Selasa, 07 Juni 2011

SBY, Antara Motif Amanah Rakyat dan Melanggengkan Kekuasaan


Oleh Srie
Adalah bisa dimengerti, ketika pada periode pertama menjadi presiden, SBY begitu bersemangat untuk menjadikan dirinya populer di hadapan rakyatnya. Tentu saja, karena ia berharap akan terpilih kembali pada periode kedua. Nah, jika kesempatan untuk jabatan yang ketiga kalinya sudah tertutup, lantas atas dasar motivasi apakah kira-kira SBY akan tampil habis-habisan di periode kedua, yang masih tersisa 3 tahun itu ?
Motif ingin dikatakan berhasil dalam mengemban amanah rakyat, merupakan motif ideal dari seorang presiden. Dengan motif ini, mungkin SBY berharap akan dikenang oleh rakyatnya sebagai presiden RI yang berhasil dan dicatat dalam bagian tinta emas sejarah republik ini. Bukan saja ingin dicatat sebagai presiden RI pertama yang dua kali dipilih secara langsung oleh rakyatnya. Namun, juga presiden RI yang sangat concern atas demokrasi, penegakkan hukum, pemberantasan korupsi, pengembangan ekonomi nasional, pergaulan Indonesia di forum internasional, dan berhasil dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Motif ingin melanggengkan kekuasaan adalah motif lain yang amat mungkin terjadi. Meski motif ini teramat subjektif dan sarat dengan kepentingan pribadi atau kelompok, namun amat mungkin justru motif pragmatis inilah yang akhirnya amat dominan dan berpengaruh. Sudah tentu, upaya pelanggengan kekuasaan adalah dengan cara menempatkan orang per orang yang dianggap akan mampu meneruskan pengaruh kekuasaannya. Posisi jabatan yang akan dijadikan sasaran merupakan kombinasi dari sejumlah pilihan, antara lain  Presiden, Wakil Presiden, Menteri, atau jabatan lain yang dianggap punya bobot politik signifikan atas upaya pelanggengan kekuasaan.
Sekurangnya, tiga pilihan kelompok orang sebagai penerus kekuasaan SBY akan tersedia. Yaitu, (1) kerabat dekat, (2) kelompok Partai Demokrat dan (3) kelompok yang dianggap para sahabat.  Untuk kelompok yang pertama, antara lain adalah Ani Yudhoyono, Edhie Baskoro, Agus Harimurti, dan Edi Pramono Wibowo. Kelompok kedua, antara lain adalah Anas Urbaningrum, Marzuki Alie, Andi Mallarangeng. Sedangkan kelompok ketiga, bisa jadi antara lain adalah Hatta Rajasa (yang telah berubah menjadi kerabat dekat), Joko Suyanto, Sri Mulyani, dan Aburizal Bakrie. Tentu saja, sejumlah nama di atas hanya bersifat tentatif, amat mungkin kemudian menjadi tercoret atau ada nama lain yang masuk sebagai pilihan alternatif.
Motif melanggengkan kekuasaan, dalam tataran praktis politik kepentingan, juga dapat dipahami sebagai upaya untuk menyelamatkan rezim lama dari ancaman tindakan hukum, terutama bila yang berkuasa adalah lawan politiknya. Jika, suatu rezim cukup banyak borok atau praktek curang yang pernah dilakukan selama berkuasa, maka motif ini akan menjadi kian menonjol sebagai motif yang sesungguhnya dominan dan amat berpengaruh atas diri presiden selama periode kedua berkuasa. Pilihan yang paling rasional bagi rezim yang korup, adalah bagaimana memilih pengganti yang dapat menutupi bau busuk yang selama ini disimpan atau dipetieskan.
Lantas, dari ketiga kelompok itu, bagaimana kira-kira peluangnya untuk dapat melanggengkan kekuasaan ?  Tentu saja, amat tergantung dari perkembangan terakhir saat menjelang Pemilu 2014, terutama lebih dilihat dari segi popularitas dan elektabilitas. Nama Ani Yodhoyono sudah populer, namun masih menunggu rasionalisasi yang kuat sehingga akan mengalahkan kerikuhan adanya stigma politik dinasti dan masih berharap adanya kecenderungan yang positif atas kepemimpinan SBY sendiri di periode kedua jabatannya. Nama ini sangat diminati oleh para politisi Partai Demokrat yang menjadi anggota Dewan, yang selalu berharap “berkah” dari SBY agar masih mau all out untuk mendongkrak suara pada Pemilu legislatif.
Nama Edhi Baskoro atau Agus Harimurti, mungkin perlu disimpan dulu, karena sesungguhnya inilah pangeran yang sedang dipingit oleh SBY. Periode 2014-2019 amat mungkin dijadikan sebagai proses magang sesungguhnya, sekaligus sebagai batu loncatan untuk tampil pada masanya, di usia yang dapat dikatakan telah siap dan cukup matang secara politik. Sedangkan nama Edi Pramono Wibowo, amat mungkin akan diarahkan sebagai “mahapatih” yang akan mengawal sang pangeran naik tahta pada periode berikutnya.
Nama Anas Urbaningrum, jelas amat potensial sebagai penerus kekuasaan di kalangan Partai Demokrat. Masalahnya, di samping saat ini masih tersandung kasus Nazarudin dan Andi Nurpati, tampilnya Anas boleh jadi akan mengganggu keberlangsungan “trah” SBY, plus para pendukung fanatiknya. Anas masih harus berjuang keras agar namanya mungkin tampil di 2014, dengan cara membersihkan dirinya dari kasus para sahabatnya, serta dari faksi lain di dalam partainya sendiri.  Nama Marzuki Alie atau Andi Mallarangeng, berada pada posisi yang tidak bebas, namun amat ditentukan dari perkembangan pilihan atas kelompok pertama, dan kans atas Anas sendiri.
Sementara itu, nama Hatta Rajasa adalah sangat unik, karena merupakan irisan dari kelompok pertama, sekaligus kelompok ketiga. Masalah yang menghadang, hanya lebih pada posisi partainya (PAN) yang masih perlu pembuktian, akankan masih bisa bertahan dalam jajaran partai yang memperoleh suara yang cukup signifikan. Nama Sri Mulyani, amat mungkin masuk dalam alternatif pilihan, tergantung atas survey keterpilihan, apakah kasus Bank Century telah dimaafkan oleh sebagian besar rakyat ?
Aburizal Bakrie, masuk sebagai pilihan yang paling pragmatis dalam bentuk koalisi PG-PD, ketika pilihan lain tidak mungkin diambil. Ical, akan disandingkan dengan nama yang ditunjuk oleh SBY untuk mendampinginya, dengan tetap berhitung nama pendamping hanyalah sebagai pengantar sang pangeran naik tahta. Terakhir, nama Joko Suyanto adalah alternatif terburuk, jika semua pilihan tidak memungkinkan. Namun, masih amat tergantung atas “nyali” Menkopolhukam tersebut untuk benar-benar maju, dengan resiko dipermalukan oleh kekalahan. Sebuah sikap yang pernah diambil, tatkala akhirnya Joko memutuskan untuk tidak bersedia tampil dalam bursa Kongres Partai Demokrat setahun lalu di Padalarang, Bandung Barat.  
Di luar nama-nama di atas, juga berbagai kemungkinan yang bisa terjadi, tentu saja masih banyak pilihan lain yang amat tergantung dengan perkembangan politik yang ada hingga 3 tahun mendatang. Termasuk pula, bagaimana tampilnya para penantang dari luar “rezim SBY”, seperti Mahfud MD, misalnya yang kini mulai menguat, atau dari kubu Megawati sendiri. Politik, adalah permainan kekuasaan, bagaimana merebut kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan. Rakyat, meskipun memegang kedaulatan atas negara, pada prakteknya, lebih cenderung menjadi penonton atas permainan mereka. Kecuali, peran rakyat yang  sekedar ikut mencontreng nama-nama yang telah tersedia, atau ada  sebagian dari rakyat yang mau ikut ambil bagian dalam hingar-bingarnya kampanye Pemilu. ***
Bagaimana dengan pendapat Anda ? *** [Srie]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar