Jumat, 15 Juni 2012

Cerpen : Suamiku, Selingkuhanku


Oleh Srie
Entah, apa yang terjadi pada diri ini. Ada gairah baru. Senyum sesekali mengembang di bibirku yang mungil. Mataku menjadi lincah laksana ingin menyapa seluruh isi rumah yang tampak mengamatiku dengan penuh kagum. Yah, aku telah menemukan kembali masa-masa remajaku dulu.

Hm... Tanpa sadar, aku mulai sering bertatapan mata dengan bayanganku sendiri di hadapan cermin mini yang cantik.
“Benarkah, aku masih cantik ...?” bisikku dalam hati.
Wajahku yang putih sering pula aku usap penuh lembut dengan kedua telapak tanganku. Halus..... memang masih halus tanpa ada kerutan sedikitpun di kedua pipiku. Rambutku yang panjang hitam sebahu, aku jamah juga dengan sepenuh hati. Kuulangi lagi aku usap wajahku dan rambutku. Seolah tiada bosan untuk selalu mengulangi. Yah, sekedar untuk dapat membunuh  keraguanku selama ini.
“Usia paruh kedua kepala tiga, cukuplah masih muda” kataku berusaha meyakinkan diri.
Sesekali, aku baca SMS masuk di telepon genggamku. Sengaja, aku simpan di atas meja rias agar mudah diambil saat hape bergetar. Tentu, semua itu aku lakukan usai  mengantarkan suamiku di depan pintu saat hendak berangkat kerja. Dua anakku, satu laki dan satu perempuan sudah berangkat sekolah di SMP dan di SD tak jauh dari tempat tinggalku.
“Dah Mah.... Assalamu ‘alaikum...” ucap suamiku sesaat usai aku mencium tangan kanannya.
“Wa ‘alaikum salam... ttdj.. Pah” balasku hampir rutin kulakukan setiap hari kerja.
Yah, aku hanya seorang ibu rumah tangga. Gelar sarjanaku telah lama aku simpan,  sejak 12 tahun lalu saat aku menikah. Hm.. sebuah keadaan yang seringkali membuatku bosan. Rasa tawar pun telah setahun ini aku rasakan.
Hanya hape dan laptop di dalam kamarku yang masih mau membantuku untuk sedikit mengusir  kepenatanku. Benar. Dari kedua benda itulah, aku mulai kembali tersenyum. Hari-hariku mulai berubah semenjak empat bulan lalu. Warna dinding putih rumahku seolah kian bertambah cerah. Meski, sudah dua tahun lebih belum juga dicat kembali.  
Aku sering membayangkan dapat bertemu dengan seseorang itu. Hm... sebuah nama yang tanpa sengaja telah tersimpan di hatiku. Kata-katanya, begitu membuatku terpesona. Penuh perhatian, hingga seolah aku selalu dimanjakan.
“Say... sedang apakah dirimu saat ini ? Adakah yang bisa saya bantu untuk seseorang yang selalu aku kagumi ?  Jangan lupa makan siang ya.... Aku selalu merindukanmu....”
Mungkinkah, nama itu yang telah membuat hatiku berubah ? Aku tidak mau mengakui hal itu. Aku tahu, adalah tidak pantas nama seorang laki-laki kembali hadir di hati seorang perempuan yang telah bersuami. Dua anakku yang menginjak remaja selalu hadir dalam benakku, seolah turut membantuku untuk tidak membenarkan keraguanku. Aku sangat sadar itu.
“Ya, Tuhan. Mengapa Engkau ciptakan hati ini bersemi kembali, jika engkau nyatakan  sebagai sesuatu yang terlarang ?” protesku hampir di setiap malam.
Bayanganku pada cermin masih setia menatapku yang sedang terduduk dalam gelisah. Tampaknya, ia telah menangkap basah kegelisahanku pada dua hari terakhir ini.  Sejujurnya, hatiku tidak dapat berbohong lagi. Aku memang sedang menunggu bergetarnya hape pertanda balasan SMS ku sejak dua hari lalu.
“Ah, ke manakah dia yang selalu rajin mengunjungiku ?”
 Aku telah terbiasa sering berbalas puluhan SMS tiap hari. Berlama-lama chatting melalui Facebook saat suamiku meninggalkan rumah. Aku sangat menikmatinya dari perkenalan itu. Aku merasa telah begitu akrab dengannya. Berkirim informasi pribadi, foto dan beberapa kali saling telepon. Aku sangat menikmatinya.
Ah, tapi entah mengapa dua hari ini menjadi berbeda. Seingatku, sudah lebih dari puluhan SMS aku kirim. Pesan melalui Facebook pun aku kirim pula. Tak pernah ada jawaban. Aku telepon handphone-nya. Tak pernah diangkat.
“Sialan ! Kenapa engkau biarkan aku jadi begini ?”
Aku bingung. Aku marah. Aku gelisah. Jujur, aku mulai kehilangan dirinya. Tanpa sadar, hampir saja hape itu aku singkirkan dengan paksa. Beruntung, hape-ku menyalak sebelum diangkat. Ada SMS masuk. Aku langsung baca dengan penuh kesal.
“Apa kabar say... ? Boleh aku telepon ?” bunyi SMS dari seseorang yang ditunggu.
Meski aku masih kesal dan marah, aku langsung saja balas SMS-nya.
“Silakan, sekarang juga !”
Hanya selang kurang dari dua menit, hape ku menyalak kembali.
“Halo.... apa kabar sayang ?”
“Baik... kemana saja, sih !” balasku agak tinggi.
Tampaknya, aku hampir lepas kontrol saat berbicara di telepon itu. Keinginanku untuk segera mengadili atas absennya selama dua hari telah membuatku hampir gelap mata. Hingga, ia menawarkan kepadaku sesuatu.
“Kita ketemuan saja deh... bagaimana, sayang ?”   
“Terserah !”
“Hey, kok terserah ... bagaimana kalau siang ini, jam 12 ketemu di Cafe Riau ?”
“Terserah ...!”
“Bagaimana, bisa datang enggak, ayolah sayang...!”
“Oke, kita ketemuan di sana...”
“Yes... dah... emmuach.. sampai ketemu ya sayang....”
Aku putuskan mau menerima ajakannya. Mungkin, untuk sebuah harga yang harus dibayar atas nama kerinduan. Kebetulan, suamiku ada tugas ke luar kota hingga besok. Akalku seolah membenarkan, lalu menuntunku untuk mau menemuinya.
Tepat jam 12 siang lewat 5 menit aku telah berada di Cafe itu di sudut sepi yang telah dijanjikan. Aku kirim SMS padanya untuk memberi kabar bahwa aku telah sampai di tempat dan sedang menunggu. Aku nikmati minuman jus jambu sembari menunggu jawaban.  
“Payah, sudah SMS gak dijawab, kok hape-nya gak diangkat-angkat !” ucapku pelan berbalut gelisah.
Aku lihat jam tanganku. Pukul 12.30 baru saja lewat. Berkali-kali aku berganti posisi dalam dudukku. Gelisah. Kesal. Kecewa. Kuambil nafas dalam-dalam. Tanpa sadar, kaki kananku sedikit menginjak-injak lantai, masih dalam keadaan duduk.
“Wah, sialan !” ucapku mulai agak marah.
Baru saja aku akan memanggil pelayan cafe untuk mendatangiku. Mataku tertuju pada seseorang yang sedang memasuki cafe. Rasanya, ia pernah aku kenal. Aku pandangi terus seorang pria yang ternyata kian menghampiriku. Ya, Tuhan.....
“Lho kok, ada apa di sini ?” ucapnya setelah dekat berada di hadapanku.
Aku gelagapan. Benar-benar aku gemetaran. Hampir saja aku tak mampu untuk menjawab walau untuk beberapa kata saja yang terucap. Namun, aku masih berusaha untuk segera mengendalikan diri.
“Mm... lagi nunggu teman nih, Pah” jawabku sekenanya.
“Teman, memang siapa ?” tanya dia lagi sambil ikut duduk di kursi tepat di hadapanku.
“Niken, itu teman sekolahku dulu. Katanya, ada yang mau diobrolkan”
“Oh, iya. Memang jam berapa janjiannya ?”
“Sebentar lagi kok, barusan dia telepon. Katanya sedang macet di sekitar Pasteur”
Aku bersyukur. Tampaknya, ia percaya atas ucapanku. Ia bangkit dari tempat duduknya, lalu memesan dua paket makanan, ditambah jus alpukat kesukaannya. Entah, sepertinya aku mengiyakan saja.
“Sengaja, aku mengajak seseorang yang paling aku sayangi untuk makan siang di sini” ucapnya tiba-tiba seraya memegang kedua tanganku.
Aku sangat heran mendengar kata-katanya. Aku sama sekali tidak paham atas kalimat yang diucapkannya itu. Aku masih berusaha untuk memahaminya, dengan sesekali untuk membalas tatapannya yang penuh senyum. Namun, tetap saja aku gagal.
“Maksudnya ?”
“Sayang, ... seseorang yang engkau tunggu itu adalah aku...”
“Hikkz...” *** [Srie]


5 komentar:

  1. Assalamu'alaikum, blogwalking, baca2 n salam kenal ^_^
    Aku follow blog kamu, follow balik ya ke AndyOnline.Net
    jangan lupa buat kamu yang suka corat-coret di Blog, yuk gabung di BLOOFERS (Blog Of Friendship)

    BalasHapus
  2. ​♏♏♏ªªªªñÑñ†††ªªªªªPPPP .... Kocak sekali.... Gimana gitu.... ​​"̮♡hϱ♡hϱ♡hϱ♡"̮

    BalasHapus
  3. Pinter....
    bikin penasaran.....
    ternyata menumbuhkan rasa cinta yang dalam
    Suamiku tersayang......

    BalasHapus
  4. hahaha..............., bagus juga tu. telah lama aku absen dari blog Srie. pas kini kubuka lagi, Subhanallah.... benar-benar mengasikan. cerpenya enjoy banget ! Aku jadi senyum sendiri. Makasih Mba. dari blog Srie, aku jadi bertambah pengetahuanku.dan... cerpen/cerber juga benar-benar jadi hiburanku. Makaci..

    BalasHapus
  5. Suami diselingkuhi? kirain tidak boleh, ternyata boleh, kalau yang menyelingkuhi adalah istri sendiri. hahaha...judulnya membuat penasaran.

    BalasHapus