Selasa, 07 Juni 2011

Hormat Bendera : Syirik atau Tidak ?



Oleh Srie
Hormat pada bendera merah putih adalah syirik ? Wah, kok bisa sejauh itu. Mengapa hal yang demikian begitu mudah untuk divonis syirik berdasarkan kaidah agama ? Tampaknya, ada lagi masalah umat ini yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Sebuah berita menyebutkan bahwa Bupati Karanganyar, Rina Iriani berencana akan menutup dua buah sekolah yang dianggap tidak mau malakukan sikap hormat kepada bendera. Sekolah itu adalah SMP Al Irsyad Al Islamiyah di Tawangmangu dan SD Ist Al Albani, di Matesi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
“Saya katakan NKRI adalah harga mati. Kalau sudah tidak menghormati bendera, tidak mau membaca Pancasila dan UUD 45, dan tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya, ini apa? Mau dibawa kemana anak-anak kita?” kata Rina kepada wartawan Okezone.com, Senin (7/6/2011).
Adalah sangat bijak, ketika Bupati menghendaki dialog terlebih dahulu dengan pengelola sekolah yang bersangkutan sebelum dilakukan penutupan. Upaya untuk memberikan pemahaman terkait simbol-simbol bangsa dan negara, seperti bendera merah putih atau lagu kebangsaan Indonesia Raya memang perlu terus dilakukan, apalagi terhadap lembaga pendidikan sekolah.
Sekurangnya ada dua hal yang perlu diberikan pemahaman kepada mereka. Pertama, terkait dengan konsep kebangsaan atau negara kebangsaan yang sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Kedua, tentu tentang pengertian syirik itu sendiri, yang berarti perbuatan menyekutukan Tuhan, sehingga dapat dipahami bahwa menghormat bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya bukanlah bagian dari pengertian syirik sebagaimana yang dimaksugkan dalam ajaran Islam.
Negara Bangsa
Sebagai sebuah negara kebangsaan, Indonesia merupakan sebuah keniscayaan sejarah, dimana ajaran Islam pun mengakuinya bahwa umat manusia hidup dalam berpasangan, berkelompok dan bersuku bangsa. Tujuannya, agar mereka saling mengenal dan saling bekerjasama. Indonesia, adalah salah satu bentuk identitas pengenal diri, dan sekaligus sebagai kelompok kerjasama dalam bentuk organisasi negara. 
Sementara itu, negara sendiri merupakan salah satu bentuk konkret dari kreatifitas akal budi manusia yang amat diberikan ruang kebebasan oleh Tuhan. Bentuk negara, bukanlah wilayah hukum yang pasti dari Tuhan, namun wilayah kebebasan manusia. Negara boleh berbentuk apapun, termasuk bentuk NKRI, namun yang terpenting adalah negara dilandasi oleh nilai-nilai ajaran agama dan bertujuan searah dengan tujuan ajaran agama pula.
Dalam hal ini, Indonesia dapat disebut sebagai bentuk dari nilai-nilai Islam secara kontekstual. Yaitu, nilai-nilai Islam dalam konteks kekinian, yakni sejak tahun 1945 hingga sekarang dan yang akan datang, serta konteks kedisinian di sebuah wilayah yang membentang antara Sabang sampai Merauke, dan dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote. Tentu saja, nilai-nilai Islam yang dijadikan dasar pijakan adalah nilai-nilai yang bersifat universal, seperti ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, keberadaban, persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial, yang terangkum dalam Pancasila, dimana umat lain selain Islam pun mengakuinya sebagai bagian dari nilai-nilai universal miliknya.
Dalam konteks ini, maka bendera merah putih, atau lagu kebangsaan Indonesia Raya hanya merupakan bagian dari simbol-simbol negara. Penghormatan atas simbol-simbol negara, tentu masih amat wajar sepanjang penghormatan itu merupakan salah satu bentuk penghargaan atas makna dari simbol. Bahwa merah putih dan lagu Indonesia Raya adalah simbol dari persatuan Indonesia, simbol dari perjuangan para pahlawan Indonesia, simbol dari perjanjian luhur seluruh bangsa Indonesia, simbol dari cita-cita bersama dalam wadah negara Indonesia, dan seterusnya. Sikap hormat pada simbol-simbol negara, berarti pula penghargaan atas makna dibalik simbol, sekaligus berusaha untuk selalu mengingatnya.
Konteks Pengertian Syirik
Sementara itu, pengertian syirik dialamatkan pada bentuk perbuatan yang mempersamakan Allah dengan sesuatu yang dianggap sebagai tuhan. Syirik, berarti juga mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain. Itulah, mengapa pada awal kelahirannya, misi Islam adalah menghancurkan patung-patung berhala yang dipasang oleh berbagai kabilah Arab di sekitar Ka’bah. Mengapa berhala-berhala itu perlu dihancurkan ? Karena, patung berhala diyakini sebagai benda yang harus disembah dan mendatangkan manfaat atau mudharat atas umat manusia.
Dalam pemahaman yang lebih luas dan substansial, keberadaan patung berhala telah menjadi sumber nilai yang dianggap sebagai kebenaran bagi bangsa Arab, sehingga mereka merasa lebih terikat atas nilai-nilai tersebut. Adalah menarik, bahwa Islam tidak berhenti melakukan penolakan atas keberadaan patung berhala itu. Namun, juga terus menolak sistem sosial, ekonomi dan politik yang bersumber dari nilai-nilai berhala tersebut.  Saat itu, sistem sosial yang timpang telah menguntungkan sekelompok orang yang sering berbuat sewenang-wenang, antara lain Umayah, Abu Sofyan Abu Jahal, dan lain-lain. Di lain pihak, sangatlah merugikan bahkan menindas orang lain yang miskin, kaum perempuan, para budak belian dan anak-anak yatim yang tidak berdaya
Nilai-nilai yang menganggap mulia atas orang kaya di atas orang miskin, atau orang merdeka di atas para budak belian, atau kaum pria di atas kaum perempuan, pun ditolak oleh Islam. Mengapa ? Karena, hal itu tidak sejalan dengan prinsip ketauhidan, dimana kemuliaan manusia hanyalah diukur berdasarkan nilai-nilai milik Allah, satu-satunya Tuhan semata. Katakanlah, nilai-nilai itu adalah taqwa. Itulah pula, mengapa Islam mengkritik keras, bahwa mereka yang menelantarkan orang miskin dan menghardik anak yatim sama artinya dengan orang yang tidak beragama, atau tidak bertuhan.
Dalam Islam, istilah syirik juga dikaitkan dengan keterikatan seeorang yang amat sangat atas hawa nafsunya sendiri, sehingga selalu menuruti segala keinginan hawa nafsunya. Dalam hal ini, hawa nafsu telah berfungsi sebagai tuhan, yang berarti seseorang telah menyekutukan Allah, bersama hawa nafsunya. Bukankah, ketaatan seseorang seharusnya hanya pada Tuhan, pada nilai-nilai kebenaran Tuhan ?
Dalam konteks yang lain, istilah syirik pun dikaitkan dengan Fir’aun yang menganggap dirinya sebagai tuhan, karena mengangap diri sebagai sosok yang harus ditaati secara mutlak oleh rakyatnya, dan segala tindak tanduknya dianggap sebagai sebuah kebenaran. Ini, adalah pengertian syirik secara politik, dimana kekuasaan telah mengambil alih fungsi Tuhan, atau menyekutukan fungsi Tuhan yang harus ditaati, tanpa kebenaran dari Tuhan itu sendiri. Dalam pengertian ini, maka perilaku tiran para penguasa dapatlah dikatakan telah berbuat syirik, anti nilai-nilai tauhid.
Ada lagi, pengertian syirik yang dikaitkan dengan ketaatan yang berlebihan atas kelompoknya sendiri, khususnya kelompok organisasi (pemahaman) keagamaan. Pengertian syirik muncul ketika masing-masing kelompok tersebut sangat berlebihan atas klaim kebenaran, dan kebanggaan atas kelompoknya. Sehingga, mereka begitu mudah berpecah belah, menyalahkan kelompok lain, hingga terjadi permusuhan. Nilai-nilai kelompok telah dianggap sebagai sumber ketaatan yang berlebihan, hingga dapat disejajarkan sebagai fungsi Tuhan, dan ini adalah salah satu bentuk syirik juga.
Syirik, juga dapat dipahami terkait dengan sikap riya’ atau pamer, dalam pengertian seseorang berbuat sesuatu kebaikan bukan karena mengharap keridloan Tuhan. Namun, ia melakukan kebaikan dengan berharap atas pujian dari sesama. Dalam hal ini, Tuhan telah disejajarkan fungsinya oleh seorang manusia, dalam hal mengharap pujian. Itulah, mengapa dalam Islam, dikenal dengan istilah riya’ sebagai syirik kecil.
Ada baiknya, mengingat kembali bagaimana ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Tentu, yang dimaksud sujud adalah bentuk penghormatan malaikat kepada Adam, setelah Adam berhasil “mengalahkan” malaikat saat menjelaskan sejumlah nama-nama benda sebagai prasyarat untuk menjadi khalifah di muka bumi.   Justru, Iblis lah yang tidak mau sujud (memberi hormat) kepada Adam, karena sikap sombongnya. Dalam hal ini, sikap malaikat hormat kepada Adam, tentu bukanlah sebuah sikap syirik, dan sebaliknya sikap Iblis, bukanlah sebagai bentuk sikap yang sejalan dengan perintah Tuhan. Makanya, lalu disebut Iblis, yang berarti sang pembangkang perintah Tuhan.
Hormat Bendera, Bukan Syirik !
Kembali, ke soal hormat bendera. Pertanyaannya, apakah sikap hormat pada bendera telah menyebabkan adanya penyimpangan perilaku yang berdasarkan atas nilai-nilai ajaran agama, sehingga harus disebut telah mensejajarkan dengan Tuhan, atau mempersamakan ketaatan pada Tuhan, atau apalagi melakukan persembahan sebagaimana layaknya kepada Tuhan ? 
Jika tidak ada sama sekali hal-hal yang dikhawatirkan tersebut, sudah tentu, menghormat bendera merupakan hal yang biasa saja, tidak merupakan perbuatan yang melanggar ajaran akidah, apalagi disebut syirik kepada Allah. Kecuali, jika bendera dianggap sebagai benda keramat, yang harus disembah-sembah atau diyakini dapat membawa berkah, sehingga harus dihormati dan diberikan sajian, misalnya agar para siswa lulus UN tanpa harus belajar sama sekali. Sesuatu yang hampir dapat dipastikan tidak akan pernah terjadi, bukan ? *** [Srie]
Bagaimana dengan pendapat Anda ?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar