Jumat, 26 Agustus 2011

Islam, Ajaran Perubahan Sosial


Oleh Srie
Banyak cara untuk memahami Islam. Salah satunya, adalah memahami Islam sebagai sebuah ajaran tentang perubahan sosial. Benarkah? Ya. Karena Islam, pada hakikatnya adalah sebuah ajaran tentang perubahan sosial, yang terangkum dalam kalimat ‘amar ma’ruf, nahiy munkar, wa tu’minuna billah.

Sejak awal kelahirannya, ajaran Islam merupakan reaksi langsung atas realitas sosial yang terjadi dan berkembang saat itu. Pemahaman atas ketuhanan yang esa (ajaran tauhid, monoteisme) direfleksikan secara langsung atas kondisi realitas sosial yang ada.
“Perilaku yang menyimpang dalam masyarakat dianggap sebagai perilaku anti tauhid dan  anti semangat keber-agama-an, atau bahkan dianggap tidak beragama sama sekali”
Hasilnya, adalah koreksi atas berbagai penyimpangan yang terjadi dalam masyarakat. Antara lain, koreksi atas perlakuan yang tidak sama terhadap sesama manusia sebagai akibat sistem perbudakan. Koreksi atas perbedaan yang mencolok terhadap  laki-laki-perempuan, kaya-miskin, terhormat-jelata, keluarga normal-yatim, perempuan bersuami-janda, dan seterusnya. Koreksi atas ketidakpedulian terhadap kaum miskin dan anak yatim.
Islam hadir sebagai ajaran perubahan sosial, agar tidak terjadi lagi perbedaan perlakuan terhadap sesama. Agar tidak ada bedanya mereka yang berkulit gelap dengan berkulit cerah, sehingga perbudakan sesama manusia haruslah dihapuskan. Agar tidak ada lagi diskrimininasi atas kaum perempuan dari kaum laki-laki. Hingga, tidak perlu terjadi lagi bayi-bayi perempuan harus dikubur hidup-hidup, karena dianggap tidak memberi nilai lebih bagi keluarga.
Islam hadir sebagai ajaran perubahan sosial, agar sistem sosial berlaku adil dan berpihak pada kaum yang lemah. Agar tidak ada lagi penelantaran bagi mereka yang miskin dan anak yatim. Agar tidak ada lagi praktek curang dan tipu menipu dalam berdagang atau berbisnis. Agar tidak ada lagi, sistem sosial masyarakat yang menindas kaum yang lemah.
Islam hadir sebagai ajaran perubahan sosial, agar sistem yang terbangun dalam masyarakat (1) berpihak pada pemuliaan nilai-nilai kemanusiaan (amar ma’ruf, humanisasi); (2) mampu mencegah berbagai bentuk penyimpangan sosial apapun yang akan merusak nilai-nilai kemanusiaan (nahi munkar, liberasi); (3) sebagai bagian dari semangat iman atau keber-Tuhan-an (tu’minuna billah, transendensi).
Islam sebagai sebuah ajaran perubahan sosial seharusnya terus tumbuh dan berkembang hidup di masyarakat. Bukankah dalam setiap menjelang sholat Jum’at, khatib selalu mengingatkan jama’ah dalam hal (1) Taqwa, sebagai dasar parameter yang harus dipegang oleh kaum beriman; (2) menegakkan keadilan (adil); (3) mengupayakan kebajikan, perbaikan, pembangunan (ihsan); (4)  memberi sesuatu pada karib kerabat;  (5) melarang berbuat keji (munkar) dan zalim (baghyi).
“Islam sudah seharusnya tidak jatuh pada ajaran ritus semata, yang lebih mementingkan hubungan vertikal secara sempit, dan mengabaikan tugas perubahan sosial di masyarakatnya” 
Ibadah ritual sudah seharusnya dikembalikan pada fungsinya sebagai bagian dari proses edukasi (pembinaan diri) dan transendensi (hubungan langsung dengan Tuhan), tujuannya untuk memperkuat jiwa dan semangat dalam melakukan proses perubahan sosial secara nyata. Kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, ketidakadilan, korupsi, dan lain-lain merupakan realitas sosial saat ini yang harus dikoreksi dan diubah oleh umat Islam.
“Sudah saatnya, tidak ada lagi mereka yang merasa bangga dengan berhaji berkali-kali, sementara tetangga di sekitarnya tidak bisa makan berulang kali, apalagi dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi”
Bagaimana dengan pendapat Anda? *** [By Srie]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar