Senin, 20 Juni 2011

Pancang, Pancing dan Pancung

Oleh Sri Endang Susetiawati
Andai, ada pancang yang cukup banyak di negeri ini, mungkin pancung itu tidak perlu terjadi di negeri orang lain. Andai pancing itu disediakan cukup banyak di negeri ini, bisa jadi pancung itu tidak akan menjadi berita di mana-mana di belahan dunia. Pertanyaannya, mengapa pancang dan pancing itu tidak cukup tersedia di negeri ini, sehingga ancaman pancung pun dengan terpaksa harus dihadapi ?

Adalah fakta yang tak terbantahkan, bahwa kenekadan para kaum perempuan kita mengadu nasib dengan menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di negeri hukum Pancung, Arab Saudi, adalah karena faktor ekonomi. Kebutuhan hidup keluarga yang tidak terpenuhi oleh hasil pekerjaan suami atau ayah di negeri sendiri merupakan penyebab utamanya. Potret kemiskinan di berbagai daerah di negeri ini menjadi alasan yang paling pas untuk meruntut fenomena TKW nekad bekerja di negeri Pancung itu.
Bukankah, sejatinya mereka ingin memilih bekerja di negeri tanah kelahirannya sendiri ? Benar. Namun, pilihan pekerjaan di negeri tanah leluhurnya sendiri tidaklah tersedia. Tiang pancang, yang merupakan simbol dari kegiatan ekonomi berskala besar yang menyediakan lowongan pekerjaan bagi banyak warga, tampaknya kurang cukup tersedia di negeri ini.
Apalagi, bagi mereka yang berasal dari kalangan keluarga miskin yang tidak terdidik. Lulus Sekolah Dasar (SD) dan mampu membaca  atau menulis pun sudah dianggap cukup “mewah” bagi mereka, terutama bagi kalangan perempuannya. Pendidikan, yang merupakan pancing bagi mereka untuk memperoleh “ikan”, ternyata tidak tersedia pula bagi mereka yang miskin di negeri ini.
Pertanyaannya, lantas untuk apa negeri ini merdeka hampir 66 tahun yang lalu ? Bukankah negeri ini merdeka atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa agar rakyatnya menjadi cerdas dan hidup sejahtera ? Selama ini,  apa saja yang dikerjakan oleh para pemimpin negeri ini bagi rakyatnya ? Adalah sangat tidak masuk akal, jika negeri ini dibangun untuk mereka yang kaya dan pintar saja. Lalu, mereka yang miskin dan tidak mampu mengenyam pendidikan yang tinggi cukup dikirim ke luar negeri, sebagai TKW yang setiap saat terkena ancaman hukuman pancung yang mematikan.
Tentu, kita berharap agar para pemimpin negeri ini tidak lagi cukup berbangga diri dengan selalu memaparkan indikator keberhasilan ekonomi makro semata. Bahwa stabilitas moneter terus terjaga dengan stabilnya mata uang rupiah, bahkan kini masih cenderung menguat di angka 8.500-an per dolar Amerika Serikat. Bahwa indeks bursa saham di BEI yang terus mengalami kenaikan hingga menembus angka 3.800 -an.  Bahwa klaim angka pengangguran dan kemiskinan terus menurun hingga dibawah angka 10 %, berdasarkan data statistik BPS yang terakhir. Bahwa pertumbuhan ekonomi terus positif, mencapai angka di atas 5 %, juga di atas asumsi APBN, serta angka inflasi yang masih bisa terkendali di sekitar angka 5,3 %.
Lantas, untuk siapakah sebenarnya angka-angka itu dapat berguna dan berarti ? Jelas, bagi pemerintah sendiri yang dapat digunakan sebagai alat pembenar atas keberhasilannya sebagai penguasa di negeri ini. Mungkin, angka-angka itu pun berguna bagi kalangan pengusaha besar, para pemilik modal, investor atau pemain saham dan para pedagang valuta asing. Jelas pula, bahwa rakyat kecil yang kebanyakan miskin dan kurang berpendidikan, sama sekali tidak mengerti dan tidak berguna dan tidak berarti apa-apa atas semua angka-angka tersebut.
Rakyat kecil, seperti keluarga Ruyati, TKW yang Sabtu pagi yang lalu harus meregang nyawa dengan kepala terpisah dari badannya akibat alat pancung di negeri Arab Saudi, jelas tidak akan mengerti atas semua angka-angka itu. Mereka hanya mengerti jika kaum perempuan mereka tidak harus bekerja di negeri orang yang jauh dari sanak keluarganya, bahkan harus dengan cara menyabung nyawa sekalipun. Bagi mereka, pekerjaan yang layak di negeri ini tidaklah cukup tersedia. Bagi mereka, pendidikan yang bermutu dan terjangkau oleh anak-anaknya sebagai bekal pancing di masa depan di negeri ini pun tidak cukup tersedia.
Tampaknya, kejadian pancung Ruyati, dan puluhan lagi TKW lain yang masih menunggu giliran menuju hukuman pancung di Arab Saudi sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Bahwa pemerintah kita masih gagal dalam menyediakan pekerjaan yang layak bagi rakyatnya, terutama bagi rakyat miskin yang tidak cukup berpendidikan memadai. Bahwa pemerintah kita masih gagal dalam menyediakan pendidikan yang bermutu dan terjangkau, terutama bagi keluarga miskin dan tidak berpendidikan yang memadai agar anak-anaknya memiliki bekal untuk dapat mengubah masa depannya kelak menjadi lebih baik.
Celakanya lagi, toh ketika pemerintah gagal dalam menyediakan lapangan kerja yang layak dan pendidikan yang bermutu bagi rakyat miskin itu, ternyata masih gagal pula dalam melindungi warganya dari ancaman hukuman pancung di negeri orang. Bukankah, negara berkewajiban untuk melindungi setiap warga negaranya di manapun berada ? Pun, berlaku bagi mereka yang biasa kita sebut sebagai pahlawan devisa. Lantas, apalagi yang hendak kita katakan pada para pemimpin negeri ini ?
Hei, Pak SBY, Pak Boediono, para menteri, dan para staf pembantu lainnya di pemerintahan republik ini ! Cukuplah kalian bersilat lidah atau sekedar bermain tebar pesona. Bekerjalah lebih keras, jujur dan bersungguh-sungguh untuk kepentingan rakyatmu, terutama rakyat miskin yang kurang berpendidikan itu. Agar mereka tidak lagi harus mengadu jauh-jauh ke negeri orang dengan segala resiko yang mematikan. Agar tidak lagi ada kepiluan yang menyayat hati bagi keluarga yang ditinggalkan, dan tidak lagi menyulut kepedihan yang mendalam bagi anak bangsa ini yang masih punya hati nurani.
Saya sangat prihatin dan turut bersedih yang sedalam-dalamnya. ***
Bagaimana dengan pendapat Anda ?
Demikian, terima kasih
Salam Persahabatan
Srie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar