde Baru, ternyata dianggap sebagai sesuatu yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi yang terjadi di era reformasi. Nostalgia, kemudian menjadi sesuatu yang dianggap seksi dan layak jual.

Lantas, adakah suasana nostalgia politik itu berkaitan dengan peluncuran buku “Pak Harto The Untold Stories”  yang diluncurkan hari Rabu ini di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ?  Sejumlah keluarga Cendana yang hadir antara lain puteri sulung Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut), Bambang Trihatmodjo dan mantan istrinya Halimah. Selain itu, juga dihadiri sejumlah tokoh yang dibesarkan Soeharto, seperti  Harmoko, Wiranto, Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, OC Kaligis, Sutiyoso, Camelia Malik, dan Eko Patrio.
Tentu saja ada kaitan, setidaknya ada pihak-pihak tertentu yang berharap memperoleh “berkah politik” dari adanya kerinduan rakyat pada tokoh Pak Harto. Hasil survei Indo Barometer yang diumumkan pertengahan bulan Mei lalu, menyebutkan bahwa Soeharto adalah presiden RI yang paling disukai publik (36,5%), disusul Susilo Bambang Yudhoyono (20,9%), dan Soekarno (9,8%). Soeharto juga dianggap 1200 responden di 33 provinsi paling berhasil (40,5%), disusul Yudhoyono (21,9%), dan Soekarno (8,9%)
Terlepas dari berbagai catatan mengenai hasil survey tersebut, namun yang pasti publik menilai kinerja pemerintahan SBY saat ini dinilai dalam zona lampu kuning. Hasil Survey Indo Barometer mencatat bahwa tingkat kepuasan terhadap kinerja SBY selama Agustus 2010 – April 2011 adalah 48,9 %, sedangkan terhadap Boediono sebesar 36,1 %. Isu ekonomi dan penegakkan hukum merupakan sentimen paling negatif atas kinerja SBY-Boediono. Tentu saja, tingkat kepuasan atas kinerja SBY-Boediono dan popularitasnya dalam waktu akhir-akhir ini akan kian menurun, mengingat banyak kasus hukum yang terungkap, antara lain kasus M. Nazarudin, mantan Bendahara Partai Demokrat, yang kini masih berada di Singapura.
Adalah wajar, jika banyak pihak yang merasa akan menuai berkah politik dari keadaan yang menunjukkan pada menurunnya kinerja dan popularitas pemerintahan SBY-Boediono. Sudah pasti adalah PDIP sebagai partai oposisi yang memiliki hubungan grafik yang terbalik dengan Partai Demokrat (PD). Berikutnya adalah Partai Golkar (PG) yang dianggap sebagai partai pewaris Orde Baru, dimana Pak Harto pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pembinanya.  Maka, tidaklah heran jika TV One, stasiun TV milik Grup Bakrie cukup intensif mem-blow-up tentang kasus-kasus yang membelit Nazarudin, serta sore tadi mengangkat wawancara khusus terkait dengan Buku Pak Harto di atas.
Dari keluarga besar Cendana pun, tentu memanfaatkan momen tersebut bagi kepentingan politiknya. Terutama, adalah terkait dengan tampilnya Tommy Soeharto dalam pendirian partai baru Nasional Republik (Nasrep) yang mengklaim diri sebagai para loyalis dan simpatisan Pak Harto.   Prabowo, melalui Gerindra pun sedikit banyak berharap pula berkah politik dari kharisma Pak Harto dengan selalu meneriakkan keberpihakan pada kaum petani. Salah satu kelompok masyarakat yang dulu dianggap sangat diperhatikan oleh Pak Harto.
Pertanyaannya, apakah berkah politik dari Pak Harto itu akan efektif dalam meraih simpati rakyat yang kini sedang demam nostalgia pada masa lalu ? Jawabannya belum tentu. Pertama, sebagaimana yang dinyatakan oleh pengamat politik Arbi Sanit, sudah ada beberapa parpol yang pernah memanfaatkan kharisma Pak Harto dalam Pemilu lalu, namun hasilnya ternyata gagal. Antara lain, adalah PKPB, Republikan, juga Gerindra yang masih kurang signifikan dalam memperoleh suara.
Kedua, terkait dengan persepsi masyarakat yang kini kian negatif terhadap keberadaan parpol. Lembaga Survey Indonesia (LSI) dalam rilisnya pada akhir bulan Mei lalu, mnyebutkan bahwa hampir sekitar 75 % rakyat telah emoh terhadap partai politik. Penyebab utama rakyat emoh atas parpol adalah dikarenakan faktor banyaknya perilaku negatif dari para kader parpol yang berada di lembaga eksekutif dan legislatif. Juga, karena dianggap tidak ada parpol yang layak untuk dipilih.
Oleh karena itu, jika Pemilu dilakukan pada akhir Mei lalu, maka hanya akan diikuti oleh 45,1 % saja pemilih yang terdaftar. Sementara itu, jumlah yang lebih besar, yaitu 54,9 %  tidak akan menggunakan hak pilihnya pada Pemilu, alias Golput. Pemilu akan dimenangkan oleh Golput. Keadaan ini, tentu saja merupakan angka partisipasi yang amat rendah, jika dibandingkan dengan tiga Pemilu sebelumnya di era reformasi. Dalam kurun waktu sekitar 10 tahun lebih, telah terjadi tingkat penurunan angka partisipasi Pemilu yang tajam, hingga 20 % lebih.
Jadi, demam nostalgia yang melanda rakyat kini belum dapat diartikan sebagai berkah politik bagi partai politik. Mengapa ? Karena, amat mungkin rakyat sudah terlanjur muak dengan keberadaan parpol dan tingkah laku para kadernya yang sering menjengkelkan, bahkan telah sering menimbulkan antipati.  
Bagaimana dengan pendapat Anda ? *** [Srie]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar