Senin, 01 Agustus 2011

Berharap Berkah Puasa, Bagi Mereka yang lemah

Oleh Srie
Apa yang dirasakan oleh kita saat menjelang tarawih pertama di bulan puasa ? Ada gairah yang luar biasa, umat Islam tampak berbondong-bondong mendatangi masjid atau mushola. Mereka tidak hanya sendirian, namun biasanya bersama teman, para tetangga atau anggota keluarga.

Tak heran, bila pada tarawih di hari pertama para jamaah terlihat memenuhi banyak shaf, bahkan tak sedikit hingga meluber ke luar bangunan utama masjid atau mushola. Mereka menyambut puasa dengan suka cita, sambil berharap rahmat dan ampunan dari Tuhannya. Sungguh sebuah pemandangan yang luar biasa. Meski, tiap tahun selalu berulang terjadi, namun pemandangan  itu tetaplah berkesan dan memberikan aura positif bagi siapapun yang ikut serta menyaksikannya.
Ada kebersamaan di antara mereka. Ada proses pembelajaran (edukasi) di antara mereka. Ada semangat keberagamaan (religiusitas) yang tinggi dengan menghadirkan Tuhan kembali secara cukup “mencolok” dalam diri mereka. Ada komunitas jama’ah yang berbasis masjid atau mushola.
Lalu, apanya yang belum (banyak) ada ? Adalah menjadikan jama’ah masjid atau mushola sebagai basis perubahan sosial, yang mampu mengembangkan solidaritas yang efektif dalam membantu di antara mereka yang masih lemah dan tertinggal. Jama’ah seharusnya tidak saja merupakan “kerumunan” religius, akan tetapi sebuah kelompok sosial terkecil yang efektif dalam saling membantu dan mengembangkan para anggota jama’ahnya.
Tentu saja tidak mudah. Setidaknya, diperlukan sebuah cara pengelolaan (manajemen) yang lebih baik agar dapat menjadikan masjid atau mushola dapat efektif sebagai bagian dari institusi  perubahan sosial. Masalah kemiskinan dan keterbelakangan dalam pendidikan suatu kelompok masyarakat tertentu seharusnya pun menjadi bagian dari perhatian dan komitmen jama’ah. Prinsipnya adalah sederhana, bagaimana jamaah bisa bersama-sama mengharap berkah puasa, juga bersama-sama dalam memecahkan masalah sosial keseharian yang dihadapinya.  
Dalam konteks lebih luas, hal ini merupakan bagian dari ihtiar dalam memberdayakan anggota masyarakat yang masih lemah dan kurang beruntung melalui kemampuan swadaya masyarakat sendiri. Agar mereka tidak merasa diabaikan oleh sesama saudaranya, agar mereka berkesempatan untuk dapat mengatasi masalahnya secara lebih permanen, bukan temporer, agar dapat berkembang lebih baik. Tentu saja, keterlibatan pemerintah atau pihak lain akan amat membantu dalam menumbuhkembangkan swadaya masyarakat melalui pendekatan jama’ah.
Sudah saatnya, berkah puasa menjangkau hal-hal yang lebih substansial dan berdaya jangkau lebih panjang dengen memberdayakan mereka yang masih lemah dan membutuhkan pertolongan. Puasa, dengan demikian tidak terjebak sekedar ritus tahunan yang kurang berbekas pada kehidupan sosial sehari-hari dalam jangka panjang. Kecuali, hanya meninggalkan kesan lebih entengnya orang bersedekah, atau berbagi zakat fitrah selama di bulan puasa. Ini cuma bersifat temporer, hanya sesaat saja.
Selamat menunaikan ibadah puasa. *** By Srie.
Salam Persahabatan
Srie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar