Selasa, 14 Juni 2011

Lagi, UN Curang Di SDN Surabaya : Ibu Jujur, Malah “Hancur”

TEMPO Interaktif, Surabaya - Siang itu, rumah berdinding cokelat di gang sempit Jalan Gadel Sari Barat, Kecamatan Tandes, Surabaya, Jawa Timur, tampak sepi. Pagarnya terkunci rapat. Satu sak semen teronggok di terasnya.

Di rumah itu, mestinya Siami dan keluarganya tinggal. Namun, sudah lima hari ini keluarga itu mengungsi ke rumah orang tuanya di Dusun Lumpang, Desa Deliksumber, Kecamatan Benjeng, Gresik. “Menenangkan diri dulu Pak,” kata Siami saat dihubungi Tempo melalui telepon seluler, Senin, 13 Juni 2011.
Siami, ibu dari Al, siswa kelas VI SD Negeri Gadel II, hendak menenangkan diri lantaran masalah yang menderanya akhir-akhir ini. Sejumlah warga dan wali murid sekolah itu menganggap dia mencoreng nama baik sekolah itu. Penyebabnya, lantaran ibu dua anak ini mengungkapkan kasus mencontek massal yang terjadi di sekolah tersebut saat ujian akhir sekolah bertaraf nasional (UASBN) beberapa waktu lalu.
Beberapa hari sebelum ujian, Al mendapat instruksi dari gurunya untuk memberikan contekan kepada rekan-rekannya. Sebab, bocah pendiam itu dikenal paling cerdas. “Kalau ada temannya yang tidak bisa mengerjakan soal, tolong dibantu,” kata seorang sumber di sekolah dasar tersebut menirukan ucapan Fatkurahman, wali kelas VI sekolah itu.
Semula Al bungkam soal ini karena takut. Tapi, kemudian Al melaporkan instruksi sang guru itu kepada ibunya. Siami sempat datang ke sekolah untuk meminta penjelasan kepada Fatkur, sapaan Fatkhuramhan. Namun, kata Siami, jawaban Fatkur terkesan berbelit-belit.
Tak puas dengan penjelasan sekolah, Siami kemudian mengadukan masalah itu ke radio Suara Surabaya. Pengaduan Siami disiarkan secara on air.
Laporan udara itu berkembang menjadi pemberitaan di media massa baik cetak maupun elektronik.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pun langsung menyambangi sekolah Al dan memarahi guru-gurunya. Risma juga langsung memerintahkan inspektorat serta membentuk tim independen untuk menyelidiki masalah tersebut.
Tim merekomendasikan agar Fakkurahman, seorang guru lainnya, Prayitno, dan Kepala Sekolah Sukatman diberi sanksi. Tak lama setelah rekomendasi turun, ketiga guru itu diberhentikan.
Sukatman ditarik ke Dinas Pendidikan Kota Surabaya, adapun Fatkur dan Prayitno dimutasi ke Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Tandes. Tak hanya itu, pangkat ketiganya diturunkan serta mencabut beberapa tunjangan yang diterima.
Sanksi terhadap ketiga guru itu diprotes keras warga. Pada 8 Juni 2011, puluhan ibu-ibu, terutama wali murid kelas VI, berunjuk rasa di depan rumah Siami. Mereka berteriak-teriak mengusir Siami karena dinilai meresahkan.
Sehari kemudian, saat digelar pertemuan antara Siami dan perwakilan warga di Balai Rukun Warga, massa kembali berteriak-teriak mengusir Siami ke luar dari kampung. “Sejak pertemuan di Balai RW itu dia (Siami) sudah tidak pulang ke sini,” kata Rum, tetangga Siami.
Fatkurahman sendiri enggan dimintai keterangan. Ketika dicegat seusai pertemuan di Balai RW itu, guru yang dikenal santun dan telaten membimbing siswa itu hanya berkata, “Saya tidak mau berkomentar.”
Ketua Tim Independen Bentukan Wali Kota, Daniel M. Rosyid, mengatakan pengusiran terhadap Siami dinilai berlebihan. Daniel menduga, pengusiran itu dilatarbelakangi kekhawatiran wali murid kelas VI bila diadakan UASBN ulang.
Padahal, kata dia, niat Siami bagus karena ingin menumbuhkan semangat kejujuran di kalangan siswa. “Jadi, terlalu jauh kalau sampai mengusir Bu Siami,” kata Daniel yang juga pengajar di Institut Teknologi 10 November ini.

KUKUH S WIBOWO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar